Di Jepang, Salat Idul Fitri di masjid terbesar di Tokyo dilakukan lima sesi karena jumlah jemaah yang membludak

Pada Jumat, 20 Maret 2026, masjid terbesar di Jepang, Tokyo Camii (Masjid Tokyo) di Shibuya, mengadakan salat Idul Fitri sebanyak lima sesi karena jumlah jemaah yang membludak melebihi kapasitas.

Akibat antusiasme ribuan Muslim, sesi salat dimulai sejak pukul 06.30 pagi dan dipimpin oleh empat Imam berbeda secara bergantian untuk mengakomodasi jemaah dari berbagai negara.

Jemaah yang hadir berasal dari puluhan latar belakang negara, termasuk komunitas besar dari Indonesia, Pakistan, Bangladesh, dan Turki, serta mualaf lokal Jepang.

Turnout tahun ini menjadi bukti nyata pesatnya pertumbuhan Islam di Jepang, yang kini disebut sebagai salah satu agama dengan pertumbuhan tercepat di sana.

Estimasi terbaru pada tahun 2025–2026 menunjukkan jumlah Muslim di Jepang telah mencapai antara 230.000 hingga 360.000 jiwa. Angka ini meningkat lebih dari dua kali lipat dalam satu dekade terakhir.

Mualaf Lokal: Diperkirakan terdapat sekitar 46.000 hingga 50.000 warga negara Jepang asli yang telah memeluk Islam.

Infrastruktur Ibadah: Jumlah masjid di seluruh Jepang telah melonjak dari hanya 15 pada tahun 1999 menjadi sekitar 164 lokasi pada pertengahan 2025.

Faktor Pendorong: Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya pekerja migran (terutama perawat dan tenaga teknis dari Indonesia), pelajar internasional, serta pernikahan beda agama.

Tokyo Camii

Tokyo Camii (Masjid Tokyo), adalah sebuah masjid dengan sebuah pusat budaya Turki yang berada di dekatnya yang terletak di distrik Ōyama-chō, kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. Masjid tersebut adalah masjid terbesar di Jepang dan pertama di Jepang yang berdiri pada tahun 1938.

Awalnya, Masjid Tokyo dibangun oleh orang Turki keturunan Bashkir dan Tatar yang melarikan diri ke Jepang setelah Revolusi Oktober. Pembangunannya berada di bawah pengarahan Abdurreshid Ibrahim, Imam pertama dari masjid tersebut, dan Abdülhay Kurban Ali. Masjid Tokyo akhirnya berdiri pada tahun 1938. 

Masjid Tokyo sempat dirobohkan pada tahun 1986 karena konstruksi bangunan masjid telah mengalami kerusakan yang berat. Pembangunan kembali Masjid Tokyo diprakarsai oleh pemerintah Turki melalui Kementerian Agama Turki. Pada tahun 1998, pembangunan Masjid Tokyo diinisiasi Tokyo Camii Foundation dan selesai pada tahun 2000. Masjid ini dibuka kembali pada tanggal 30 Juni 2000. Pembangunan Masjid Tokyo baru menghabiskan dana sekitar 1,5 juta Yen.

Penamaan ‘Camii’ pada nama masjid berasal dari bahasa Turki turunan bahasa Arab, yang memiliki arti tempat orang berkumpul untuk salat Jumat (Jami’).


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar