Wahyu dan Kenabian

Oleh: Tri Feby

Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta kembali menyelenggarakan kegiatan rutin pekan ke-8 untuk Angkatan 15 dengan mengangkat tema “Wahyu dan Kenabian”.

Dalam kelas ini, peserta diajak belajar bukan hanya pada tataran teori, tetapi juga melalui metode pembelajaran yang bersifat filosofis dengan berfokus pada pertanyaan mengapa kita belajar dan bagaimana memahami konsep wahyu serta kenabian. Materi dengan metode dialektika tersebut disampaikan oleh dosen SPI, Muhammad Fadhila Azka, S.Th.I., M.Ag., di Aula INSISTS, Kalibata, Rabu malam (28/10/2026).

Meskipun kelas dimulai lebih lambat dari biasanya, hal tersebut tidak mengurangi antusiasme peserta maupun bobot materi yang disampaikan. Salah satu tujuan kelas adalah mempelajari Ilmu Kalam secara lebih filosofis. Dalam prosesnya, peserta diajak menyelami konsep wahyu, nabi, hakikat ilmu, serta bahasa agama.

Sebagai penyulut diskusi, Muhammad Fadhila Azka melontarkan sejumlah pertanyaan yang acap kali diajukan oleh orientalis, seperti, “Apakah Al-Qur’an dibuat oleh Nabi Muhammad atau benar-benar berasal dari Tuhan?” Ia juga mengangkat pernyataan Sir William Muir, seorang orientalis asal Skotlandia, yang menuduh bahwa wahyu yang diterima Nabi Muhammad hanyalah hasil halusinasi atau imajinasi kreatif akibat kondisi gangguan mental yang dialaminya.

Menanggapi hal tersebut, Pimpinan Pesantren Naqlul Quran Lit Tahfidz wa At Ta’dib itu menjelaskan secara sederhana bahwa terdapat tiga komponen dalam wahyu, yaitu pemberi wahyu, penerima wahyu, dan wahyu itu sendiri. Melalui kerangka tersebut, anggapan bahwa Nabi Muhammad mengalami halusinasi dapat ditelaah kembali.

Tidak hanya itu, Muhammad Fadhila Azka juga memperkuat pemahaman bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan semata-mata dalam bentuk teks, tetapi sebagai bacaan (qira’ah/recitation), dalam arti ucapan atau sesuatu yang dibacakan. Ia juga menekankan bahwa keimanan dapat diperkuat dengan memahami bahwa bukan manusia yang menilai Al-Qur’an, melainkan Al-Qur’an yang menilai manusia, karena Al-Qur’an mencerminkan realitas manusia dan keberadaannya tidak bergantung pada logika eksternal.

Izzah, salah seorang peserta SPI Jakarta Angkatan 15, menyampaikan pandangannya setelah mengikuti kelas tersebut.

“Sebenernya secara cara pandang masih sama ya kak, cuma jadi lebih dalam lagi penjelasannya terkait otentisitas wahyu dan otoritas Rasulullah. Sempet juga dijelasin pembagian tipe ilmu menurut Imam Al-Ghazali. Ini yang baru banget buat aku,” ujar Izzah.

Pernyataan tersebut selaras dengan materi yang disampaikan malam itu, khususnya mengenai pentingnya memahami hakikat ilmu sebagai salah satu landasan dalam memahami wahyu dan kenabian.

Hakikat ilmu menjadi bagian penting dalam memahami konsep wahyu dan kenabian. Dalam pemaparan Muhammad Fadhila Azka, Imam Al-Ghazali menempatkan Ilmu Kalam sebagai Ilmu Universal (al-‘ilm al-kulli) yang berfungsi membuktikan kebenaran dasar agama. Sementara itu, ilmu-ilmu agama lainnya, seperti Tafsir, Hadis, Fikih, dan Ilmu Batin atau Tasawuf, merupakan Ilmu Partikular (al-‘ilm al-juz’i) yang cabang kajiannya berpijak pada fondasi Ilmu Universal tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. 🎥 Video pendek (Faedah harian)
    📖 Wawasan keislaman
    💡 Tips kesehatan
    🔬 Sains: Keajaiban Ciptaan Allah
    🤲 Kisah mualaf yang menginspirasi
    ✨ Quote motivasi islami
    📝 Artikel keislaman
    📰 Kabar dunia Islam

    InsyaAllah, konten disajikan secara rutin dengan mengutamakan manfaat dan sumber yang terpercaya.

    📲 Tafadhdholu follow channel kami:
    http://islami.top/wa

    بارك الله فيكم