Buzzer Dulu dan Kini

✍🏻Made Supriatma

Gambar yang pertama adalah semacam ‘talking point’ yang harus dihembuskan oleh para buzzer presiden. Angka-angkanya fantastis. Membuat mereka yang kembang kempis menjalani hidup sehari-hari semakin meringis. Beneran nggak sih?

Yang kedua (dibawah ini) adalah ketika sebelum berkuasa. Tahun 2019. Partainya mengutip Rocky.

Nah, sekarang mereka berkuasa. Adakah kelakuannya berubah dari yang dikritik pada 2019? Ya jelas nggak. Malah lebih buruk.

Saya penikmat informasi yang disampaikan oleh para buzzer. Hanya satu keluhan saya pada rejim ini: buzzer-buzzer mereka sangat turun kualitasnya. Rejim yang kemarin jauh lebih canggih caranya membohongi rakyat Indonesia.

Mereka bisa bikin video-video menarik. Kadang lucu. Kadang menggemaskan. Kadang bikin sedih. Tapi selubungnya ada pesan. Tanpa perlu diomongkan panjang lebar dengan angka-angka fantastis: triliun!

Juga dulu, para buzzer-nya jago-jago. Beberapa berhasil menjadi influencer. Bahkan meraih status selebritis.

Buzzer sekarang tampak seperti pegawai pemerintah Uni Sovyet! Minim kreativitas. Minim inovasi. Gagap dengan teknologi.

Tapi ada satu yang lebih pada rejim sekarang dibandingkan dengan yang kemarin. Yang sekarang, karena saking oon-nya, nggak segan-segan main keras. Maksud saya, nggak segan-segan nyiram air keras. Sudah gitu, ketahuannya sangat cepat. Ketika di pengadilan (yang adalah sandiwara dengan asumsi penontonnya pikirannya sama levelnya dengan mereka), argumennya bolong-bolong dan oon betul!

Tapi orang lebih takut sekarang. Itu jelas. Kapan itu saya ketemu mahasiswa yang mau jadi jurnalis. Saya tanya, bener mau jadi jurnalis? Iya, tapi gimana kalau berita bikin disiram air keras ya? Atau, diculik, ya? Nah! Di bidang ini, rejim satu ini jagoannya.

Tapi memang kekuasaan itu bisa dijalankan lewat tipuan. Bisa juga lewat ancaman kekerasan. Hasilnya sama saja. Mana yang lebih mengawetkan kekuasaan? Menurut Mbah Machiavelli, “lebih baik ditakuti daripada dicintai.”

Di jaman dimana image atau citra bisa membantu orang berkuasa, mungkin asumsi Mbah Machiavelli itu bisa diubah. Penguasa tidak harus menakutkan. Klemar klemer rajin masuk got pun bisa membawa Anda menjadi penguasa. Asal ada kamera, kameraman yang handal yang bisa nyoting dari arah yang baik, serta narasi yang baik.

Itu yang tidak ada sekarang ini. Rejim ini bukannya tidak berusaha untuk mengontrol narasi. Mereka buang duit triliunan untuk itu. Namun hasilnya minim.

Taruh saja MBG. Ribuan posting tentang buruknya MBG tidak bisa ditanggapi. Nanik Deyang, deputi BGN dan mantan nyinyirer di medsos juga pendukung setia Prabowo dari sejak jaman kalahan, saya lihat kemarin marah-marah dan menyalahkan SPPG di bawah atas semua image negatif tentang MBG.

Dia tidak sadar bahwa itu karena orang seperti dia juga yang mendesain MBG ini. Memang lebih gampang nyinyir daripada harus nyonyor jadi penguasa.

Juga Kopdes Merah Putih yang pembangunannya sepenuhnya dikerjakan oleh TNI-AD lewat Kodim-kodim. Ada koperasi yang letaknya hanya seberangan jalan, ada yang di puncak gunung, ada yang pintu depannya menghadap ke kali yang curam. Seperti biasa, kalau komandan-komandan ini ditanya, reaksinya mendelik duluan!

Tapi saya menikmati ini semua. Rejim ini lucu karena tidak kompeten mengurus apapun. Tidak kompeten itu justru bikin dia lucu. Juga karena rejim ini seneng banget dengan yang besuar-besuarrrrr …

Selamatkan kekayaan negara 371 trilyun! Kalau ditanya, duitnya itu disita dari siapa? Jawabnya generik: pengusaha jahat! Kasusnya apa? Menghisap kekayaan negara! Tidak ada detail. Tidak ada proses. Pokoknya ada …

Ekonomi tumbuh 5,61%. Kok Rupiah terpuruk? Jawabnya: krik, krik, krik, krik … IHSG jeblok ke level 6,700? Jawabnya sama: krik, krik, krik, krik …

Pemerintah stop impor beras! Cadangan beras di Bulog 5 juta ton! Tapi kok beras mahal? Sekarang termurah 14 ribu! Kualitas paling jelek. Itu juga tidak bisa dijawab dengan baik. Karena mungkin karena tidak ada jawaban.

Kita akan ekspor beras ke Malaysia, 200 ribu ton. Harga? 10 rebu per kg. Lhah? Rakyat lu beli beras 14 rebu kualitas paling buruk, lu ekspor ke Malaysia harga Rp 10 rebu?

Daftarnya bisa jadi sangat panjang …

Tapi itulah. Rejim ini rai gedek. Tidak peduli. Presiden juga tidak baca apapun selain yang disodorkan oleh Sekretaris Kabinetnya (hallo, Pak Amien!).

Kemarin saya diskusi dengan seorang kawan. Presiden ini kayaknya terisolasi, katanya. Jadi, mereka yang paling berkuasa adalah orang-orang di lingkarannya. Mereka inilah yang sekarang berebut menghisap madu.

Lha presiden apa nggak dapat madu juga? Dapat dong! Dia paling banyak dan terbaik.

Reaksi saya: Emang Ratu Lebah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar

  1. Wahai ANJING² PENJILAT af dan Anonim pendukung garis keras mbah Wowo aNTEK asing Gemoy omon omon dan para TerMul dan TerWo se tanah air. Kalian tak paham dengan realita yg terjadi ya kan⁉️ Ya karena kalian adalah kawanan Ternak yang sengaja dipelihara karena kalian adalah Ternak TAK BERAKAL‼️Ternak yg hanya senang diberi sedikit makanan kemudian kalian jadi beringas mengikuti perintah sesembahan kalian‼️😝😂😜🤣

  2. koperasi merah putih itu program asal-asalan yg penting ada wujud gedungnya, yg penting jadi. soal sustainable atau tidak yo mbuh. salah 1 bukti betapa asal-asalannya program ini ada di lamongan. lagi vital tuh gedung kdmp hadap-hadapan ama kuburan, cuma dibatasi jalan berpaving

  3. af rasis setelah baca ini merenung: gue berhenti cebokin ( wowo) apa terus aja ya 😂😂😂😂
    kalo gue cebokin terus , faktanya hidup gw juga makin susah 😂😂😂😂😂😂😂

  4. Penguasa otoriiter yg ugal² an & brutal sebetulnya tidak perlu buzzer bayaran macam mahluk yg nyinyirin kadrun yemn di sini, sebab sudah berhasil buat contoh 1 kasus teror air keras setidaknya ampuh bikin takut rakyat untuk kritisi secara frontal.