Ini contoh keputusan finansial yang didorong oleh emosi. Karena FOMO (ikut-ikutan), mengira akan mendapatkan keuntungan cepat dari saham, dia menggunakan dana BUMDES untuk masuk ke pasar saham dan ternyata rungkad.
Jika sudah belajar finansial, orang akan tahu bahwa potensi keuntungan selalu beriringan dengan potensi kerugian.
Pasar saham memang berpotensi mendatangkan keuntungan besar dan cepat, itu hanya terjadi jika: (1) pilihan sahamnya tepat, (2) beli dan (3) jual di waktu yang tepat.
Tapi tiga faktor itu ga selalu tepat. Memilih saham aja udah sulit, kalo ga pake analisa yang tepat maka biasanya pake perkiraan, “kayanya ini bagus deh”, “ini kata berita begini, kayanya prospeknya bagus”, dsb.
Setelah itu, menentukan kapan masuk dan keluar juga susah. Pertimbangannya juga sering kali nekad. Ketika saham sudah naik jauh, ada kebimbangan apakah akan terus naik atau malah turun? Ketika turun, apakah turun ini hanya sementara atau turunnya malah semakin dalam? Sudah dapat keuntungan, bimbang tetap datang, apakah mau hold agar lebih menguntungkan lagi atau take profit sekarang?
Tapi yang harus dicatat baik-baik adalah: JANGAN MENGGUNAKAN UANG YANG BUKAN PUNYA KAMU!
(Fahmi Hasan Nugroho)







Komentar