Cobalah lihat bagaimana mayoritas umat Kristen berdoa hari ini. Kedua tangan dilipat, jari-jari saling mengunci, kepala ditundukkan. Pemandangan ini begitu umum sehingga banyak orang mengira beginilah cara para nabi berdoa sejak dahulu kala. Bahkan sebagian mungkin membayangkan bahwa Yesus sendiri berdoa dengan posisi seperti itu.
Namun ketika kita membuka Alkitab, kita menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Semakin jauh kita menelusuri sumber-sumber awal, semakin sulit kita menemukan praktik tersebut. Yang justru kita temukan berulang kali adalah kebiasaan yang berbeda sama sekali: mengangkat tangan ke langit, menadahkannya di hadapan Tuhan, bersujud, atau berlutut.
Pertanyaannya sederhana: jika para nabi tidak melakukannya, jika Yesus tidak melakukannya, dan jika para rasul tidak mengajarkannya, lalu dari mana sebenarnya tradisi melipat tangan itu berasal?
Para Nabi Mengangkat Tangan, Bukan Mengepalkannya
Daud berkata:
“Dengarkanlah suara permohonanku ketika aku mengangkat tanganku ke arah tempat kudus-Mu.” (Mazmur 28:2)
Di tempat lain ia berkata:
“Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu.” (Mazmur 63:4)
Bahkan doa digambarkan sejajar dengan tangan yang terangkat:
“Biarlah doaku adalah bagi-Mu seperti persembahan ukupan, dan tanganku yang terangkat seperti persembahan korban pada waktu petang.” (Mazmur 141:2)
Ratapan juga menyerukan:
“Marilah kita mengangkat hati dan tangan kita kepada Allah di surga.” (Ratapan 3:41)
Salomo, ketika meresmikan Bait Suci, berdiri di hadapan seluruh Israel lalu:
“Menadahkan tangannya ke langit.” (1 Raja-raja 8:22)
Sulit untuk tidak melihat polanya. Berulang kali Alkitab menggambarkan tangan yang terangkat menuju langit.
Lalu Bagaimana dengan Yesus?
Jika memang melipat tangan adalah cara doa yang diwariskan sejak awal, tentu kita berharap menemukan contohnya pada Yesus.
Namun justru di sinilah persoalannya.
Ketika Injil menggambarkan doa Yesus, yang muncul adalah gambaran yang sama dengan tradisi para nabi sebelumnya.
Dalam Yohanes 17:1:
“Yesus menengadah ke langit dan berkata…”
Di Getsemani, Lukas mencatat:
“Ia berlutut dan berdoa.”
Sedangkan Matius menyebut:
“Ia sujud dan berdoa.”
Markus bahkan menggunakan ungkapan yang lebih kuat:
“Ia merebahkan diri ke tanah dan berdoa.”
Sekali lagi, tidak ada tangan yang dilipat. Tidak ada jari yang dikunci. Tidak ada satu ayat pun yang menggambarkan Yesus berdoa dengan posisi yang sekarang dianggap sebagai simbol khas doa Kristen.
Para Rasul Juga Tidak Mengajarkannya
Mungkin seseorang akan berkata, “Baiklah, mungkin Yesus tidak melakukannya, tetapi para rasul mengajarkannya.”
Masalahnya, Perjanjian Baru juga tidak mendukung anggapan tersebut.
Paulus menulis:
“Aku ingin supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci.” (1 Timotius 2:8)
Perhatikan baik-baik.
Ketika Perjanjian Baru memberikan petunjuk eksplisit tentang posisi tubuh dalam berdoa, yang disebut justru tangan yang ditadahkan, bukan tangan yang dilipat.
Jadi Dari Mana Asalnya?
Di sinilah sejarah mulai berbicara.
Menariknya, jejak praktik ini masih terpahat pada dinding-dinding sejarah. Di katakombe-katakombe kuno Roma dan berbagai karya seni Kristen awal, kita dapat melihat Bunda Maria, para santo, serta tokoh-tokoh suci lainnya digambarkan berdiri dengan kedua tangan terbuka mengarah ke langit. Bahkan penggambaran Yesus dalam sejumlah seni Kristen kuno juga sering menampilkan gestur tangan yang terbuka, bukan tangan yang terlipat atau jari-jari yang saling mengunci. Seakan-akan seni Kristen awal menjadi saksi bisu.
