Purbaya hentikanlah kelakuan konyol

✍🏻Dr. Faisal Lohy

Purbaya hentikanlah kelakuan konyol entertain. Kondisi rupiah yang melekat nasib ekonomi hampir 300 juta rakyat Indonesia, bukan barang candaan.

Hampir semua cara sudah dilakukan Bank Indonesia dan Kementrian Keuangan. Semua instrumen moneter sudah dimasifkan. Namun tidak dapat menahan laju jatuhnya rupiah.

Mulai dari intervensi terukur di spot market dan domestic non-deliberable forward, intervensi pasar offshore (Hongkong, Singapura, London, New York), kompensasi money flyout lewat penerbitan SRBI, pembelian SBN di pasar sekunder, pembatasan pembelian Dollar AS tanpa underlying transaction, hingga intervensi khusus offshore NDF.

Semua langkah tersebut sama sekali tidak efektif, tidak mampu mengembalikan kepercayaan investor. Aksi jual SBN secara masif (sell off) terus berlanjut. Modal asing terus lari keluar. Rupiah lanjut terjun bebas.

Bahkan kementrian keuangan telah memberlakukan skema Bond Stabilization Fund. Aksi buy back untuk meredam efek tertekannya Rupiah akibat capital outflow di pasar sekunder.

Mekanismenya adalah: Saat investor asing melakukan aksi jual masif SBN, pada saat itulah, pemerintah Indonesia masuk ke pasar sekunder untuk membeli SBN yg dijual investor asing tersebut. Tujuannya, memberi kompensasi agar tekanan jual dari asing terserap, bunga utang tidak melonjak dan harga obligasi tidak terjun bebas.

Jika tujuan tersebut tercapai, secara langsung dapat menekan kepanikan pasar, mencegah investor lain ikut-ikutan keluar, sehingga tekanan permintaan Dolar AS bisa diredam dan Rupiah tetap stabil.

Namun kenyataan berkata lain. Rupiah terus depresi. Tembus level terburuk sepanjang sejarah. Menunjukan jurus terbaru Bank Indonesia dan kemenkeu gagal meyakinkan investor asing untuk tidak melanjutkan aksi kabur dari pasar uang Indonesia.

Apa penyebabnya?

Investor asing memiliki akses data yang mapan. Investor sangat paham bahwa Jurus terkahir pemerintah lewat Bond Stabilisation Fund sangat lemah menstabilkan kondisi pasar uang. Hanya sekedar kebijakan entertain biar kementrian keuangan dan BI terlihat: seolah-olah sungguh-sungguh berusaha redam jatuhnya Rupiah.

Investor sangat paham, bahwa pemerintah tidak punya cukup dana lebih untuk buy back atau membeli kembali SBN akibat tekanan sell off investor asing di pasar sekunder.

Kita tau, sumber dana yg digunakan pemerintah untuk buy back SBN di pasar sekunder berasal dari APBN, sisa SAL dan dukungan special mission vehicle (uang dari lembaga-lembaga di bawah pembinaan kemenkeu).

Bercanda yang sangat tidak lucu !!

Kenyataannya, saat ini, APBN alami lonjakan defisit, sisa SAL sangat tipis dan kapasitas modal dari lembaga binaan kemenkeu untuk ikut membeli SBN yg dijual investor asing, sangat terbatas, sangat tidak memadai, tidak cukup kuat untuk membayar capital outflow di pasar uang.

Boleh dikatakan langkah pemerintah ini, bukan memperbaiki, sebaliknya justru memperburuk kepercayaan investor. Bahwa pemerintah telah kehabisan cara memulihkan kondisi perekonomian, terutama merespon jatuhnya rupiah.

Sebagai investor yg sehat akalnya, pasti memilih money fly out. Bukan keputusan bijak mempertahankan aset mereka pada SBN Rupiah yg terus tertekan. Jatuh nilai kekayaannya. Langkah masuk akal jual, rupiah ditukar ke dalam dollar yg nilai sedang naik pesat.

Catatan pentingnya, aksi jual masif investor, tidak hanya berkaitan dengan ketidakmampuan pemerintah mengendalikan situasi perekonomian. Tetapi juga menjadi alarm: betapa jatuhnya-lemahnya-rusaknya kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Kepercayaan investor makin jatuh ketika melihat data pertumbuhan ekonomi kuartal 1 2026. Tumbuh 5,61%. Tujuan pemerintah mengabarkan pertumbuhan ekonomi setinggi itu adalah untuk tetap menjaga kepercayaan investor. Tapi investor tidak sebodoh itu untuk ditipu. Investor punya akses data mapan untuk memverifikasi kelayakan angka pertumbuhan yg cenderung manipulatif tersebut.

Tapi Anggaplah pertumbuhan 5,61% itu benar. Tidak manipulatif. Investor percaya. Namun meskipun angka benar, tetap saja menyedihkan. Membuat investor makin hilang kepercayaan. Karena ketika dibedah. Ternyata pertumbuhan yg tinggi itu keropos , tidak berkualitas, justru menujukan kelemahan.

Ternyata pertumbuhan yg tinggi itu, menurut data BPS ditopang oleh lonjakan belanja pemerintah 21,81%. Di saat yg sama investasi produktifnya lemah 5,59%, manufakturnya kontraksi (PMI 49,1 di bawah angka minimum 50), produksi nasional anjlok. Dampaknya ekspor melemah, hanya tumbuh 0,90% dan ketergantungan terhadap impor tumbuh 7,18%.

Artinya, ekonomi tumbuh tinggi bukan didasarkan pada penguatan produksi nasional dan kenaikan pendapatan nasional, tapi pada belanja pemerintah sehingga memicu lonjakan defisit APBN. Dalam keadaan pendapatan nasional yg lemah dan lonjakan defisit APBN, dapat dipastikan belanja pemerintah dominannya dibiayai dengan pengambilan utang baru yg meningkat.

Benar saja, BI melaporkan utang pemerintah saat ini tembus Rp 9.920 triliun. Kurang Rp 80 triliun jadi Rp 10.000 triliun. Dalam waktu 3 bulan, lonjakan utang pemerintah capai Rp 282,52 triliun. Terbesar sepanjang sejarah. Mengkonfirmasi, besarnya lonjakan belanja pemerintah dominannya dibiayai lewat pengambilan utang baru yg meningkat tajam.

Artinya, pertumbuhan ekonomi yg tinggi itu ternyata didorong oleh pembiayaan yg berasal dari utang baru. Tidak berkualitas dan keropos. Kepercayaan investor makin jatuh.

Catatan pentingnya, akibat jatuhnya kinerja manufaktur, lemahnya kapasitas produksi nasional, mengakibatkan ekspor lemah, impor makin tinggi. Ini menunjukan fundamental ekonomi yg sangat keropos.

Ekspor lemah, berarti pemasukan valas dollar untuk cadangan devisa berkurang. Sebaliknya Impor tinggi, sangat menguras cadangan devisa. Kita tau cadangan devisa adalah amunisi BI stabilkan rupiah. Jika masuknya sedikit dari ekspor, banyak dikeluarkan untuk impor, cadangan devisa melemah. Rupiah tertekan.

Ditambah pembayaran utang jatuh tempo dan larinya modal keluar, permintaan dollar meningkat, rupiah makin tertekan.

Berikutnya, BI gunakan cadangan devisa untuk intervensi, menjual dollar untuk menahan pelemahan rupiah. Faktanya Tidak berhasil. Cadangan devisa makin berkurang.

BI melaporkan pada Januari cadangan devisa US$ 154,6 turun menjadi US$ 148,2 miliar. Berkurangnya cadangan devisa di saat yg sama rupiah tidak berhasil stabil, memicu kepanikan pasar: bahwa kemampuan intervensi BI makin terbatas. Pasar panik, investor lakukan aksi sell off SBN. Rupiah melanjutkan tekanan. Tembus Rp 17.600.

Fenomena ini menghambat. Fundamental ekonomi tertekan hebat, keropos. Di saat yg sama, pemerintah telah kehabisan jurus. Semua instrumen moneter dan fiskal telah dipakai. Tapi rupiah terus ambruk. Investor hilang kepercayaan. Pasar panik. Rupiah terus melanjutkan tekanan.

Bagaimana kelanjutannya. Mari kita liat seberapa jauh rupiah melanjutkan tekanannya. Semoga pemerintah menemukan jalan keluarnya.

Lihatlah. Betapa rusaknya fundamental ekonomi nasional. pemerintah sama sekali tidak punya kedaulatan mengendalikan apapun. Semua dikendalikan oleh kekuatan pasar. Investor asing yg mengendalikan dan menentukan posisi rupiah. Mereka keluar rupiah jatuh. Mereka masuk rupiah stabil.

Intervensi BI: mau menjual dollar sampai habis cadangan devisa sekalipun, bukan menguatkan, tapi justru memberi sinyal ke investor bahwa intervensi BI makin terbatas. Investor makin panik dan kabur. Rupiah makin rusak.

Ini adalah dampak dari liberalisme ekonomi rezim devisa terbuka dan sistem nilai tukar free floating exchange rate. Sistem devisa dan nilai tukar di luar kendali pemerintah. Fundamental ekonomi dan kondisi moneter (nilai tukar) dikendalikan sepenuhnya oleh investor asing.

Lalu Purbaya Muncul dengan mengatakan: Rupiah anjlok Rp 17.600, bisa kami pulihkan dalam waktu satu malam. Mirip judul lagu: cinta satu malam. Oh indahnya. Cinta satu malam. Buatku melayang. Bener melayang dalam khayalan dan bualan.

Sangat tidak bermoral. Purbaya berhentilah entertain. Kondisi rupiah yg melekat nasib hampir 300 juta rakyat Indonesia, bukan barang candaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. wkwkwkwk…kita tunggu nasibnya junjungan Ternak Mulyono alias TerMul dan Ternak GendruWO Wowo TerWo…
    bhuahahahaha…huahahahaha….😝🤣😜😂