81 Tahun Yang Lalu Merdeka
Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Sarwat
Problem terbesar kita sekarang ini bukan lagi kemerdekaan. Sebab itu problem Mbah buyut kita di masa masa penjajahan dulu.
Sekarang ini kemerdekaan sudah terjadi, sudah lama bahkan, sudah 81 tahun yang lalu.
Hanya sedikit diantara kita yang mengalami langsung proses pembacaan naskah proklamasi di tahun 1945 itu. Kita ini belum pada lahir.
Kalau pun sudah lahir, mungkin saat itu masih kecil. Belum paham apapun juga. Eyang Kakung yang sudah 86 tahun usianya sekarang, tapi ketika itu beliau baru 5 tahun. Masih anak ingusan.
Sisanya kita-kita ini sama sekali tidak mengalami proses kemerdekaan. Ketika kita lahir, Indonesia sudah merayakan kemerdekaan yang kesekian kalinya.
Jadi kalau hari ini kita bicara tentang kemerdekaan, pastinya sudah bukan urusan kita. Mungkin kita lagi buka buku sejarah zaman dahulu kala, zamannya orang tua kakek kita.
Jangan-jangan itulah sebabnya perayaan kemerdekaan yang kita lakukan kurang nyambung dengan tema besar utama kemerdekaan.
Coba dipikir-pikir lagi. Apa hubungannya kemerdekaan dengan lomba macam balap karung, tarik tambang, panjat pinang, makan kerupuk?
Apakah dahulu Bung Karno dan Bung Hatta serta seluruh anggota BPUPKI pada ikut panjat pinang setelah baca naskah proklamasi? Pastinya tidak lah.
Jadi semua acara lomba itu sekedar pesta rakyat saja, acara lucu-lucuan plus seru-seruan. Kalau kata teman saya, itu bid’ah karena tidak dicontohkan oleh para pendiri bangsa. Haha…
Sebagian yang hobi main baris berbaris pastinya bikin upacara bendera. Pokok intinya bagaimana menaikkan bendera pelan-pelan biar pas selesai dinyanyikan lagu Indonesia raya, bendera tepat sampai atas tiang.
Oh ya, satu lagi, yang penting jangan sampai benderanya terbalik. Bisa gawat itu, jadi Polandia nanti. Lain negara tuh.
Adapun urusan perjuangan kemerdekaan, wah gelap. Itu urusan anak fakultas sejarah, jangan bawa-bawa kita.
Jadi yang seriusnya, kita harus bagaimana dengan kemerdekaan ini?
Nah ini jawaban serius juga. Justru ketika kemerdekaan itu mulai didapat oleh berbagai negara di dunia, masalahnya baru dimulai.
Intinya kebanyakan pada tidak siap untuk jadi sebuah negara. Kalau pun berdiri, posisinya jadi negara miskin yang hidupnya susah payah dan nafasnya Senin Kamis.
Mari kita ambil contoh negara tercinta kita Indonesia. Potensi kekayaan alamnya memang luar biasa, bahkan VOC bisa menjadi perusahaan dagang internasional terkaya dan terbesar di zamannya, yang bisa membuat negeri mereka Belanda, menjadi negeri yang sangat kaya.
Tapi jangan salah, VOC itu bukan bawa emas dari negeri kita. Mereka menggarap lahan, sawah, perkebunan, bahkan untuk itu semua mereka terpaksa juga harus bikin saluran air dan bendungan. Jangan lupa mereka juga bangun rel kereta api yang menyeluruh, setidaknya di seantero pulau Jawa.
Pastinya mereka juga membangun jalan dan jembatan. Karena semua infrastruktur itu syarat mutlak untuk bisa membawa hasil bumi.
Nah begitu kita merdeka dan Belandanya pergi, semua syarat mutlak itu kita abaikan. Kita tidak menggarap sawah ladang, kita kubur jalan kereta api, kita juga tidak membangun bendungan dan saluran irigasi.
Bahkan kita juga tidak tahu bagaimana cara menjual barang-barang kita ke pasar internasional.
Bukan karena tidak pintar berdagang, tapi apa yang mau kita jual? Kita nggak punya apa-apa kok.
Kita salah paham dengan lirik lagu Koes plus: Bukan lautan hanya kolam susu, ikan dan udang menghampiri dirimu. Kita terpedaya dengan liriknya yang mengatakan bahwa tanah kita tanah surga, tongkat dan batu jadi tanaman.
Padahal semua itu hanya ilusi. Belanda bukan cuma menjajah tapi dia berdagang dan dia berkebun. Dia melakukan berbagai macam usaha agar bisa tanah ini menghasilkan sesuatu yang bisa dijual ke pasar internasional.
Belanda penuhi semua syarat dan ketentuannya agar bisa berdagang dan mendapatkan untung.
Belanda tidak menyanyikan lagu Koes plus, yang duduk uncang-uncang kaki, lalu tiba-tiba duit ngumpul sendiri. Tiba-tiba merasa semua tanah yang diinjak jadi emas.
Belanda itu ke sini bekerja dan membangun, bukan cuman pelesiran dan jalan-jalan. Begitu kita merdeka dan Belanda pergi, kita jadi bingung. Kok kita nggak punya duit ya?
Ya iyalah orang tiap hari kerjaannya cuma lomba tarik tambang kok, bagaimana bisa punya duit?






