Trump Akhirnya Menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Iran untuk Mengakhiri Perang. Perang ini menjadi titik awal kemunduran imperium AS

✍️Ayman Rashdan Wong (Pajar Geopolitik Malaysia)

Trump akhirnya menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Iran untuk mengakhiri perang.

Menurut MoU ini, AS dan Iran sepakat untuk segera menghentikan semua bentuk permusuhan.

Kedua pihak juga bertujuan untuk menyelesaikan perjanjian perdamaian dalam waktu 60 hari di bawah pengawasan PBB.

Sebagai imbalannya, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz.

Namun hal yang paling mencolok dalam MoU ini adalah alokasi dana sebesar 300 miliar dolar AS (Rp 5.300 Triliun) untuk membantu membangun kembali Iran.

Bagi Iran, ini adalah bonus besar yang dapat dijual kepada rakyatnya sebagai bukti “kemenangan” mutlak atas AS.

Di pihak AS, banyak yang tidak puas karena AS tampaknya tunduk pada tuntutan Iran.

Tetapi mengapa Trump bersedia melakukannya?

Karena Trump tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

Kurang dari 5 bulan lagi, AS akan mengadakan pemilihan paruh waktu.

Pemilu ini sangat penting karena rakyat akan memilih kembali semua perwakilan di Dewan Perwakilan Rakyat (yang hanya menjabat selama 2 tahun) dan sepertiga dari Senator (yang menjabat selama 6 tahun).

Jika perang berlanjut hingga November dan ekonomi memburuk, rakyat pasti akan menghukum partai Trump (Republik) hingga kehilangan mayoritasnya.

Trump tahu dia tidak boleh kalah. Jadi, selama perang ini dapat dihentikan dengan cara yang tampak “terhormat”, berapa pun biayanya, dia bersedia membayarnya.

Namun yang lebih lucu dan ironis adalah tempat Trump menandatangani MoU tersebut.

Trump saat ini sedang menghadiri KTT G7 (AS, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Kanada, dan Jepang) di Prancis.

“Secara kebetulan”, MoU ini ditandatangani ketika Trump diajak oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk mengunjungi Istana Versailles.

Jika Anda pernah membaca buku ADIKUASA, Anda pasti tahu bahwa Istana Versailles adalah tempat Jerman dipaksa menandatangani perjanjian yang mengakui kekalahan mutlak setelah berakhirnya Perang Dunia Pertama.

Semua pemimpin Eropa mengetahui sejarah ini. Presiden Macron tentu mengetahuinya. Trump dan kroninya mungkin tidak tahu karena mereka bukan tipe orang yang tertarik pada sejarah.

Marco Rubio (Menteri Luar Negeri AS) di belakang Trump mungkin tahu. Itulah mengapa wajahnya terlihat masam.

Sementara wajah Macron tampak seperti menahan senyum.

Jelas, Perang AS-Iran ini bukanlah awal dari perang akhir zaman atau munculnya Antikristus yang telah diprediksi banyak orang sebelumnya.

Sebaliknya, seperti yang telah saya ulangi berkali-kali sebelumnya, perang ini akan menjadi titik awal kemunduran imperium AS.

Masih berpikir konflik AS-Iran hanyalah “sandiwara”? Itu pertanda bahwa kita masih belum memahami politik sebenarnya dari kekuatan-kekuatan besar dunia.

Jika Anda ingin lebih memahami masalah sebenarnya, dapatkan buku terbaru saya, GEOPOLITIK DUNIA ISLAM, yang merupakan buku terlaris yang diterbitkan oleh The Patriots selama PBAKL terakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. sangat mundur, waktunya drun buktikan tulisannya dg stop pakai google fb dan microsoft sebab itu bukti imperium as, beralihlah ke punya komunis china

    1. Guoblok…Guoblok lu ANJING PENJILAT gerombolan TerMul dan TerWo BabRun Jaringan ANak CUcu Keturunan (JANCUK) PKI‼️
      Hdeehhh kau itu semakin terbukti isi otak kau itu sangat minim‼️ Woiiii Guoblok…kalau senjata yang dipakai musuh kita rebut dan kita pakai jg sbg alat perlawanan kepada mereka apakah itu salah hai Anonim Guoblok ⁉️
      Itu sama juga dg menggunakan Facebook dll. Kita pakai buatan mereka untuk bisa menjadi alat memerangi mereka. Masak begini aja kau tak paham sih⁉️
      Oh aku hampir lupa kalau otak PLUS AKAL kau itu TIDAK ADA‼️😂😜😝🤣