Mengapa Pasukan Yang Didukung Saudi di Yaman Runtuh?!

Mengapa pasukan yang didukung Saudi di Yaman runtuh?!

By Warfare Analysis

Total populasi warga negara dari Arab Saudi, Qatar, Kuwait, UEA, Bahrain, dan Oman digabungkan lebih kecil daripada populasi Yaman.

Jumlah warga negara, bukan orang asing, di negara-negara Teluk ini sekitar 26–27 juta, sementara populasi Yaman sekitar 42 juta.

Selama ini ada pandangan Teluk bahwa Yaman yang bersatu merupakan ancaman strategis bagi negara-negara Teluk yang secara demografis kecil dan secara geografis terbatas.

Yaman harus tetap berada di bawah pengaruh Teluk, terutama pengaruh Saudi, atau dibawa di bawah payung Amerika seperti negara-negara Teluk itu sendiri.

Yang tidak dapat diterima bagi mereka adalah Yaman yang berdaulat, atau Yaman di bawah pengaruh kekuatan lain di luar lingkup Teluk-Amerika.

Setelah jatuhnya Presiden Ali Abdullah Saleh pada 2012, Yaman memasuki periode kerusuhan politik. Partai Islah (IM) memperoleh pengaruh yang cukup besar selama transisi pasca-Saleh.

Arab Saudi dan UEA kemudian berbalik melawan Islah (karena idiologi IM) sebagai bagian dari perang yang lebih luas mereka terhadap Arab Spring. Islah akhirnya kalah dari Houthi, yang mengambil alih Ibu Kota Sanaa pada 2014.

Houthi menerima dukungan Iran.

Setelah mengusir kendali Islah atas ibu kota Sanaa, Arab Saudi dan UEA menciptakan dan mensponsori banyak faksi di Yaman untuk melawan Houthi.

Faksi-faksi di Yaman selatan, seperti Brigades Giants, menerima dukungan UEA, sementara sebagian besar sisanya, seperti Nation’s Shield, Yemen Emergency Forces di Saada dan al-Jawf, serta pasukan suku Hadrami, menerima pendanaan Saudi.

Dukungan Saudi dan UEA terbagi menjadi dua bagian utama:

Membeli kesetiaan pemimpin suku dengan uang, dan membayar gaji kepada warga Yaman yang bertempur di faksi-faksi mereka melawan Houthi.

Beredar luas di Yaman bahwa pejuang Yaman yang didukung Saudi dibayar sekitar 1000 riyal Saudi (Rp 4,7 juta) per bulan.

Karena perang, blokade, dan kehancuran ekonomi, gaji-gaji ini menjadi sumber pendapatan bagi banyak warga Yaman yang bergabung dengan faksi-faksi tersebut.

Berbeda dengan Iran, yang memberikan “bantuan militer” (peralatan militer) yang menentukan kepada sekutu Houthi-nya di Yaman, Arab Saudi dan UEA turun tangan secara langsung dan menginginkan “sekutu” Yaman mereka mengikuti instruksi mereka, alih-alih mengikuti model Iran dengan memberikan bantuan militer serupa kepada warga Yaman yang tidak setuju dengan Houthi dan membiarkan warga Yaman memutuskan sendiri.

Kepentingan UEA kemudian bertabrakan dengan sekutunya, Arab Saudi.

UEA, sebagai negara kecil dengan populasi warga negara, tidak termasuk orang asing, sebanyak 1,1 juta, berupaya menghidupkan kembali konflik Utara-Selatan melalui STC sebagai mungkin tujuan yang paling dapat dicapai, sehingga alih-alih 1 Yaman, akan ada 2 Yaman, Utara dan Selatan.

Ini bukan hanya tujuan UEA, tapi juga tujuan Israel, karena upaya serupa terlihat di Suriah melalui upaya membentuk negara bagi Kurdi dan satu lagi bagi Druze, sehingga Israel bisa melawan entitas yang lebih kecil jika diperlukan, dan sehingga UEA bisa mengatasi kompleks inferioritas demografisnya.

Namun, tujuan ini tidak terbatas pada Yaman. Arab Saudi mungkin menjadi target partisi berikutnya setelah Yaman, karena dibandingkan dengan negara-negara Teluk lainnya dan Israel, Arab Saudi memiliki populasi yang lebih besar dan wilayah yang jauh lebih luas.

Hal ini mempercepat konflik Saudi-UEA, yang berakhir dengan UEA diusir dari Yaman.

Kembali ke judul, alasan kegagalan militer dari kubu yang didukung Saudi di Yaman:

1- Komando terpusat: Pemerintah Sanaa yang dipimpin Houthi memiliki 1 kepemimpinan terpusat, sedangkan pasukan yang didukung Saudi merupakan campuran dari beberapa faksi, masing-masing dengan kesetiaan dan tujuan sendiri.

2- Houthi berhasil menetralkan kekuatan udara Saudi dengan merespons serangan udara di wilayah yang mereka kendalikan melalui serangan mendalam ke dalam wilayah Arab Saudi.

3- Ideologi militer: Pejuang dalam pasukan Houthi memiliki ideologi militer religius yang memusuhi Israel dan AS, dan pejuang mereka bertempur demi hal itu, dibandingkan dengan gaji yang menjadi alasan pejuang di kubu yang didukung Saudi bertempur.

4- Propaganda media: Pasukan Houthi secara ketat melarang pejuang mereka menggunakan ponsel, dan semua informasi yang diterima pejuang mereka berasal dari kepemimpinan mereka. Ini adalah kebalikan total dari kubu yang didukung Saudi, yang sangat melebih-lebihkan propaganda medianya.

5- Kegagalan mobilisasi religius Saudi: Ketika seorang Yaman yang bertempur di kubu yang didukung Saudi membaca bahwa ada 200 perwira Amerika yang mengarahkan mereka dari Arab Saudi, sementara ia tahu tentang keterlibatan AS melawan saudara-saudaranya di Gaza, dan melihat bagaimana media Saudi meliput Gaza, permusuhannya terhadapnya, serta adopsi penuh narasi Israel, hal ini saja sudah cukup untuk memberikan pukulan fatal bagi propaganda religius Saudi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

    1. hahaha…. malu kau ya wahaboy habis ditelanjangi disini secara detail sampe kelihatan itelmu hehehe… jadi siapa sekarang sebenarnya yang memecah belah umat islam, siapa yg jadi prngkhianat umat islam ? dan siapa yg jadi anjing piaraan zionis Asu yg suka jilat pantatnya sampe bersih ? siapa yg suka menipu dan memfitnah ? cuiiih….. mrnjijikkan dan sangat mrmalukan kelen semua wahaboy tolol malah admin pula yg disalahkan media2x wahaboy yg sdh jd corong propaganda zionis Asu

  1. ALASANNYA ADALAH KARENA SAUDI ITU PENDUKUNG ISRIWIL. DIMANAPUN, ENTAH KAPANPUN ITU, YANG NAMANYA PENJAHAT PASTI HANCURRRR. YA NGGAK BOY? HELLO WAHABOY???