Kenapa Tiket Pesawat Domestik Mahal? Jawabannya Mirip dengan Kenapa Berobat di Indonesia Juga Mahal

Kenapa Tiket Pesawat Domestik Mahal? Jawabannya Mirip dengan Kenapa Berobat di Indonesia Juga Mahal

✍🏻Dr. Erta Priadi Wirawijaya Sp.JP

Belakangan ini keluhan soal mahalnya tiket pesawat domestik kembali ramai. Bahkan sempat muncul pernyataan yang cukup menampar logika: dalam kondisi darurat di Aceh, tim medis justru lebih “masuk akal” terbang lewat Kuala Lumpur dulu karena tiket langsung ke Aceh jauh lebih mahal.

Kedengarannya absurd, tapi nyata.

Dan sebagai dokter, saya justru merasa déjà vu—karena pola ini sangat mirip dengan dunia kesehatan yang saya hadapi setiap hari.

Banyak orang mengira mahalnya tiket pesawat itu semata karena maskapai “ambil untung kebanyakan”.

Sama seperti anggapan bahwa mahalnya biaya berobat karena dokter atau rumah sakit terlalu komersial.

Padahal, kenyataannya jarang sesederhana itu. Di balik harga yang mahal, ada struktur biaya dan kebijakan yang sering luput dibicarakan.

Mari kita mulai dari rumah sakit:

  • Obat yang Anda minum tidak jatuh dari langit.
  • Secara umum, bahan bakunya masih banyak yang diimpor.
  • Saat masuk ke Indonesia, ada bea masuk dan pajak.
  • Diproduksi oleh industri farmasi, dijual ke distributor, kena pajak lagi.
  • Dari distributor ke rumah sakit atau klinik, kena pajak lagi.
  • Ketika akhirnya obat itu sampai ke tangan pasien, pajak sudah berlapis-lapis.
  • Jadi jika harga obat terasa “tidak ramah dompet”, itu bukan karena satu pihak saja, melainkan karena rantai biaya yang panjang dan mahal.

Alat kesehatan pun sama:

  • Sekitar 90 persen alat kesehatan di Indonesia masih impor.
  • Mesin USG, CT-scan, alat kateter jantung—semuanya masuk lewat jalur yang sama: bea masuk, PPN, distribusi.
  • Kalau kita bandingkan harga alat yang sama di katalog pengadaan pemerintah dengan harga internasionalnya, selisih dua sampai tiga kali lipat bukan hal aneh.
  • Dan logikanya sederhana: barang mahal harus balik modal. Biaya itu akhirnya dibebankan ke pasien.

Menariknya, pola ini hampir identik dengan dunia penerbangan domestik:

  • Suku cadang pesawat mayoritas impor.
  • Bahan bakar pesawat di dalam negeri dikenakan pajak.
  • Tiket penerbangan domestik dikenakan PPN.
  • Bandingkan dengan penerbangan internasional yang, secara umum, tidak dikenakan PPN oleh banyak negara.
  • Akibatnya, rute internasional tertentu justru bisa lebih murah daripada rute domestik yang jaraknya lebih dekat.

Di titik ini, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:

Apakah ini murni soal efisiensi maskapai dan rumah sakit, atau ada desain kebijakan yang tanpa sadar membuat layanan esensial menjadi mahal?

Negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura, secara umum, memberikan perlakuan pajak yang lebih ringan untuk sektor strategis seperti kesehatan dan transportasi udara. Tujuannya jelas: akses masyarakat dipermudah, mobilitas dan kesehatan dianggap kebutuhan dasar.

Dampaknya nyata di lapangan. Saya sering bertemu pasien yang menunda kontrol karena biaya. Ada keluarga yang menunda rujukan karena ongkos perjalanan mahal. Sama seperti masyarakat yang akhirnya memilih rute penerbangan “muter” demi harga yang lebih masuk akal. Ini bukan soal gaya hidup, tapi soal keterjangkauan.

Di Indonesia, kita juga punya kebijakan tarif batas atas dan batas bawah untuk tiket pesawat domestik. Secara teori, ini untuk melindungi konsumen. Tapi dalam praktik, ketika biaya operasional tinggi dan ruang gerak maskapai sempit, kebijakan ini justru bisa membuat harga sulit turun secara alami.

Pelajaran besarnya sederhana. Ketika pajak, bea masuk, dan regulasi dibebankan secara berat pada sektor esensial, maka harga akhir hampir pasti mahal. Mau itu tiket pesawat, mau itu biaya berobat. Dan ujung-ujungnya, masyarakat yang menanggung.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti saling menyalahkan di permukaan. Maskapai, rumah sakit, dokter—semuanya bergerak dalam sistem yang sama. Jika kita ingin tiket pesawat lebih terjangkau dan layanan kesehatan lebih ramah bagi rakyat, maka kebijakan di hululah yang perlu ditinjau ulang.

Karena kalau tidak, kita akan terus hidup di negara di mana pergi berobat terasa seperti naik pesawat mahal, dan naik pesawat mahal terasa seperti sakit duluan sebelum sampai tujuan.

EPW 21/1/2026

Komentar