Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menertawakan klaim berulang Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengatakan bahwa dirinya telah “mengalahkan Iran” dalam konflik bersama Israel melawan negara tersebut.
Dalam sebuah unggahan di akun media sosial X pada Minggu, Qalibaf menyindir pernyataan Trump yang menurutnya berlebihan.
“Dia mengklaim telah ‘mengalahkan’ kami sembilan kali dalam dua minggu terakhir. Lucu sekali!” tulis Qalibaf.
Qalibaf, yang sebelumnya merupakan komandan militer senior Iran, sejak awal konflik pada 28 Februari aktif membantah berbagai klaim yang disampaikan pejabat Amerika Serikat dan Israel terkait jalannya perang melawan Iran.
Dalam unggahan lain di X pada hari yang sama, Qalibaf juga menyinggung Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth. Ia bahkan menjulukinya sebagai “Tele-General”, merujuk pada seringnya Hegseth tampil di televisi dan konferensi pers selama konflik berlangsung.
Menurut Qalibaf, para pejabat AS hanya mengorbankan tentara Amerika demi mempertahankan keberlangsungan pemerintahan Israel.
Ia juga menyoroti serangan balasan Iran yang disebut berhasil menargetkan sejumlah aset militer Amerika di negara-negara kawasan. Qalibaf memperingatkan bahwa rencana mengirim lebih banyak pasukan untuk menghadapi Iran di kawasan Teluk Persia hanya akan membuat tentara AS menjadi korban sia-sia.
“Mereka mengirim anak-anak muda untuk memperbaiki kesalahan para jenderal. Pergilah mati demi Israel,” ujarnya dengan nada keras.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap pemerintah Amerika Serikat untuk menghentikan perang yang dinilai mahal dan tidak diprovokasi terhadap Iran. Biaya ekonomi dan jumlah korban yang terus meningkat menjadi perhatian banyak pihak.
Sejumlah pakar dan tokoh oposisi di Amerika juga berulang kali memperingatkan bahwa Trump tidak memiliki strategi yang jelas untuk mengakhiri konflik tersebut. Mereka menilai jika konfrontasi terus berlanjut, dampak finansialnya bisa sangat besar bagi pemerintah dan pembayar pajak di AS.
Sejak hari pertama serangan bersama AS dan Israel, Iran disebut telah melakukan serangkaian serangan balasan terhadap berbagai aset Amerika di kawasan serta sejumlah lokasi di wilayah yang diduduki Israel.
Iran juga mengklaim telah mengambil kendali penuh atas jalur pelayaran di Selat Hormuz di Teluk Persia. Situasi ini memicu kenaikan harga energi dan komoditas dunia ke tingkat tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.






