Menurut sebuah studi Universitas Stanford, sejak Mohamed Salah bergabung dengan Liverpool, kejahatan kebencian di daerah tersebut menurun sebesar 19% dan komentar anti-Muslim daring telah turun sebesar 50%. Mo Salah memberi dampak di dalam dan di luar lapangan.
Benar, studi dari Universitas Stanford yang diterbitkan sekitar tahun 2019/2020 mengonfirmasi bahwa kehadiran Mohamed Salah di Liverpool FC memberikan dampak sosial yang signifikan di wilayah Merseyside.
Berikut adalah temuan utama dari riset tersebut yang sering disebut sebagai “The Salah Effect”:
- Penurunan Kejahatan Kebencian: Kejahatan kebencian anti-Muslim di wilayah Merseyside menurun sebesar 18,9% (sering dibulatkan menjadi 19%) dibandingkan dengan wilayah serupa lainnya sejak Salah bergabung pada Juni 2017.
- Pengurangan Ujaran Kebencian Online: Komentar anti-Muslim dari pendukung Liverpool di media sosial (khususnya Twitter/X) berkurang sebesar 50% dibandingkan dengan pendukung klub Liga Inggris lainnya.
- Perubahan Persepsi Publik: Identitas Muslim Salah yang sangat menonjol—seperti melakukan sujud setelah mencetak gol—membantu menormalisasi ritual Islam dan menantang stereotip negatif di kalangan penggemar.
- Integrasi Budaya: Popularitasnya bahkan melahirkan lagu pujian dari fans seperti, “If he’s good enough for you, he’s good enough for me. If he scores another few, then I’ll be Muslim too,” yang menunjukkan tingkat penerimaan budaya yang tinggi.
Sumber: STANFORD magazine, TNT Sports Football






