Amerika Serikat mengklaim telah menghancurkan sebagian besar kemampuan rudal Iran dalam serangan gabungan bersama Israel. Namun hingga kini, rudal dari Teheran masih terus meluncur ke berbagai negara di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini memunculkan pertanyaan: jika fasilitas rudal Iran sudah dilumpuhkan, mengapa serangan masih terjadi?
Gedung Putih menyatakan operasi militer yang dilancarkan sejak akhir Februari berhasil merusak kemampuan militer Iran secara signifikan. Washington bahkan mengklaim telah menguasai hampir seluruh wilayah udara Iran serta menghancurkan fasilitas produksi drone dan sejumlah pangkalan rudal.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga menyebut industri drone Iran telah “dihancurkan secara besar-besaran”. Pejabat Pentagon bahkan menyatakan jumlah peluncuran rudal Iran turun drastis dibanding hari-hari awal perang.
Meski begitu, serangan dari Iran belum benar-benar berhenti. Pada Senin, sejumlah negara Teluk seperti Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain kembali mengeluarkan peringatan setelah rudal Iran terdeteksi menuju wilayah mereka. Bahkan sebuah rudal dilaporkan jatuh di Abu Dhabi dan menewaskan satu orang.
Serangan Menurun, Tapi Tidak Hilang
Data menunjukkan jumlah rudal yang ditembakkan Iran memang menurun tajam sejak perang dimulai. Pada hari pertama konflik, Iran meluncurkan ratusan rudal dan drone ke berbagai target di kawasan. Namun beberapa hari kemudian jumlahnya turun lebih dari 90 persen.
Penurunan ini terjadi karena serangan udara Amerika Serikat dan Israel berhasil menghancurkan sejumlah gudang senjata, peluncur rudal, serta fasilitas produksi militer Iran.
Mengapa Iran Masih Bisa Menyerang?
Meski banyak fasilitas dihancurkan, Iran masih memiliki persenjataan yang cukup besar. Sejumlah laporan intelijen sebelumnya memperkirakan Teheran memiliki ribuan rudal balistik sebelum perang dimulai. Sebagian di antaranya disimpan di lokasi tersembunyi atau fasilitas bawah tanah sehingga sulit dihancurkan sepenuhnya.
Selain itu, wilayah Iran yang sangat luas membuat operasi pencarian dan penghancuran peluncur rudal menjadi jauh lebih sulit tanpa kehadiran pasukan darat.
Para analis juga menilai Iran kini mengubah taktiknya. Jika sebelumnya Teheran menembakkan puluhan hingga ratusan rudal sekaligus, sekarang mereka lebih sering meluncurkan satu atau dua rudal secara berkala. Strategi ini bertujuan mempertahankan tekanan militer sekaligus menghemat stok senjata yang tersisa.
Perang Tekanan Jangka Panjang
Selain rudal, Iran juga masih mengandalkan drone murah seperti Shahed yang bisa diproduksi cepat dan diluncurkan dalam jumlah besar. Senjata ini relatif sederhana namun efektif untuk menembus sistem pertahanan udara lawan.
Serangan terbatas namun terus-menerus tersebut juga berdampak besar terhadap stabilitas kawasan, terutama di Selat Hormuz jalur laut vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan energi dunia.
Ketegangan di jalur ini membuat banyak kapal menunda pelayaran karena khawatir menjadi sasaran serangan. Akibatnya, harga minyak global melonjak dan pasar energi dunia ikut terguncang.
Para pakar menilai strategi Iran saat ini bukan lagi mengandalkan serangan besar, melainkan perang kelelahan (war of attrition). Dengan serangan kecil tetapi konsisten, Teheran berharap mampu terus memberi tekanan militer dan ekonomi kepada Amerika Serikat serta sekutunya di kawasan.







namanya juga klaim 😁