EKSKLUSIF: Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) menelepon Presiden Trump dua kali pada hari Kamis (10/9/2026), mendesaknya untuk melancarkan serangan terhadap kelompok Houthi saat kelompok yang didukung Iran itu semakin mendekati titik strategis yang krusial di Laut Merah, menurut keterangan dua pejabat AS kepada Axios.
Trump menolak permintaan tersebut, dan para pejabat AS menegaskan bahwa pemerintahannya tidak memiliki rencana untuk melakukan intervensi langsung terhadap Houthi untuk saat ini.
Harga minyak melonjak pada hari Kamis setelah Houthi merebut sebuah kota pesisir strategis di Yaman, yang membawa mereka semakin dekat ke Selat Bab al-Mandab—jalur vital bagi perdagangan global dan ekspor minyak Arab Saudi.
Mengingat Iran telah mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, penguasaan Houthi atas Bab al-Mandab dapat memberikan Teheran posisi tawar baru yang kuat terhadap AS dan sekutu-sekutunya di kawasan Teluk.
AS merasa khawatir dengan eskalasi konflik yang cepat di Yaman dan sedang meningkatkan dukungannya bagi Arab Saudi, sembari berupaya menghindari keterlibatan militer secara langsung.
Laksamana Brad Cooper, komandan Komando Pusat AS (U.S. Central Command), bertolak ke Arab Saudi pada hari Kamis untuk mengadakan pertemuan koordinasi mendesak, menurut dua sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington dan Gedung Putih menolak memberikan komentar.
Konflik antara Arab Saudi dan Houthi kembali memanas pada bulan Juli setelah Riyadh melarang pesawat Iran—yang membawa pejabat senior Houthi pulang dari pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei—untuk mendarat di Sanaa.
MBS meminta dukungan politik dari Trump untuk menyerang bandara Sanaa, namun menegaskan bahwa Arab Saudi tidak membutuhkan bantuan militer AS. Trump memberikan dukungannya.
Houthi membalas dengan menyerang kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah—mengancam rute krusial bagi ekspor minyak kerajaan tersebut—dan kemudian memperluas serangan mereka ke fasilitas energi Saudi.
Arab Saudi dan sekutu Yaman mereka merespons dengan serangan udara serta serangan darat terhadap posisi-posisi Houthi.
Di balik layar: Permintaan Arab Saudi akan tindakan militer langsung dari AS menandai perubahan sikap yang drastis dibandingkan bulan Juli, saat Riyadh menyatakan kepada Washington bahwa mereka mampu menghadapi Houthi sendirian.
Namun, seiring dengan meningkatnya intensitas pertempuran, pihak Saudi mulai mencari dukungan yang lebih besar dari AS. Dalam beberapa pekan terakhir, para pejabat militer dan sipil AS telah menyampaikan kepada rekan-rekan mereka di Arab Saudi bahwa arahan Trump adalah agar pasukan Amerika tetap fokus pada Iran dan Selat Hormuz—serta menghindari pembukaan front pertempuran lain—demikian ungkap sumber-sumber yang mengetahui diskusi tersebut.
Pada hari Kamis, saat pasukan Houthi bergerak maju menuju kota pesisir Mokha dan pasukan Yaman yang didukung Saudi mundur, MBS menelepon Trump untuk memberikan informasi terkini mengenai situasi yang memburuk, kata para pejabat AS.
Beberapa jam kemudian, MBS kembali menelepon dan mendesak Trump untuk memerintahkan serangan AS terhadap kelompok Houthi.
Trump menolak permintaan tersebut, namun seorang pejabat AS menyatakan bahwa pemerintahannya akan memberikan data intelijen mengenai Houthi serta data penentuan target kepada Arab Saudi.
Sekitar 200 personel militer AS saat ini sudah berada di Arab Saudi untuk memberikan dukungan non-kinetik, ujar pejabat tersebut.
Pernyataan mereka: Seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengisyaratkan bahwa prioritas Washington adalah menjaga agar Laut Merah tetap terbuka, sembari menyerahkan penanganan konflik yang lebih luas kepada mitra-mitra regionalnya.
“Amerika Serikat berfokus untuk melindungi kepentingan keamanan nasional utama kami—seperti menjamin kebebasan navigasi di Laut Merah—sembari memberdayakan mitra-mitra regional kami agar dapat memimpin upaya pengelolaan dan penyelesaian tantangan keamanan kawasan,” kata pejabat tersebut.
“Kami terus menjalin komunikasi dengan Arab Saudi dan Pemerintah Republik Yaman terkait stabilitas kawasan.”
Sumber: AXIOS








yailah minta izin emang pesawat tempur buatan kafir mah gitu klo gak ada izin gak bisa nembak rudal kecuali klo bisa ngehack sistemnya macem turki terus rudalnya wajib pake buatan lokal baru bisa nembak.
tu fotonya AI ga sih..!?
kliatan “bestie” banget..
🤭🤭🤭
akhir hayat dari siah houti dan siah iran
tapi syiah yg menuhankan Ali didukung oleh Yahudi dibalik layar
ah, teori! suruh buktikan, entar malah buat cerita fiksi! 🤣
puas kali fansboy syiah liat foto itu tp giliran pemimpin iran bestian sama si komunis jin pink dan si haus darah putin ga dikomenin apa2, jangan pernah lupakan kejahatan kpd ahlusunnah suriah yg korbannya jutaan, jauh lebih banyak daripada korban di palestina dan di afganistan, akibat propaganda busuk siah semua ditutupi
sepertinya dah dijelasin berkali-kali tapi komennya diulang lagi diulang lagi, gitu gitu aja! 🤣
kaset kusut om..karna palanya kosong 😂😂
komentar yang keluar dari isi kepala nya, dan isi kepala ga akan pernah berubah. padahal referensi yang begitu banyak ada digenggaman kita, tinggal ketik apa yang kita mau, keluar dah…….. banyak informasi yang tersaji banyak pula informasi yang kontroversial. bingung dah…… puyeng dah……… 🤣
PKI gitu om..kalah argumen nyerang pribadi itu arahan Mao Zedong pendiri nya 🤣🤣
Ali bajrie ngumpet 🤣🤣🤣
fotonya ciptaan fanboy aswajasufi syiah laknatullah.
kebencian nya sdh keubun ubun spt syiah yg membenci para sahabat rasullullah sallallahu allaihi wasallam.
aswajasufi ngaku ahlu sunah tapi fanboy houthi syiah laknatullah, kumpulan kaum munafiq. 😄
salafi al dajali penyepong saudi mana nih
si “solofi” aswajasufi syiah laknatullah ngamook gak terima kenyataan. 🤣🤣
lihat komen yg ada, malah mencari pembenaran bukan kebenaran.
tentang syiah sdh kah anda ke sana (iran) bgm ajarannya!!!
tentang suni yg merasa menjalankan sunnah tuh lihat wahabi!!!
carilah kebenaran !!!
1. al quran (byk ko tentang umat islam, dan pasti tdk bersatu) bacalah dgn arti dan tafsir yg mashur.
2. al hadist, bacalah byk hadist!!
dah itu saja