Wido Supraha mengantarkan Murid SPI Jakarta Memahami Konsep Ad-Din

Oleh: Ina Fitriana (Absen 15-025)

Wido Supraha mengemukakan Konsep Diin pada kelas Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta angkatan ke-15 yang berlangsung di Aula INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), yang berlokasi di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu (14/10/2026). Dalam memulai kelas, Wido mengajak siswa untuk mengkaji ad-din dengan hati yang jernih dan penuh ketundukan kepada Allah.

“Ke warung kopi membeli roti, kopinya asin, gula dimana? Mari mengaji sepenuh hati, agar hidup makin bermakna,” ujar Wido membuka kelas dengan pantun penuh antusias.

“Hidup tidak akan bermakna jika tidak paham konsep agama,” tambahnya.

Sebelumnya, Wido terlebih dahulu membuka kelas dengan sebuah analogi kopi. Kopi dengan aroma yang mengundang. Kehangatannya menenangkan. Tapi kenikmatannya baru kita rasakan ketika kita benar-benar meminumnya. Begitu pula ilmu, jangan puas hanya mendengar istilah, selami maknanya, renungkan hakikatnya dan rasakan pengaruhnya dalam kehidupan.

“Hari ini kita akan menyelami sebuah kata yang luar biasa, yaitu Ad-Din,” ujar Wido membuka pembahasan.

Wido kemudian mennjelaskan bahwa kata Ad-Din akan membawa kita pada sebuah kesadaran bahwa kita adalah manusia yang punya keberhutangan kepada Allah. Konsep Ad-diin tidak sebatas kita samakan dengan istilah a-gama (tidak kacau) dan religion (kepercayaan privat yang tidak menyentuh dimensi muamalah manusia). Tapi konsep Ad-din memiliki 4 makna utama yang pemaknaannya harus dibaca menggunakan bahasa arab dan harus dibaca dengan pemaknaan kita pada al-qur’an.

Dosen Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun tersebut kemudian memaparkan 4 makna utama Ad-Din, diantaranya: Indebtedness (keberhutangan), submisiveness (ketundukan), judicial power (otoritas hukum) dan natural inclination/natural state of being (kecenderungan alamiah). Dari ke empat makna ini nantinya akan mendorong tamaddun (peradaban).

Menurut Wido, dalam makna indebtedness (keberhutangan), manusia tidak tidak memiliki dirinya secara mutlak, manusia berhutang penciptaan kepada Allah. Manusia berhutang atas eksistensinya di muka bumi. Maka, implikasi dari indebtidness tersebut adalah mengembalikan pemberian Allah dengan penghambaan.

Pembahasan dilanjutkan dengan makna ad-din yang kedua, yaitu submisiveness (ketundukan). “Ketundukan yang benar adalah dengan amal batin (iman), amal lahir (islam) dan amal lahir dan batin (ihsan),” tegasnya.

Makna ad-din ketiga yaitu judicial power (otoritas hukum). Dalam membahas judicial power, Wido menegaskan bahwa hidup bukan perjalanan tanpa pertanggungjawaban Seluruh yang kita ketahui, yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban. Begitulah konsep judicial power dalam ad-din.

Konsep Ad-Din terakhir yaitu natural inclination atau natural state of being yaitu kecenderungan alamiah/fitrah.

Ayah anak 4 tersebut mengungkapkan bahwa Fitrah bukan sekedar potensi, tapi arah dasar penciptaan yang menuntun manusia kembali pada kebenaran dan mendorong pembentukan tamaddun (peradaban).

Pandangan tersebut mendapatkan perhatian Fulan, siswa SPI 15 yang berasal dari Pejaten. Menurutnya tamaddun ini bagus sekali, dimana kita bisa melihat konsep civilitation atau peradaban dan apa saja referensi yang perlu kita baca untuk membentuk suatu peradaban.

Wido menjawab bahwa untuk menguatkan referensi dalam konsep tamaddun kita perlu membaca muqodimah yang ditulis ibn khaldun dan adabud-dun ya wa ad-din, karya mawardi.

Pada sesi akhir, Wido menegaskan kembali bahwa sebagai muslim kita perlu mulai menjadi pendorong peradaban, seperti yang dicontohkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam di kota Madinah yang menjalankan visi, misi, target dan program yang jelas yaitu membangun peradaban (civilization) di kota yang terang benderang (al Munawaroh).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *