Menkeu kita yang baru ini reputasinya sebenarnya jauh dibandingkan SMI

✍️Budi Kurniawan

Menkeu kita yang baru ini reputasinya sebenarnya jauh dibandingkan menteri keuangan sebelumnya seperti Sri Mulyani dan Chatib Basri. Saya baru ngulik karya desertasinya tentang FDI dan exchange rate: Sadewa, Purbaya Yudhi. The effect of exchange rate on foreign direct investment. Purdue University, 2000. Itu adalah satu satunya karya beliau di google scholar. Padahal Bu SMI saja masih menulis di tahun 2024 yang lalu.

Saya terus terang tidak menemukan ide beliau tentang institutional reforms yang selama ini SMI terkenal karena reformasi yang ia lakukan. Ngomong ngomong soal reformasi kelembagaan atau institutional reforms. Sepertinya pemerintahan Prabowo tak serius menggarap hal ini. Yang ada malah memperkuat kapitalisme negara melalui Danantara berlawanan dengan arus utama trend wacana para ekonom.

Dahulu saya masih ingat para ekonom sering mengkritik pemerintahan SBY karena lemahnya dalam pembangunan infrastuktur yang menurut mereka membuat investasi ke Indonesia menjadi tak optimal karena berbiaya mahal akibat jalur logistik yang buruk dikarenakan minimnya infrastuktur. Dijawab oleh pemerintahan Jokowi dengan pembangunan infrastuktur yang booming, tetapi apakah para investor datang? gak juga karena ada faktor lain yang membuat costly yakni kelembagaan hukum dan politik yang berisiko, uncertainty dan unpredictable. Akibatnya tetap Indonesia kalah dalam menarik investor terutama dengan tetangga seperti Vietnam. Seharusnya pemerintahan Prabowo melanjutkan estafet perbaikan kelembagaan menempatkan negara sebagai regulator bukan malah pelaku pasar plus regulator juga.

Kalau kita baca buku Yuen Yuen Ang “How China Escape From Poverty (2016)”, China yang dianggap role model ekonomi Prabowo juga melakukan reformasi kelembagaan. Sayangya para pengagum China seperti Prabowo dan pejabatnya hanya menangkap satu snapshot dari berbagai snapshot fase fase transformasi ekonomi China. Misalnya sebelum menjadi besar saat ini China pernah melakukan privatisasi BUMN secara besar besaran pada tahun 1993-1995 untuk menumbuhkan pasar. Dari China kita belajar, setelah pasar bergeliat maka dilanjutkan dengan reform bukan malah memperkuat kapitalisme negara. “harness weak institutions to build markets –> emerging markets stimulate strong institutions –> strong institutions preserve markets” (halaman 14).

Indonesia bagaimana ? gerakannya seperti maju mundur manis. Pasar Tumbuh –> negara kuat mendistorsi pasar, teknokrat ditendang –> krisis –> reforms panggil lagi para teknokrat –> pasar tumbuh –> balik lagi negara menguat dst-dst siklusnya seperti itu. Buku Rizal Mallarangeng bagus menjelaskan hal ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *