HASIL KECIL KUNJUNGAN TRUMP

Oleh: Dahlan Iskan

Ketika saya meninggalkan pulau Rhun kembali ke pulau Banda Naira kemarin, Presiden Donald Trump meninggalkan Beijing kembali ke Amerika. Dua hari Trump di Beijing. Hasil yang nyata: Tiongkok akan membeli 200 pesawat Boeing bikinan Amerika, membeli minyak dan gasnya, serta hasil pertaniannya. Dua yang terakhir tidak konkret nilainya –bagian yang kelihatannya sengaja diambangkan.

Berarti hasil kunjungan ini tidak sebesar berita yang dimunculkan. Soal membeli pesawat sebanyak 200 itu misalnya, sebenarnya bisa lebih banyak lagi mengingat kebutuhan Tiongkok 500 pesawat. Pembelian 200 pesawat itu hanya setara dengan pembelian yang dilakukan Lion Air dari Indonesia –yang waktu itu sekali beli sebanyak 175 pesawat.

Soal pembelian hasil pertanian kelihatannya Tiongkok akan berhitung lebih teliti: Tiongkok sudah telanjur bertransaksi dengan Kanada dan Brasil di bidang minyak Canola dan kedelai. Nilainya sengaja diambangkan karena Tiongkok masih akan melihat apakah perusahaan teknologinya masih dilarang masuk Amerika. Demikian juga apakah chip Amerika masih dilarang dikirim ke Tiongkok.

Kedatangan Trump ke Beijing kali ini berbeda dengan tahun 2017. Kali ini Trump tidak didampingi istrinya, Melania. Sembilan tahun lalu Melania jadi bintang di Beijing. Dia tampak selalu bersama Peng Liyuan, istri Presiden Xi Jinping yang juga artis penyanyi lagu-lagu nasionalis paling terkenal.

Kali ini Peng Liyuan hanya hadir sesekali. Penyambutan kali ini lebih bersifat “bisnis” dari pada kekeluargaan. Isu yang dibahas juga super serius: soal sensitivitas Taiwan bagi Tiongkok dan soal mengapa Trump menyerang Iran. Jelas Xi ingin Amerika tahu soal Taiwan itu harga mati. Seperti juga soal Hong Kong. Xi seperti mengingatkan Trump: soal Taiwan bisa seperti Iran –akan membuat Amerika sangat sulit.

Dari berbagai pemberitaan media terlihat Trump ingin mengesankan bahwa Tiongkok akan membantu Amerika meyakinkan Iran di soal Selat Hormuz. Tapi saya yakin Tiongkok akan memainkan kartu Iran ini dengan kelihaian permainan mahyong. Bahkan ada yang mengingatkan Trump: hati-hati dengan jebakan Thucydides.

Anda sudah tahu apa maksudnya: Thucydides adalah ahli sejarah dunia di zaman Yunani kuno yang bisa menggambarkan dengan sangat baik fenomena perang panjang antara Athena dan Sparta. Yakni Perang Peloponnesus.

Di situ digambarkan masa kebangkitan Anthena yang luar biasa, yang sedang dalam proses menggantikan dominasi Sparta. Maka bisa saja Xi Jinping telah mendalami karya Thucydides itu dengan baik sedang Trump sebagai pedagang jarang membaca buku berat seperti itu.

Apa pun, pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump sangat baik. Meski telah tertunda lebih sebulan pertemuan itu bisa meredakan ketegangan di permukaan: perang Amerika-Iran lah yang membuat pertemuan itu tertunda.

Namun banyaknya CEO perusahaan kelas dunia dari Amerika yang ikut Trump seperti tidak mendapat porsi sorotan. Padahal dalam rombongan itu ada Elon Musk dari Tesla, Tim Cook dari Apple, Jensen Huang dari NVIDIA, Larry Fink dari BlackRock, Stephen Schwarzman dari Blackstone, Kelly Ortberg dari Boeing, Jane Fraser dari Citigroup, Larry Culp dari GE Aerospace, David Solomon dari Goldman Sachs, Cristiano Amon dari Qualcomm, Sanjay Mehrotra dari Micron Technology, Michael Miebach dari Mastercard, Ryan McInerney dari Visa, Brian Sikes dari Cargill, dan Jacob Thaysen dari Illumina.

Mereka berkepentingan semua dengan pasar Tiongkok yang sangat besar. Mereka pasti seperti Anda, ingin damai. Agar bisnis bisa jalan. Tapi mereka juga bisa terkena jebakan Thucydides bila Trump hanya mengandalkan gaya tinjunya Mike Tyson.

https://disway.id/catatan-harian-dahlan/947022/lu-biau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *