MAKNA PENTING DI BALIK PERTEMUAN TRUMP XI JINPING

Pertemuan di Great Hall of the People di Tiananmen Square Beijing hari ini antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump bukan sekedar pertemuan protokoler atau sekedar courtesy call (kunjungan kehormatan), tapi ini merupakan salah satu pertemuan politik dan ekonomi paling penting di dunia dalam beberapa tahun terakhir, bukan hanya karena isu-isu yang dibahas, tapi juga tempat pertemuan.

Untuk pertama kalinya sejak kembali berkuasa, Trump secara pribadi mengunjungi Beijing. Langkah ini membawa pesan yang secara tidak langsung menyirat bahwa Amerika Serikat telah mulai memperlakukan Tingkok sebagai negara yang benar-benar setara, deep sense of mutual respect (rasa saling menghormati yang mendalam), bukan hanya pesaing ekonomi yang dapat dibatasi hanya melalui sanksi dan tarif.

Coba kita lihat sejarah pertemuan antara kedua pria tersebut untuk memahami besarnya perubahan ini:

  • 2018 di Buenos Aires, Argentina, selama perang dagang
  • 2019 di Osaka, Jepang;
  • 2025 di Busan, Korea Selatan;
  • dan hari ini Mei 2026 di Beijing, Tingkok.

Bukan hanya itu, yang berbeda kali ini adalah pertemuan-pertemuan sebelumnya seringkali berlangsung di sela-sela KTT internasional atau dalam kerangka kerja multilateral. Namun hari ini, Trump pergi ke Tiongkok langsung pada saat yang sangat sensitif di tengah konstelasi geopolitik internasional.

Di sini kita memahami pesan sebenarnya Washington menyadari bahwa Tingkok bukan lagi sekadar pabrik mercon, tetapi sebuah kekuatan baru yang mampu mengubah ekonomi global, teknologi, energi, dan bahkan geopolitik. Selain itu, mungkin aspek yang paling berbahaya adalah bahwa pertemuan ini terjadi pada saat seluruh dunia berada di ambang ketegangan ekonomi dan militer: perang dagang, krisis Taiwan, perlombaan kecerdasan buatan, ketidakstabilan energi setelah perang Iran, dan menurunnya kepercayaan pada tatanan ekonomi global lama pasca PD II.

Seperti biasa, Trump melakukan kebiasaan buruknya ketika bersalaman, dia selalu menarik tangan lawannya kearah dia, sehingga lawannya goyang dan terkesan lemah, itu sering dilakukan saat bertemu siapapun. Kali ini dia mencoba melakukan itu pada Xi Jinping, namun terlihat saat bersalaman tubuh Xi Jinping sama sekali tidak bergerak.

Kesimpulannya, kunjungan langsung Trump ke Beijing saat ini, dengan delegasi sebanyak itu, merupakan pengakuan tidak langsung bahwa Tiongkok sudah terlalu besar untuk ditangani menggunakan kebijakan lama seperti ancaman ekonomi dan sanksi-sanksi serta kenaikan tarif.

Mungkinkah unipolar world order (satu kutub tatanan dunia) akan segara berakhir dan bipolar world order akan lahir dan Tiongkok akan menjadi perwakilan dari Timur? Terserah lah kalau itu terjadi, yang musibah adalah kalau mereka berdua membagi-bagi dunia menjadi dua wilayah pengaruh, mungkin banyak negara yang akan diinjak-injak. Bagi negara-negara yang lemah, mau unipolar, bipolar ataupun multipolar, semua sama, hanya saja kalau dulu cuma dipalaki oleh AS, sekarang jatah preman semakin bertambah, udah gitu aja….😁

(Saief Alemdar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *