Presiden AS Donald Trump melalui akun truth social menyerang para tokoh mantan pendukungnya yang sekarang berpaling: Tucker Carlson (pembawa acara ternama AS), Thomas Massie (anggota Kongres/DPR AS dari Partai Republik), dan Marjorie Taylor Greene (mantan Anggota Kongres AS dari Partai Republik). Trump menyebut mereka pengkhianat dan pecundang.
Di X Marjorie Taylor Greene membalas Trump:
Saya bertanya-tanya apakah sebutan “pengkhianat” yang ia terima dalam rapat umum pendukungnya sendiri kemarinlah yang membuatnya mendiktekan kebohongan serta serangan penuh caci maki terhadap Tucker, Thomas, dan saya, saat ia sedang dalam perjalanan pulang dengan pesawat.
Bisa jadi penyebabnya juga adalah hasil jajak pendapat terbaru yang buruk yang saya yakin sudah ia lihat saat ini.
Ia menyerang kami dengan begitu sengit karena kami benar-benar mewujudkan sosok yang selama ini ia klaim sebagai dirinya sendiri—konservatif dan mengutamakan kepentingan Amerika (America First)—sementara sebagai Presiden, ia terbukti tak lebih dari sekadar boneka neokonservatif bagi Israel, korporasi, donatur besar dengan kepentingan khusus, serta teman-teman karibnya dari kalangan elit seperti Epstein.
Kami tidak pernah berubah; Trump-lah yang berubah.
Thomas dan saya memiliki rekam jejak pemungutan suara serta kinerja legislatif yang sangat konservatif dan berfokus pada kepentingan Amerika di DPR. Kami berdua secara konsisten menolak pemberian dana bagi negara asing maupun perang di luar negeri. Tidak ada unsur liberal atau Demokrat dalam diri kami; namun, kami dengan senang hati bekerja sama dengan pihak Demokrat untuk membuka dokumen kasus Epstein. Sungguh mengejutkan, kami justru harus berhadapan dengan Presiden Trump, yang malah memerintahkan semua orang untuk menghalangi langkah kami. Inilah alasan mengapa Trump kini menyebut saya pengkhianat: karena alih-alih tunduk padanya seolah ia adalah dewa palsu, saya justru bangkit dan memperjuangkan nasib para perempuan yang diperkosa saat remaja dan dilecehkan oleh pria-pria terkaya dan paling berkuasa di dunia—yang merupakan teman-teman Donald Trump. Saya bangga telah melakukan hal itu dan sama sekali tidak menyesalinya.
Tucker dicintai oleh banyak orang Amerika—begitu banyaknya hingga ia benar-benar menjadi kandidat kuat calon presiden—karena ia secara konsisten berpegang pada kebenaran dan dengan berani mengangkat kisah-kisah yang enggan diliput oleh media arus utama, padahal sebagian besar rakyat Amerika justru tertarik mengetahuinya. Berkat keteguhan dan kepemimpinannya, Tucker dikagumi dan dijadikan panutan oleh banyak pemuda, yang kini menganggap Trump sebagai penipu tua.
Kaum muda adalah masa depan kita, dan kami berkomitmen memperjuangkan mereka serta isu-isu penting yang membantu mereka membangun kehidupan yang sukses dan sejahtera.
Kami sangat menentang penggantian lapangan kerja warga Amerika oleh tenaga kerja asing melalui skema visa yang didukung Trump dan pemerintahannya, serta menentang kebijakan Trump yang memberikan jatah kursi perguruan tinggi kepada 600.000 mahasiswa asing dari Tiongkok dan negara lain. Kami juga dengan tegas menolak pengiriman putra-putri terbaik bangsa untuk tewas dalam perang di negeri orang demi tujuan dan kepentingan asing yang sama sekali tidak memberi manfaat bagi Amerika.
Namun, hal terpenting yang perlu saya sampaikan mengenai kami adalah bahwa kami adalah umat Kristen yang taat, sedangkan Trump sama sekali bukan seorang Kristen.
Sahabat-sahabat terkasih, Tucker dan Thomas mereka adalah saudara-saudara seiman saya di dalam Kristus.
Donald Trump tidak pernah sekalipun berdoa bersama saya dan hanya mengakui keberadaan Tuhan saat membacakan pidato yang telah disusun oleh stafnya. Kebanyakan orang Amerika tidak mengetahui apa agama yang dianutnya—atau apakah ia memiliki agama sama sekali—namun banyak yang berspekulasi bahwa ia menganut Yudaisme atau Kabbalah, jika memang ia memiliki keyakinan agama tertentu.
Sikap, kebiasaan melontarkan ejekan, serta retorika yang tidak masuk akal dan gegabah dari Presiden Trump sama sekali tidak pantas bagi jabatan presiden; hal-hal tersebut mencerminkan kepemimpinan yang buruk serta merusak reputasi dan posisi Amerika di mata dunia. Saat ini, perilakunya tidak ada bedanya dengan troll internet atau jutaan bot yang kerap melontarkan kata-kata keji dan mengerikan.
Dulu, saya mendukungnya karena kebijakan-kebijakan yang ia nyatakan dukung dan kampanyekan dengan penuh semangat; namun kini, setelah menjabat sebagai presiden, ia terbukti menjadi “kuda Troya” yang justru menerapkan banyak kebijakan yang sebelumnya ia tentang.
Saya menyesal tidak menyadari hal ini lebih awal dan berharap seandainya saya tidak pernah mendukungnya.
Kekhawatiran terbesar saya adalah bahwa seiring memudarnya kekuasaan dan pengaruh Donald Trump, ia akan semakin condong pada perang dan mengambil tindakan demi memuaskan hasrat untuk merasa lebih berkuasa dan memegang kendali, sembari ia terus berupaya mempertahankan posisinya di Ruang Oval (Gedung Putih).
Semoga saja dugaan saya salah.
Oleh karena itu, saya akan terus berdoa agar Presiden Trump mau merendahkan hati di hadapan Tuhan serta berpaling kepada-Nya dengan iman yang tulus dan pertobatan atas dosa-dosanya, demi menjadi sosok presiden dan pemimpin yang dibutuhkan oleh Amerika.






