SWASEMBADA PANGAN TAPI RAKYAT KELAPARAN

TANGGAPAN UNTUK MENTAN

✍🏻Ahmad Arif

Kenapa Mentan nggak nyebut impor gandum yang lebih 12 juta ton per tahun? yang saat ini sudah menjadi 25% komponen karbohidrat orang Indonesia?

Lebih dari soal narasi swasembada pangan yang merupakan komoditi politik sejak Orba, sebenarnya yang lebih penting adalah pemenuhan pangan yang sehat dan adil untuk segenap masyarakat. Dan bagaimana pangan itu diproduksi. Apakah produksinya regeneratif, yang artinya tidak menghancurkan ekologi, rendah energi dan emisi?

Negara bisa saja surplus pangan, tapi nyatanya rakyatnya tetap lapar. Ini yang oleh Food and Agriculture Organization (Organisasi Pangan dan Pertanian PBB) disebut sebagai masalah akses pangan.

Contoh klasik, India surplus beras, tapi angka stunting dan malnutrisi masih tinggi. Bukankah situasi Indonesia juga begitu, bahkan lebih parah.

Banyak negara maju juga tak mengejar mimpi swasembada pangan, tapi lebih fokus pada akses dan kualitas pangan masyarakat.

Swasembada pangan adalah narasi yang terlalu sempit jika berdiri sendiri. Apalagi, jika upaya untuk meraihnya dilakukan dengan menghancurkan ekologi dan budaya lokal. Berapa biaya tersembunyi dari hancurnya hutan dan dusun sagu di Papua, gambut Kalimantan untuk proyek-proyek cetak sawah yang produktivitasnya jauh lebih rendah dibandingkan sawah-sawah di Jawa yang dikonversi itu? Mengapa tidak menghargai pemenuhan pangan dengan ‘pangan lokal’ (non-beras) yang sudah berlangsung ribuan tahun?

Jadi, yang lebih dibutuhkan justru:

  • Siapa saja yang bisa mengakses pangan
  • Bagaimana pangan itu diproduksi, dan
  • Seberapa beragam sistem pangan lokal kita.

Dalam banyak kasus, sistem pangan yang adil, beragam, dan ekologis justru lebih tangguh dibanding sistem yang sekadar mengejar swasembada angka produksi, yang itu pun belum tentu berkelanjutan.

Beras kita saat ini mungkin tercukupi kalau konsumsi per kapitanya terus turun digantikan gandum, dan hutan terus dibabat untuk cetak sawah.

Tapi, saat El Nino menguat dan iklim terus memanas, jangan kaget kalau kita bakal kembali impor beras.

Kalau impor gandum sih bakal terus meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar