✍🏻Ustadz Muhammad Abduh Negara
Mengapa saat ini, banyak sekali pengamat dan warganet yang memberikan kritik kepada kebijakan pemerintah, seakan tidak ada hari tanpa kritik. Jawabannya, karena parlemen tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Seandainya parlemen menjalankan tugasnya dengan baik, kita sebagai rakyat tidak perlu terlalu banyak bicara.
Dalam konteks negara demokrasi dan trias politica, tugas parlemen adalah mengawasi dan mengkritisi kebijakan pemerintah. Merekalah yang diamanahi rakyat untuk menjaga keseimbangan pemerintahan dan memastikan setiap kebijakan pemerintah sejalan dengan kemaslahatan rakyat banyak.
Sayangnya, sejak periode kedua era Jokowi, hingga hari ini, semua partai yang memiliki anggota di parlemen sudah ‘disuapi’ oleh pemerintah, sehingga suara kritis mereka hampir tak terdengar lagi.
Mari simak penuturan Fahri Hamzah saat masih jadi ‘Singa Parlemen’:
Fahri Hamzah dan Fadli Zon dikenal luas sebagai anggota DPR RI yang banyak memberikan kritik pedas terhadap Presiden RI Joko Widodo.
Sebagai anggota parlemen, keduanya, termasuk juga anggota DPR lainnya, menjalankan fungsi pengawasan terhadap Presiden Joko Widodo selaku eksekutif.
Terkait dengan pengawasan, Fahri Hamzah yang menghadiri sidang Inter Parliamentary Union (IPU) ke 138 di Jenewa, Swiss, menuangkan pandangannya dalam catatan kecil di FP Facebook, Selasa (27/3/2018).
Dalam catatan berjudul ‘Indonesia Bisa Memimpin Peradaban Jika Pemimpinnya Bertenaga’ itu, Fahri Hamzah mengungkapkan sejumlah alasan, mengapa parlemen harus mengawasi eksekutif.
Berikut TribunSolo.com merangkumnya dari FP Fahri Hamzah, Selasa (27/3/2018).
1. Mengawasi institusi yang memiliki power dan senjata
Menurut Fahri Hamzah, parlemen adalah simbol dari supremasi masyarakat sipil yang tidak memiliki power dan senjata.
Sementara, institusi yang diawasinya, kata Fahri Hamzah, adalah institusi yang mempunyai power dan senjata.
2. Mengawasi eksekutif agar tidak totalitarianisme
Parlemen bertugas untuk menjaga roda pemerintahan agar tidak gandrung dengan totalitarisme.
“Selain memperjuangkan perdamaian dan kerjasama antar bangsa, IPU juga memperkuat lembaga perwakilan di seluruh dunia sebagai sumbangan besar demokrasi bagi sistem pemerintahan agar tidak gandrung dengan totalitarianisme sebagai watak dasar kekuasaan,” tulis Fahri Hamzah.
Selaras dengan itu, parlemen, kata Fahri Hamzah, harus berdiri tegak dalam sistem untuk menjaga jalannya pemerintahan agar tetap menaati aturan dan konstitusi.
3. Dunia berada dalam bahaya
Menurut Fahri Hamzah, tanpa parlemen yang kuat dalam melakukan kontrol, maka dunia berada dalam bahaya.
Contoh ekstremnya adalah lahirnya pemimpin dunia seperti Donald Trump.
“Banyak pemimpin aneh di dunia sekarang, mulai yang ekstrem gila, dan bermental otoriter sampai yang ekstrem dangkal dan kosong membuat kekuasaan eksekutif yang bisa membahayakan rakyat suatu negara dan umat manusia umumnya,” tulis Fahri Hamzah.
Sumber: Tribunnews








sekarang kemana suaranya pak? hayooo jd munafik yaaa
Suara ketika belum tercemar uang
Fitnah uang tidak mengenal agama, suku, bangsa, umur, intelektualitas dan kewarasan mental
itu duluuuuu. senang dengan kekritisannya….sekarang ?, ya omon2
fahri yg dulu masih waras 😀😀😀
sekarang muka sama badannya bengkak menikmati kursi jabatan dan mulutnya auto sariawan
tenang kan ada pedeipe, mknya kadrun dukung dan coblos pedeipe dong dan dukung ahok ngoahaha
gak nyambung blok, walaupun aku kemaren pilih ganjar
🤣🤣🤣
sejarah spt hanya berulang..
dulu dgn baju jadul..
skarang dgn baju baru..
☝🏻👇
paling “maksimum” yg bisa dilakukan utk “minimum” krusakan pradaban y sistem yg ga melupakan tuhan (anti_sekulerism)..
☝🏻🤝
Tandem nya Fadly Zonk yang sama² ular.
mana komentar Lu buat jokowi, gibran, prabowo dan teddy hah ? udah kicep ya ndut ? 🧔 jenggot cuma pajangan doang
Mau nyerocos atawa tereak2 sampai berbusa busa tuh bacot Parlemen mustahil bisa menjalankan fungsinys dgn baik. Lha kan kebanyakan anggota nya sudah pada menjual diri alias jadi Lonte. Lewat Koalisi dgn penguasa adalah penyebab anggota dewan jadi bisu , mau kritis ? Bisa dicopot tuh mentri yg ada dikabinet dari partainya , atau di PAW kalau banyak bacot. Kemudian ingat kata Bamsoet , cuma butuh 1T utk menguasai sebuah parpol. Bukan hanya orang perorang yg nyari bandar buat biaya nyaleg , partai pun melacurkan diri. Nah , dari dua faktor ini saja sudah cukup utk membungkam suara kritis jadi bisu !
Ditambah lagi memang masih banyak SDM nya yg terindikasi hanya punya ijasah paket C , selain itu juga tdk clean alias berkasus shg tersandera.