Andre Rosiade VS Gubernur Mahyeldi
- Fenomena ini pelan-pelan mengubah cara masyarakat memaknai kepemimpinan.
- Sekarang, ukuran keberhasilan bukan lagi dari kebijakan yang berkelanjutan.
- Tapi dari siapa yang paling sering muncul di beranda media sosial membawa kardus bantuan.
Lihat saja kontrasnya. Saat anggaran daerah dipangkas, Gubernur Sumbar Mahyeldi berusaha menambal kekurangan lewat jalur resmi, melobi kementerian, menyesuaikan prioritas agar gaji guru honorer dan PPPK tetap jalan.
Tapi di sisi lain, Andre Rosiade dengan mudah datang memberi bantuan dari sembako sampai uang tunai disorot kamera dan langsung viral.
Rakyat, tentu saja, lebih cepat percaya pada yang terlihat nyata di depan mata.
Dalam psikologi politik, ini sederhana yang memberi dianggap peduli, yang memimpin dianggap cuma bicara (omon omon).
Tapi mari jujur. Bantuan bukanlah solusi, Ia menciptakan candu baru rasa berhutang. Padahal, rakyat tak pernah minta dikasihani. Mereka hanya ingin sistem yang adil, pekerjaan yang layak, harga pangan yang stabil, dan jalan yang bisa dilewati tanpa berlubang. Semua itu tugas negara, bukan kemurahan hati seorang tokoh.
Kita perlu sadar politik pencitraan semacam ini sedang menggeser kesadaran publik. Rakyat lebih mengidolakan figur pemberi ketimbang pemimpin yang berpikir panjang. Jika dibiarkan, demokrasi kita berubah jadi pasar amal. Semua berlomba memberi, bukan memperbaiki. Dan pada akhirnya, yang miskin tetap miskin hanya saja kali ini, mereka tersenyum di depan kamera sambil mengucap terima kasih.
(dari fb: info Sumbar, Mandeh Islands)







Komentar