Akmal Sjafril: Tauhid adalah Konsep Ketuhanan yang Superior

Akmal Sjafril mengemukakan konsep-konsep ketuhanan dalam agama selain Islam pada kelas Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta angkatan ke-15 yang berlangsung di Aula INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), Jakarta Selatan.

Konsep-konsep ketuhanan ini disampaikan sebagai materi pada kelas kelima SPI, Rabu, 7 Oktober 2026.

“Malam ini kita akan membahas konsep tuhan di agama lain. Kesimpulannya, insyaallah, bahwa tauhid adalah konsep yang superior,” ujar Akmal membuka pembahasan.

Sebelumnya, Akmal terlebih dahulu membuka materi dengan menjelaskan konsep ketuhanan dalam Islam yang disebut Tauhidullah. Menurut penjelasannya, konsep tauhid dalam Islam kerap disalahartikan sebagai konsep ketuhanan monoteisme yang dapat digunakan untuk keyakinan agama lain juga. Padahal, konsep Tuhan yang satu dalam kata tauhid hanya merujuk pada Allah, yaitu Tauhidullah.

“Memang Tauhid itu secara harfiah artinya satu, menyatukan atau mengesakan, tapi kalau kita bicara Tauhid itu artinya Tauhidullah,” ujar Akmal.

“Tauhid itu bukan hanya monoteisme, Tuhannya satu tapi satu itu adalah Allah, bukan yang lain,” tambahnya.

Akmal kemudian kembali menjelaskan bahwa worldview seseorang sangat dipengaruhi oleh konsep ketuhanan yang diyakininya, “Itulah pengaruhnya worldview, paling utama itu konsep ketuhanan,” ujarnya.

Lulusan S-3 Ilmu Sejarah UI tersebut kemudian menceritakan sejarah Yunani yang dikenal dengan konsep ketuhanannya yang melibatkan dewa-dewa, salah satunya yaitu Zeus. Menurut Akmal, konsep ketuhanan tersebut turut membentuk watak masyarakat Yunani yang keras dan bengis.

“Kepercayaan (orang Athena) pada Zeus itu efeknya karena Tuhan mereka seperti itu. Tuhannya bengis, maka wajarlah manusianya begitu. Kelakuannya kayak gitu karena konsep ketuhanan mereka seperti itu,” ujar Akmal ketika menanggapi ungkapan yang dikenal dari Melian Dialogue karya Thucydides, ‘The strong do what they can and the weak suffer what they must.’

Menurut Akmal, kondisi tersebut kemudian menimbulkan keresahan mengenai kebenaran dan moral di kalangan para filsuf Yunani yang dituangkan dalam pemikiran filsafat.

“Jika Anda membaca sejarah filsafat, filsuf Yunani itu mulai mempertanyakan kebenaran gara-gara mereka merasa agama mereka tidak make sense,” ujar Akmal.

Akmal menegaskan: dorongan untuk mempertanyakan segala hal, terutama mengenai ketuhanan, tidak selalu bersumber pada sikap kritis, melainkan dapat timbul dari situasi krisis yang dialami. Menurutnya, konsep ketuhanan dalam Islam tidak mendatangkan situasi krisis bagi umatnya karena penggambaran Allah sebagai Tuhan yang mulia dan agung.

“Orang Islam dikasih tahu haqqun birobbikum, yang benar itu dari Tuhan kamu, langsung lempeng (diam). Karena kita melihat Allah tidak seperti mereka melihat Zeus. Itu alasan orang Yunani berfilsafat,” jelas Akmal.

Selain itu, Akmal juga menambahkan penjelasan mengenai konsep-konsep ketuhanan yang lain, seperti konsep Trinitas, penyaliban Yesus, sistem kasta, dan buah pengetahuan sebagai pembanding dengan konsep ketuhanan Tauhidullah. Salah satu perbedaan paling jelas terletak pada pandangan agama-agama tersebut dalam melihat ilmu.

“Dalam agama Kristen dan Yahudi itu mereka memiliki pandangan ambigu soal pengetahuan. Di satu sisi manusia ingin pengetahuan, di sisi lain takut kalau terlalu banyak tahu akan dibenci sama Tuhan. Orang Islam perlu memiliki dilema yang sama? Allah tidak akan tersinggung jika kita jadi pintar,” jelas Akmal.

Padangan tersebut mendapatkan perhatian dari Zakia, salah satu peserta SPI dari Bogor. Menurutnya, perbedaan konsep ketuhanan antara Islam dan agama lain salah satunya terlihat dari cara masing-masing agama memandang sifat Tuhan dan hubungan-Nya dengan manusia.

“Dalam Islam, Allah adalah satu-satunya Tuhan dan tidak ada sesuatu pun yang sekufu dengan-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Ikhlas. Semakin kita mengenal ilmu, seharusnya semakin kita mengenal Allah karena pengenalan terhadap-Nya didasarkan pada wahyu, bukan spekulasi manusia. Sementara dalam beberapa konsep ketuhanan di luar Tauhid, semakin berkembangnya ilmu atau kemampuan manusia justru dapat dipandang sebagai ancaman bagi Tuhan,” jelas Zakia.

Pada sesi akhir, Akmal kembali menegaskan keyakinannya bahwa konsep ketuhanan Islam merupakan konsep yang benar.

“Orang yang sudah jenuh dengan kejahilan, jika disentil dikit dengan kebenaran, justru akan tersentuh. Pertanyaannya, apakah mereka follow up? Tidak ada manusia yang tidak dapat hidayah, semua dipanggil oleh Allah,” tandasnya.

(Oleh: Erika Fardila)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *