Penjelasan TAAT ULIL AMRI

Penjelasan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath al-Bari jilid 16 hal. 607, kitab Al Ahkam, bab firman Allah di surah An-Nisa` ayat 59:

Keistimewaan (rahasia retorika) dari diulanginya kata kerja “taatilah” pada kata “Rasul”, tetapi tidak pada “ulil amri”, adalah bahwa yang sebenarnya ditaati pada hakikatnya adalah Allah. Sebab, dua sumber yang dengannya diketahui apa yang menjadi kewajiban syariat adalah Al-Qur’an dan Sunnah.

Maka seakan-akan maknanya adalah:

“Taatilah Allah dalam apa yang telah Dia tetapkan bagi kalian dalam Al-Qur’an, dan taatilah Rasul dalam apa yang beliau jelaskan kepada kalian dari Al-Qur’an serta apa yang beliau tetapkan bagi kalian dari Sunnah.”

Atau maknanya:

“Taatilah Allah dalam apa yang Dia perintahkan melalui wahyu yang dibaca sebagai ibadah (yaitu Al-Qur’an), dan taatilah Rasul dalam apa yang beliau perintahkan melalui wahyu yang bukan Al-Qur’an (yaitu Sunnah).”

Di antara jawaban yang indah adalah ucapan salah seorang tabi’in kepada salah seorang penguasa dari Bani Umayyah. Ketika penguasa itu berkata:

“Bukankah Allah telah memerintahkan kalian untuk menaati kami dalam firman-Nya: ‘Dan ulil amri di antara kalian’?”

Maka tabi’in tersebut menjawab:

“Bukankah Allah juga telah mencabut kewajiban taat kepada kalian apabila kalian menyelisihi kebenaran, melalui firman-Nya:

‘Kemudian jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar beriman kepada Allah.’”

Ath-Thibi berkata:

“Pengulangan kata kerja pada firman-Nya ‘taatilah Rasul’ menunjukkan bahwa Rasul memiliki otoritas yang mandiri dalam hal ketaatan. Sedangkan tidak diulangnya kata kerja itu pada ‘ulil amri’ menunjukkan bahwa di antara mereka ada yang tidak wajib ditaati.”

Kemudian Allah menjelaskan hal tersebut dengan firman-Nya:

‘Jika kalian berselisih dalam suatu perkara…’

Seakan-akan maknanya:

“Jika mereka (ulil amri) tidak menjalankan kebenaran, maka janganlah kalian menaati mereka. Kembalikanlah perkara yang kalian perselisihkan kepada hukum Allah dan Rasul-Nya.”

(Ustadz Ansari Taslim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

  1. Sy amati ada 2 golongan yg sama2 jahil/tolol/dungu di negeri ini. Dua2nya menolak rakyat mengkritisi pemerintah, harus taat sami’na wa atho’na. Yg satu itu karena dungu total dr lahir, yg kedua itu berlindung dg jubah agama. Yg satu jalannya miring ke kiri alias tidak kenal agamanya, yg satu miring ke kanan alias terlalu fanatik dg ustadz2nya atau golongannya. Semoga kita dijauhi dr sifat orang2 demikian …

  2. ad pmimpin muslim yg trlihat jelas ga adil dlm memimpin.. trus muslim yg dipimpinnya diwajibkan ta’at oleh “ulamanya”.. yg brarti qt muslim jg support ketidakadilan itu..
    kan pmikiran kocak ini..
    ✌🏻😅