Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah pernyataan keras datang dari parlemen Iran. Ketua Komisi Keamanan Nasional Iran, Ebrahim Azizi, menyebut seluruh wilayah Ukraina sebagai “sasaran yang sah” bagi tindakan militer negaranya. Pernyataan ini dilatarbelakangi oleh dugaan keterlibatan Ukraina dalam memasok teknologi drone kepada Israel.
Azizi menegaskan bahwa sikap Iran didasarkan pada Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengatur hak negara untuk melakukan pembelaan diri. Menurutnya, jika benar Ukraina memberikan dukungan teknis kepada Israel, maka hal tersebut dapat dianggap sebagai bentuk keterlibatan langsung dalam konflik dengan Iran.
Namun, hingga saat ini, klaim tersebut belum disertai bukti konkret yang dapat diverifikasi secara independen. Situasi ini semakin memanas setelah Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, sebelumnya mengungkap bahwa pihaknya mengirim tenaga ahli militer ke kawasan Timur Tengah. Tujuan pengiriman itu, menurut Zelensky, adalah membantu menghadapi dan menetralkan drone Iran yang digunakan dalam konflik di wilayah tersebut.
Pernyataan dari kedua pihak ini memperlihatkan potensi meluasnya konflik lintas kawasan, di mana aktor-aktor di luar Timur Tengah mulai terlibat secara tidak langsung. Jika retorika ini terus meningkat tanpa adanya klarifikasi atau bukti yang jelas, bukan tidak mungkin situasi akan berkembang menjadi eskalasi yang lebih luas.







ga usah om…fokus aja serang ke Tel Aviv
Ukraina biar urusan Mr.Putin