Sheikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi rahimahullah wafat setelah hampir seabad beliau hidup, umurnya begitu panjang dan sangat melelahkan di dunia ini, bahkan katanya beberapa minggu sebelum wafat, beliau menolak doa seorang muridnya yang mengatakan “Allah yutawwil biumarak sheikhna” (semoga Allah memanjang usia), beliau mengatakan sudah sangat lelah dan rindu bertemu dengan Tuhannya!
Selama umur panjang ini, Sheikh Qaradhawi telah melewati berbagai fenomena pahit manis kehidupan, pujian dan kritik, penjara, berkeliling dunia, di-banned di beberapa negara, dan akhirnya menarik diri dari kehidupan publik setelah kudeta tahun 2013 di Mesir, dan akhirnya meninggal dalam pengasingan di Doha.
Perubahan politik yang beliau lalui, mulai dari masa monarki di Mesir, revolusi Juli 1952, hingga Arab Spring 2011, telah membuat beliau sangat matang dalam bidang fiqh, dakwah, harakah, dan bahkan beliau pernah menjadi sebagai tokoh sentral di dunia Islam, yang memainkan peran penting dalam transformasi modern wacana Islam kontemporer, sehingga tidak berlebihan kalau sebagian orang menyebut beliau sebagai Sheikhul Ummat atau Sheikhul Islam Al Muasir.
Otoritas yang dimiliki oleh Sheikh Qaradhawi ini merupakan fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam pemikiran Islam Sunni. Hal ini dimungkinkan oleh taufiq Allah yang pertama, kemampuan dan keilmuwan beliau, dukungan media modern seperti internet yang memudahkan akses terhadap ide dan pemikiran beliau, serta dukungan politik dan finansial yang diterimanya pada tahap-tahap tertentu dalam karier beliau.
Dr. Mutaz Al Khatib menyebut 3 ide dan gagasan utama dalam pemikiran Sheikh Qaradhawi: Inklusivisme Islam (Syumuliah/Universalitas Islam), Ummah dan Syariah.
Mengenai “Inklusivisme Islam,” beliau adalah salah satu tokoh reformasi besar yang mewujudkan gagasan. Sebagian orang mengaitkan gagasan ” Inklusivisme Islam” dengan Syekh Rashid Rida pada fase kedua setelah wafatnya Muhammad Abduh, atau ada juga yang mengaitkannya dengan tambahan Hassan al-Banna pada ajaran Rashid Rida.
Sheikh Qaradawi tidak menyembunyikan pengaruh al-Banna dalam pemikirannya, yang pertama kali memperkenalkan gagasan Inklusivisme Islam kepadanya ketika ia mendengarkan ceramahnya di sekolah dasar. Namun, bergabungnya ia dengan Ikhwanul Muslimin di sekolah menengah telah membawa transformasi signifikan dalam hidup dan kesadarannya; ia berubah dari seorang “pendakwah agama” menjadi seorang “pembela Islam” yang memperjuangkan “Islam yang inklusif.”
Secara metodologis, Sheikh Qaradawi dipengaruhi oleh Rashid Rida dalam tafsir dan fatwa hukumnya. Pendekatan reformisnya memiliki beberapa kesamaan dengan para pendahulunya, termasuk kebangkitan kembali konsep Ummah, rekonsiliasi Syariah (hukum Islam) dengan modernitas, tidak terikat dengan mazhab-mazhab hukum tradisional dan seruan untuk ijtihad dan tajdid, membangkitkan kembali konsep Maqasid Syariah dan Maslahah serta mengajak untuk melihat Kembali ijtihad-ijtihad fiqh dari mujatahid-mujtahid seperti Ibn Hazm dan Ibn Taymiyyah.
Adapun konsep Ummah, itu adalah konsep sentral bagi sheikh Qaradawi, artinya wacana di jalanan tidak lagi ditujukan kepada individu sebagai individu, tetapi kepada kelompok individu sebagai satu Ummah. Dalam hal ini, Sheikh Qaradawi, seperti para pendahulunya, terobsesi dengan ide Khilafah yang “bubar” 2 tahun sebelum beliau lahir, selama hidupnya beliau banyak melihat permsalahan umat Islam yang tak terselesaikan akibat tidak adanya khilafah sebagai referensi sentral, khususnya ketika umat Islam kehilangan Baitul Maqdis dan hampir semua negara mayoritas penduduknya umat Islam dibawah jajahan Barat. Karena kesadarannya akan penjajahan dan tirani, isu Palestina adalah qadhiyyah muqaddasah baginya.
Adapun Syariah, hal itu membentuk inti dari visi dan kehidupannya, hal ini terlihat dari kemampuan dan ijtihad-ijtihad beliau dalam berbagai permasalahan yang membutuhkan hukum yang relevan dan cepat. Visi utama Sheikh Qaradhawi adalah untuk mengembalikan hukum Syariah ke ranah publik modern (politik dan sosial) di negara-negara pasca-kekhalifahan, bukan sekedar pembahasan di masjid atau di bangku madrasah.
Dua kali beliau menolak ketika ditunjuk menjadi Mursyid Aam Ikhwan Muslimin, beliau mungkin lebih pantas jadi Mursyid Ummah, bukan hanya sekedar Mursyid sebuah Jamaah. Orang Barat malah menyebut beliau sebagai Global Mufti dalam buku Global Mufti: The Phenomenon of Yusuf Al-Qaradawi.
Beliau orang besar, tidak perlu dibesar-besarkan, dan orang besar itu layaknya pohon besar, di cabang dan tangkainya banyak burung bermain, dan di bawahnya banyak makhluk yang bersandar, bahkan ada yang hanya sekedar lewat untuk bersembunyi sambil buang hajat….itu biasa, Rahimahullah wa Awwadhal Ummah Khairan.
(Saief Alemdar, alumni Gontor)


beliau semoga Allah merahmati ruhnya…beliau ahli fiqih kontemporer yg sulit ditandingi….pemahaman beliau tentang masaalah kekinian dan cara pemecahan ….pembelaan beliau terhadap palestina dan dunia islam….serta penegakan khilafah dan isu isu lain…adalah beliau seorang yg jenius dalam ini…aku bersaksi di hadapan Allah untuk itu…..