Gereja Katolik – Gereja Protestan (Cara Gampang Membedakan)

Oleh: Arif Wibowo

Pada awalnya, Kekristenan Barat itu tunggal, yakni gereja Katolik. Skisma (perpecahan) besar kemudian terjadi yang memisahkan gereja-gereja yang dipimpin para Imam Latin dan Imam Yunani pada tahun 1054.

Gereja di bawah para pimpinan imam Latin tetap menjadi Katolik dan yang dipimpin para imam Yunani dikenal sebagai gereja Orthodox Timur. Namun pada masa itu, kata “Kristen” belum disandingkan menjadi nama gereja.

Pada perkembangan berikutnya, Kekristenan Barat mengalami perpecahan kembali yang ditandai dengan kemunculan kelompok “Protestan” yang dimotori oleh Martin Luther.

Martin Luther (1483 – 1546) adalah seorang profesor teologi, pendeta, dan biarawan asal Jerman yang menjadi tokoh utama dalam Reformasi Protestan. Tindakannya mengkritik praktik Gereja Katolik Roma pada abad ke-16 telah mengubah jalannya sejarah kekristenan dan membentuk lanskap keagamaan dunia hingga saat ini.

Pembangkangan Martin Luther ini menyebabkan gereja Katolik kembali terpecah. Turut campurnya kepentingan politik para pangeran menyebabkan pecahnya perang agama di Eropa. Perang kubu Katolik dan Protestan ini berjalan 30 tahun dengan korban mati 7,5 juta jiwa manusia hingga perjanjian Westphalia diteken semua pihak.

Kemunculan Frasa “Gereja Kristen”

Adalah Marsilio Ficino (1433-1499), pemikir Renaisans Italia, tulis Wilfred Cantwell Smith, yang pertama kali menulis De Christiana Religione di tahun 1474. Penggabungan kata “Christiana” dengan “Religione” adalah hal yang baru pada masa itu.

Hanya saja yang perlu dicatat, Marsilio tidak hendak mengenalkan nama suatu agama dengan frasa ‘religi kristen’ itu. Dalam pandangan Masilio, religio adalah naluri yang dianugerahkan secara Ilahi sehingga manusia menjadi manusia dan berkat itu manusia menyadari dan menyembah Tuhan. Kalau dalam “istilah Islam”, dalam pandangan Ficino, kekristen itu fitrah manusia.

Identifikasi frasa ‘Christian Religion’ menjadi sebuah institusi keagamaan yang berbeda dengan Katolik Roma dilakukan oleh pemimpin Protestan Swiss, Zwingli. Pada tahun 1525, ia menerbitkan De Ver et Falsa Religione Commentarius.

Zwingli membagi ada agama yang benar dan agama yang salah. Agama yang salah adalah sakralisasi berlebihan terhadap para Paus, konsili, otoritas gereja, dan yang semacam itu. Salah karena ada peluhuran hebat terhadap organisasi duniawi yang merupakan mediasi saja dari yang ilahiah, bukanlah yang ilahiah itu sendiri.

Makanya coba kita perhatikan argumen para penginjil jalanan, selalu Katolik yang disalahkan. Lalu yang benar, ya Kristen Protestan, tulis Zwingli.

Meski demikian pada periode ini, Protestan belum berpisah sepenuhnya dari kekristenan lama yakni gereja Katolik.

Baru setelah John Calvin di tahun 1536 menerbitkan Christianae Religionis Institutio, akhirnya Kristen Protestan resmi bercerai dengan gereja Katolik dan menjadi Institusi Agama yang tersendiri. Orang Protestan kemudian menyebut Gereja Katolik dengan tambahan Roma.

Tentang Nama Gereja

Karena itu menarik, ketika saya menyimak pendapat Patris Allegro, seorang apologet Katolik di Tiktok yang menjadi ujung tombak debat dengan Protestan, ia menyebut bahwa tradisi penyebutan nama “gereja Kristen” itu baru muncul pada abad 16.

Cara gampang membedakannya adalah:

  • Nama-nama gereja Katolik itu diambil dari nama para Santo atau orang-orang suci. Seperti Gereja Santo Paulus, Gereja Santo Petrus dan yang semacamnya.
  • Selain itu, karena kekatolikan itu tunggal, maka biasanya nama gereja cukup disebut nama wilayahnya, misal Gereja Katolik Gendengan, Gereja Katolik Purbowardayan. Umat Katolik akan langsung paham.
  • Jadi kalau ketemu gereja kok diikuti nama “Kristen”, bisa dipastikan ia adalah gereja Protestan. Misal Gereja Kristen Jawa, Gereja Kristen Jawi Wetan, Huria Kristen Batak Protestan. Kalau gereja peninggalan Belanda biasanya nama Gereja berbasis nama suku.

Nah, kalau sekarang nama gereja Protestan lebih variatif lagi, karena gerejanya bukan hanya peninggalan Belanda, tapi ada banyak aliran gereja baru yang masuk.

Makanya ada nama Gereja Bethel Injil Sepenuh, Gereja Kristus Raja, Keluarga Allah, Gereja Isa al Masih dan masih banyak lagi nama lainnya. Susah kalau disuruh menghafalkan, saking banyaknya.

Dalam catatan pendeta Jans Aritonang dalam buku yang ditulis kira-kira sepuluh tahun lalu, ada 400 aliran Kristen Protestan di Indonesia. Nah semuanya, ke empat ratus aliran ini, pengin punya gerejanya sendiri-sendiri.

Itulah yang paling sering jadi pemicu keributan, baik dengan umat Islam ataupun sesama Kristen, seperti penyegelan gereja beda aliran oleh sesama orang Kristen di Medan beberapa waktu lalu.

Rujukan :
– The End Meaning of Religion, karya Wilfred Cantwell Smith
– Hasil nonton laga seru, Katolik vs Protestan dan Protestan versus Protestan di Berbagai Media Sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar