
🔴Tepat di Hari Raya Idul Fitri, 21 Maret 2026, sebuah rudal balistik Iran menghantam kota Dimona di Israel selatan sebagai bentuk pembalasan atas serangan terhadap fasilitas nuklir Natanz di Iran. Kota ini merupakan lokasi dari Pusat Penelitian Nuklir Negev (Shimon Peres), yang diyakini secara luas sebagai pusat program senjata nuklir Israel.
Dimona adalah salah satu tempat yang paling penting secara strategis di Israel, karena berbagai alasan.
Jika Israel bahkan tidak mampu mencegat rudal Iran yang diarahkan ke sana, itu adalah tanda jelas melemahnya pertahanan udara mereka secara serius, sebuah perkembangan yang sudah banyak dilaporkan.
[VIDEO saat rudal Iran menghantam Dimona]
Berikut adalah detail utama dari insiden tersebut:
Korban dan Kerusakan
- Korban Luka: Sedikitnya 47 orang terluka di Dimona, sebagian besar akibat serpihan peluru (shrapnel).
- Infrastruktur: Rudal tersebut dilaporkan menghantam sebuah bangunan tempat tinggal, menyebabkan sebuah gedung satu lantai hancur total dan kerusakan pada apartemen di sekitarnya.
Detail Operasional
- Kegagalan Intersepsi: Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara mereka gagal mencegat rudal balistik tersebut meskipun rudal itu bukan jenis yang asing. Penyelidikan sedang dilakukan untuk memahami penyebab kegagalan ini.
- Retaliasi Iran: Iran mengeklaim serangan ini merupakan balasan langsung atas serangan udara AS-Israel sebelumnya terhadap fasilitas pengayaan nuklir Natanz.
- Eskalasi Lebih Lanjut: Serangan di Dimona terjadi hampir bersamaan dengan serangan rudal lainnya di kota Arad, yang melukai 64 orang lainnya.
Insiden ini menandai fase baru yang berbahaya dalam konflik regional, dengan kedua belah pihak secara langsung menargetkan wilayah di sekitar fasilitas nuklir. Para pemimpin dunia, termasuk G7 dan PBB, telah menyerukan “penahanan diri militer maksimum” untuk mencegah perang yang lebih luas.






