Ketua Majelis Syura Islam Iran, Mohammad-Baqer Ghalibaf, menyampaikan pernyataan tegas menyusul serangan mematikan terhadap sebuah sekolah di Iran selatan yang menewaskan ratusan anak.
Dalam unggahannya di platform X pada Selasa (3/3/2026), Ghalibaf menyoroti kata-kata penuh duka dari seorang ibu yang kehilangan putranya dalam serangan tersebut. Ia menegaskan bahwa rakyat Iran tidak akan tinggal diam hingga darah anak-anak tak berdosa itu dibalas.
Mengutip video yang beredar, Ghalibaf menulis, “Selama para ibu yang membanggakan dan perempuan-perempuan berhati singa Iran masih hidup, jalan Imam Syahid Revolusi (Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei) akan menang atas setiap penjajah, pengkhianat, dan perusak tanah air.”
Ia menutup pernyataannya dengan sumpah yang kuat, “Kami adalah para penuntut balas atas darah anak-anak Iran yang tertindas hingga napas terakhir.”
Pernyataan tersebut muncul di tengah suasana berkabung nasional atas serangan terhadap Sekolah Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, Provinsi Hormozgan. Serangan itu dilaporkan menewaskan 165 anak dan melukai hampir 100 orang lainnya.
Pada Selasa pagi, warga Minab turun ke jalan untuk mengiringi prosesi pemakaman para korban. Banyak pelayat membawa peti kecil dan foto anak-anak yang menjadi korban. Tangis dan doa menggema di seluruh kota saat keluarga melepas kepergian orang-orang tercinta dalam suasana yang dipenuhi duka sekaligus kemarahan.
Serangan terjadi pada Sabtu, ketika Israel dan Amerika Serikat disebut memulai rangkaian serangan baru terhadap Iran. Gedung dua lantai yang menjadi sasaran diketahui menampung sekolah dasar putra dan putri, sehingga menyebabkan kerusakan besar. Asap tebal terlihat membumbung dari puing-puing bangunan, sementara tim penyelamat berupaya mencari korban selamat.
Tragedi ini memicu kecaman luas dari para pejabat Iran. Jaksa Minab menyebut serangan tersebut sebagai tindakan “kriminal” dan “biadab”, seraya menegaskan bahwa korban bukan hanya anak-anak, tetapi juga staf pengajar dan orang tua murid.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, turut menyampaikan belasungkawa. Ia menggambarkan serangan itu sebagai peristiwa yang “menyayat hati” dan menyebutnya sebagai tindakan “tidak manusiawi dan brutal”. Menurutnya, tragedi tersebut akan tercatat sebagai “lembaran kelam” dalam sejarah panjang agresi terhadap Iran, dan bangsa Iran tidak akan pernah melupakannya.






