Tanggapan untuk Buzzer Terwo (SS diatas)….
Investor Itu Memahami Pasar dengan Data, bukan Narasi
✍🏻Fahmi Hasan Nugroho
Saya nemu tulisan (lihat SS) yang membandingkan turunnya IHSG hari ini dengan saat covid, yang mana penurunan hari ini dikatakan belum separah saat covid. Masih dengan narasi yang serupa dikatakan bahwa penurunan nilai rupiah hari ini juga belum separah penurunan saat 1998.
Satu hal yang luput dari analisis itu adalah bahwa saat itu penurunan IHSG dan Rupiah ga terjadi sendirian.
Saat Covid, Indeks pasar modal global turun bersamaan dan bisa recovery dengan singkat.
Saat krisis 1998, sebagaimana yang saya tulis kemarin, semua mata uang ASEAN terkena dampak penurunan, termasuk Dolar Singapura meski tak separah yang lain.
Adapun hari ini, IHSG dan Rupiah turun terjadi sendirian.
Tidak ada krisis yang berarti dan berdampak secara global ataupun regional seperti Covid dan krisis 1998.
Pasar memang sempat resah ketika krisis Selat Hormuz terjadi, tapi kini pasar sudah lebih tenang.
Banyak mata uang ASEAN yang menguat dibanding USD, banyak indeks global yang naik, bahkan Indeks S&P 500 beberapa kali mencatat all time high, berbeda dengan IHSG (Indonesia) yang justru kinerjanya menjadi yang terburuk dengan Rupiah yang kini ditutup di all time low.
Outflow (kaburnya) dana asing tidak hanya terjadi di Pasar Modal, di Pasar Obligasi juga terjadi outflow. Dalam laporan CNN Indonesia (25/5/2026), mengutip pernyataan Josua Pardede, dinyatakan hanya Indonesia yang mengalami outflow di Pasar Obligasi di banding negara-negara ASEAN lain.
Apa yang hendak ditunjukkan dari data ini?
Pasar saham dan pasar obligasi adalah tempat para manajer investasi asing menyimpan dana yang dititipkan kepada mereka.
Karena memegang “uang orang lain”, maka mereka akan lebih sensitif terhadap perubahan kondisi negara.
Jika penurunan itu tidak terjadi karena krisis besar (global) dan kita malah turun sendiri dibanding negara-negara lain, itu berarti ada yang salah di sini.
Begitu.
(*)







negara lain tenang malah ada yang mendaki, indon doang yang meghujam, trus baek-bak aja ??
buzzer saracen gaakan bisa nerima fakta ha ha ha
saracen?
wercok banget lu! hahahahaha
Parah banget, bawa-bawa sebutan musuhnya bangsa Kristen Eropa pas Perang Salib yaitu Ummat Islam. Sangat tak pantas sebutan begitu….
FAKTA:
Dulu, waktu zamannya Wiwi,
Wowo pernah bilang “Dolar Hampir 14.000, Tanda Kegagaln Pemerintah”……
Lu ga bilang “Wowo Buzzer Saracen…?”
GOBLOK lu…!!!
L.O.L
itu buzzer taun segitu udah lair apa masih jadi air mani sih?
Ko seneng banget ya pura2 bahagia kaya af anjing pdhal menderita tujuh turunan
Bangsa Indon sengaja dibuat bodoh terus supaya ber- otak seperti buzzer misinya mematahkan yang kritis dan memoles kebobrokan rezim.
Sudah saatnya MBG menggunakan lauk sop otak terwo yak…..eh jangan ding, buat pakan lele saja….bagi lele, makan tai ataupu otak terwo sama saja soalnya
Investor TIDAK PERCAYA Prabowo yg cuma banyak omon omon itu bisa membenahi keadaan.
orang bodoh adalah orang yg tidak mau menerima kebenaran fakta dan data yg sdh jelas di depan matanya…itulah termul dan terwo