Perubahan baru terjadi berabad-abad kemudian.
Sebagaimana penuturan Edward Schillebeeckx dalam The Church with a Human Face Sekitar abad ke-11 dan ke-12, Eropa hidup di bawah sistem feodal. Dalam sistem ini, seorang bawahan yang hendak menyatakan kesetiaan kepada tuannya akan berlutut dan menyatukan kedua tangannya. Sang tuan kemudian menggenggam tangan tersebut sebagai simbol penyerahan diri dan kepatuhan.
Awalnya ini adalah ritual politik.
Namun lambat laun ritual politik berubah menjadi simbol religius.
Gerakan tubuh yang semula digunakan untuk menyatakan ketundukan kepada bangsawan mulai digunakan untuk menyatakan ketundukan kepada Tuhan. Dari sinilah tradisi melipat tangan menyebar luas dalam Kekristenan Barat.
Dengan kata lain, sumber historisnya bukan Palestina abad pertama, melainkan Eropa abad pertengahan.
Bagaimana Tradisi Eropa Ini Sampai ke Indonesia?
Jawabannya sederhana.
Kekristenan yang datang ke Indonesia bukanlah Kekristenan abad pertama, melainkan Kekristenan yang telah melewati perjalanan sejarah lebih dari seribu tahun di Eropa.
Ketika Portugis dan Belanda datang membawa agama Kristen, mereka juga membawa bentuk-bentuk praktik keagamaan yang telah berkembang di lingkungan mereka sendiri.
Maka masyarakat Indonesia menerima agama tersebut dalam bentuk yang sudah bercampur dengan warisan budaya Eropa. Termasuk cara berpakaian pendeta, bentuk bangunan gereja, model liturgi, musik gereja, dan tentu saja cara berdoa.
Mengapa Hal Ini Penting?
Sebagian orang mungkin berkata, “Ini hanya posisi tangan. Mengapa dipersoalkan?”
Benar, ini memang hanya posisi tangan.
Namun justru karena ia hanya posisi tangan, pertanyaannya menjadi lebih menarik.
Jika ”cara beribadah” dapat berubah bahkan dalam perkara yang sangat sederhana dan mudah diamati seperti cara berdoa, maka bagaimana dengan perkara-perkara yang jauh lebih kompleks misalnya syariat
Yesus Sunat, Kristen mengapa tak sunat.
Bunda Maria berhijab, kenapa Kristen tak berhijab
Yesus tak makan babi, Kristen makan babi.
Hingga masalah Aqidah
Apakah Yesus meyakini Trinitas?
Apakah Yesus mengajarkan dosa waris?
Apakah Kekristenan awal meyakini Yesus disalib ?
Apakah kitab suci Injil hari ini sama dengan dahulu.
Jadi hal sesederhana cara doa ini sebenarnya bukan hal sepele karena efeknya domino.
Sebab Apakah kita dapat memastikan, dapat menjamin bahwa hal hal lain dalam Kekristenan hari ini asli seperti yang diajarkan Yesus ?
Dalam urusan doa saja Kristen hari ini penuh gemerlap lampu sorot, bising alunan musiknya, sahutan paduan suara wanita berok pendek, bermakeup menor digereja.
Lebih jauh lagi, ketika kita membuka lembaran Alkitab, kita justru menemukan para nabi beribadah tersungkur, menangis dalam doa, mengangkat tangan ke langit, dan bersujud, pun perempuan-perempuannya saleh, menutup rambutnya dengan hijab bak bunda maria.
Yang satu menghadirkan suasana pertunjukan, yang lain memancarkan ketundukan.
Sulit untuk tidak bertanya: yang mana sebenarnya lebih dekat kepada agama para nabi?
Islam atau Kristen.
(Ngopidiyyah)







untukku agamaku untukmu agamamu aja soalnya kalo sebelah nyinggung kita wah bisa ngamuk kita
ini pencerahan tong…
payah lu