Oleh: Made Supriatma
Iklim pemilihan 50%+1 seringkali menghasilkan politisi-politisi yang aneh-aneh. Lima puluh tambah satu itu bukan demokrasi. Lima puluh tambah satu adalah suara terbanyak.
Dan para pemilih entah tidak mendapat informasi yang baik tentang orang yang mereka pilih. Atau pikiran mereka terlalu sederhana memikirkan hal-hal rumit. Sehingga mereka pilih yang mereka pikir paling mereka kenal.
Atau juga mereka memilih siapa yang mereka rasa mewakili perasaan mereka. Dari sisi politisi, mereka tahu persis soal sentimen psikologis ini. Mereka pun mengeksploitasinya.
Hitler mengeksploitasi nasionalisme dan rasialisme Jerman. Trump mengeksploitasi kemunduran ras kulit putih kaum Kristen. Demikian juga dengan para politisi kanan seperti Victor Orban dari Hungaria, Marine Le Pen dari Perancis, Neil Farage dari Inggris dan banyak lainnya.
Mereka memainkan kartu etnis dan rasial. Mereka memposisikan para pemilihnya sebagai korban. Semua kemunduran itu adalah akibat orang luar. Kalau di negeri kita, negeri kita kaya tapi kita selalu ditipu ‘asing’. Keluarlah istilah antek-antek asing, Londo Ireng, dan lain sebagainya.
Dan, banyak orang terpengaruh. Banyak yang merasa terwakili. Banyak yang merasa bahwa para politisi ini berani mengatakan apa yang mereka rasakan, yang tidak akan pernah berani diomongkan oleh politisi konvensional.
Beberapa tahun lalu saya menulis tentang politisi lokal ini (Arya Wedakarna). Dia pintar memainkan sentimen lokal — kebalian, agama, orang Bali vs pendatang, dan lain sebagainya.
Dulu, dia pernah mengeluarkan stiker “sukla” untuk para pedagang Bali. Stiker ini menjadi penanda bahwa makanan yang dijual tidak mengandung sapi. Kebanyakan memang mengandung babi. Ini adalah cara untuk mendefinisikan orang Bali.
Politisi ini, yang mengangkat dirinya menjadi Raja Mahapahit Bali (sekarang Anda boleh nyengir), pada Februari 2024, pernah dipecat dari keanggotaan DPD (Dewan Perwakilan Daerah) karena tindakan diskriminatifnya. Dia mempersoalkan seorang pegawa imigrasi yang memakai jilbab.
Namun dia terplih kembali menjadi senator. Pendukungnya banyak. Dan, karena dia stok lama dan mendapat impunitas karena sistem limapuluh plus satu itu, dia tidak juga berubah.
Untuk mengetahui orang ini, saya tautkan kembali tulisan lama saya. Soal kontroversi terakhirnya, silahkan Anda cari sendiri.
👉https://tirto.id/arya-wedakarna-raja-dan-politisi-populis-pulau-bali-fQoU






