5 Nyawa Melayang dan Tanggung Jawab Presiden

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (kepala negara) yang memimpin manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhari no. 7138 & Muslim no. 1829)

Sesungguhnya sebagai seorang pemimpin, para sahabat-sahabat nabi dapat menjadi contoh bagaimana kepedulian mereka serta tanggung jawabnya dalam memikirkan rakyat yang berada di bawah kepemimpinan mereka.

Sebagaimana Khalifah Umar bin Khaththab yang memikirkan tanggung jawab yang akan diterima dirinya di akhirat kelak jika seekor hewan saja terjatuh karena jalanan yang rusak.

Ketika menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khaththab suatu kali pernah bertutur, “Seandainya seekor keledai terperosok ke sungai di kota Baghdad, niscaya Umar akan dimintai pertanggungjawabannya dan ditanya, ‘Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya?’.”

Jika hewan yang terjatuh di wilayah kekuasaannya saja, ia pikirkan mengenai pertanggung jawaban insiden tersebut di hadapan Allah kelak, maka kita dapat membayangkan bagaimana kepedulian dirinya terhadap nasib seorang manusia atau nyawa manusia.

Dalam Islam, menjaga nyawa manusia merupakan salah satu hak paling dasar dan tujuan utama syariat (Maqashid Syariah) yang dikenal dengan Hifdzun Nafs. Setiap nyawa sangat berharga, dan Islam melindungi hak hidup setiap individu tanpa terkecuali.

Dalam Islam, menjaga nyawa manusia sangatlah fundamental karena nyawa adalah anugerah suci dari Allah SWT. Menyelamatkan satu nyawa dinilai setara dengan menyelamatkan seluruh umat manusia, sementara menghilangkan nyawa tanpa hak adalah dosa besar yang mendatangkan murka Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *