Ada yang ancam bunuh kasus rusuh MATRAMAN

(SS ada yang ancam para tersangka kasus rusuh Matraman akan dibunuh di penjara)

Bukan membenarkan aksi anarkis yang menyebabkan kematian pemuda asal Ambon yang bentrok dengan warga Matraman.

Tapi coba jadikan bahan introspeksi dan refleksi bagi kawan kawan asal Ambon dan suku manapun yang berada di perantauan.

Korban meninggal bukan karena suku, warna kulit, atau agamanya yang membuat warga melakukan anarkis.

Pemicunya sudah diketahui kita semua, dari banyaknya saksi dan video, awalnya soal gangguan ketertiban lingkungan yang kemudian berkembang menjadi bentrokan massa.

Kalau situasi berubah jadi “kerusuhan”, tindakan yang semula mungkin “tidak diniatkan” untuk menghilangkan nyawa bisa berakhir jadi tragedi yang tidak terkendali.

Dari yang awalnya menggeber – geber motor di kampung orang, tidak menerima teguran warga, kemudian kembali dengan membawa kelompok dan membuat onar, melakukan kekerasan dan merusak gerobak milik warga, harus disadari itu tindakan onar yang sangat berpotensi memancing reaksi keras dari masyarakat setempat.

Intropeksilah, kemarahan warga bukan otomatis karena soal suku, ras, warna kulit, atau agama. Kemarahan mereka karena perilaku yang dianggap mengancam keamanan dan ketertiban lingkungan.

Yang kebetulan berhadapan dengan warga Matraman, kawasan yang dari dulu terkenal dengan sejarah konflik antarkelompok, gesekan kecil aja bisa berubah jadi bentrokan besar.

Jadi jangan playing victim, seolah kejadian ini semata-mata karena kebencian pada identitas tertentu. Jadikan intropeksi buat kita semua, jangan arogan dan merasa berkuasa apalagi di kampung orang.

(Kang Irvan Noviandana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Negeriku sedang sakit
    Indonesia menangis…
    Dengan apa kita bisa menyeka air matanya ???
    Kepedihan hatinya terus bertambah,
    Melihat koyakan yang terus dibuat oleh pemangku kekuasaan

    Argh………
    Entah sampai kapan kita mau berhenti merusak diri,
    Merajut kembali hati ini buat negeri.
    Sesungguhnya, ada saat harapan memudar,
    Namun tak padam…
    Ada saat cita-cita meredup,
    namun tak mati…
    Ada saat masa depan seperti layu,
    tapi pasti bersemi lagi…

    Hari ini Tuhan…
    Kami bawa bangsaku ke hadiratMu
    Engkaulah kehidupan
    Engkaulah yang memberi jalan
    Engkaulah kebenaran yang sejati
    KepadaMu doa-doa ini kami panjatkan
    KepadaMu rasa syukur kami naikkan

    Damai dan bersinarlah negeriku…
    Damai dan bersinarlah Indonesiaku!
    Do’a kan dan Berhenti Mengutuki