Ekonomi Indonesia sangat bergantung pada bahan baku impor, nilainya mencapai 70%.
Impor ini tersebar pada industri kimia, tekstil, elektronik, minyak dan gas, obat-obatan, bahan pangan hingga kendaraan pribadi.
Hampir sebagian besar semua barang jadi dari sektor industri ini ada di halaman rumah, di dalam laci lemari, kamar, dapur di rumah kita.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mencetak rekor paling lemah terbaru. Per Jumat (15/05) kurs dolar menyentuh Rp17.600.
Masyarakat makin bersiap mengencangkan ikat pinggang karena sejumlah pakar meneropong harga kebutuhan sehari-hari bakal ikut terdampak.
Joko Wiyatno, perajin tahu di Semarang, Jawa Tengah, semakin terimpit.

Dalam tiga bulan terakhir, harga kedelai terus naik. Dari yang semula di kisaran Rp7.000 per kilogram, kini sudah menyentuh rentang harga Rp10.500 per kilogram—untuk jenis kedelai yang paling murah.
Di sisi lain, pembeli di pasar semakin sepi.
“Kalau sekarang mau menaikkan harga, kurang pas juga sih karena daya belinya turun banget,” kata Joko.
Jalan tengahnya, dia memutuskan untuk “mengurangi takaran”.
“Padahal kalau kita kurangi kan otomatis tahunya jadi tipis atau kurang maksimal lah. Ukurannya agak kecil,” ujarnya.
Bagi pria berusia 53 tahun itu, harga kedelai yang menyentuh nilai Rp10.000 per kilogram tergolong tinggi dan sudah bikin “kelabakan”.
Itu harga kedelai, belum harga bahan lainnya seperti plastik dan minyak goreng yang juga mengalami kenaikan. Harga plastik naik 100% dan harga minyak sekitar 25%, menurutnya.
Baca selengkapnya:







ayo asu, eh af, silakan dibantah pakai data kalau memang punya. mosok dari jaman bowo masih menhan narasinya cuma kodran kadrun sama yemn. kasih bantahan yg berbobot lah, dikit jg gapapa daripada bantahan ampas
presiden terburuk, na’udzubillah
Kapoookkk kowe TerMul, Kapoookkk kowe TerWo‼️
Kita saksikan akhir nasib kaum, gerombolan, Ternak dungu, tolol, goblok af, Anonim BabRun dan kawanannya…😂😜🤣😝
bhuahahahaha…huahahahaha…JLEBBB‼️