Minyak Rusia Diperebutkan Dunia, Tapi Tidak Untuk Negara Ini

Pemerintah Rusia menegaskan sikap kerasnya dalam perdagangan energi global. Moskow memastikan tidak akan menyalurkan minyak ke negara-negara yang mendukung kebijakan pembatasan harga, yang mereka anggap sebagai langkah tidak sesuai mekanisme pasar.

Keputusan ini muncul di tengah meningkatnya permintaan minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi tersebut membuat pasokan energi makin ketat dan harga terus merangkak naik.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Andrey Rudenko, menyebut kondisi pasar energi saat ini sangat tidak stabil. Ia menyoroti kombinasi antara terbatasnya pasokan dan lonjakan harga sebagai penyebab utama gejolak tersebut. Rusia, kata dia, tidak akan melayani negara yang dinilai bersikap provokatif, termasuk pihak-pihak yang mendukung Ukraina seperti negara anggota G7 dan Australia.

Sebelumnya, negara-negara Barat memang berupaya menekan Rusia dengan mengurangi pembelian energi dan menerapkan skema batas harga minyak. Dalam kebijakan tersebut, harga minyak Rusia dibatasi sekitar US$44 per barel agar tidak memberikan keuntungan besar bagi Moskow.

Namun perkembangan terbaru justru menunjukkan arah berbeda. Dalam beberapa pekan terakhir, minyak jenis Urals dari Rusia tidak lagi dijual dengan diskon besar, melainkan mulai dipasarkan dengan harga lebih tinggi, terutama ke negara-negara seperti India.

Bahkan pada 19 Maret 2026, harga minyak Urals yang dikirim ke pantai barat India dilaporkan menembus US$121,5 per barel. Angka ini berada di atas harga acuan global, berbanding terbalik dengan awal bulan ketika minyak Rusia masih dijual jauh lebih murah.

Terkait peluang kerja sama dengan negara yang sebelumnya dianggap tidak bersahabat, seperti Jepang, Rusia menilai hal itu masih sulit terjadi. Tokyo disebut masih terikat pada kebijakan pembatasan harga yang dinilai mengganggu rantai pasok global.

Krisis energi global makin memburuk setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu. Konflik tersebut memicu ketegangan lanjutan di kawasan, termasuk gangguan pada jalur distribusi energi penting dunia.

Salah satu dampak terbesar adalah terganggunya Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak harian dunia. Penutupan jalur ini membuat harga minyak melonjak drastis hingga mendekati US$120 per barel.

Di tengah lonjakan harga tersebut, Amerika Serikat mengambil langkah tak terduga dengan melonggarkan sementara sanksi terhadap minyak Rusia. Kebijakan ini berlaku untuk pengiriman tertentu hingga awal April dan disebut sebagai langkah strategis yang juga berdampak pada pemasukan Rusia.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, memperkirakan kebijakan ini bisa memberikan tambahan pendapatan sekitar US$2 miliar bagi anggaran Rusia.

Setelah pelonggaran tersebut, sejumlah negara di Asia langsung bergerak cepat. Thailand, Filipina, Vietnam, hingga Indonesia dikabarkan mulai menunjukkan minat untuk membeli minyak Rusia. Sementara itu, pembeli besar seperti India dan China tetap menjadi pemain utama dalam menyerap pasokan yang tersedia.

Kondisi ini menegaskan bahwa di tengah tekanan geopolitik, minyak Rusia justru semakin diminati. Namun di sisi lain, sikap selektif Moskow terhadap pembeli menunjukkan bahwa persaingan energi global kini tidak hanya soal harga, tetapi juga kepentingan politik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *