βπ»Rahmatul Husni
“Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa ga pakai dolar.”
Ternganga saya waktu pertama lihat cuplikan video itu π
Refleks langsung cross check ke beberapa sumber resmi. Sempat husnudzhan jangan-jangan AI atau editan. Tapi ternyata memang pernyataan asli Presiden dalam sebuah pidato publik.
Astagaa, Paak⦠Pak.
Kalimat yang beliau ucapkan itu mungkin terdengar sederhana, bahkan mungkin dimaksudkan untuk menenangkan rakyat. Bahwa pangan aman, energi aman, Indonesia masih baik-baik saja. Tapi problemnya, ekonomi tidak bekerja sesederhana ,”Rakyat desa tidak pegang dolar.”
Soalnya ketika dolar naik, efeknya merembes ke mana-mana. Pupuk naik, pakan ternak naik. BBM terpengaruh, biaya logistik naik. Harga bahan baku naik. Obat-obatan naik. Elektronik naik. Sampai sayur langganan ibu-ibu komplek pun ikut naik π
Jadi meskipun rakyat desa tidak transaksi pakai dolar, mereka tetap terkena efek dari melemahnya rupiah.
Masa iya hal ini kurang dipahami elit?
Orang kecil itu tidak membaca grafik ekonomi. Mereka membaca harga cabai. Harga telur, minyak goreng, susu anak dsbβ¦
Ketika rakyat mulai sering mengeluh di warteg, pasar, warung bakso, itu biasanya tanda ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja di level bawah.
Walaupun di sisi lain, saya juga berusaha adil melihat konteksnya. Pernyataan seperti itu kemungkinan lahir dari perspektif ketahanan pangan. Maksudnya mungkin begini: Indonesia jangan terlalu panik selama kebutuhan pokok masih aman. Memang Negara yang kuat pangannya biasanya lebih tahan krisis. Masalahnya, banyak rakyat menjerit karena kebutuhan pokoknya juga sudah tak terpenuhi.
Lagipula, komunikasi publik itu penting π
Kalimat yang salah timing atau salah framing bisa terasa menyakitkan bagi rakyat yang sedang ngos-ngosan bertahan hidup.
Mungkin inilah tantangan terbesar para elit. Memahami keresahan rakyat bukan lewat laporan statistik semata, tetapi lewat denyut kehidupan sehari-hari.







Miris walau sangat kental keturunan ekonom tersohor dinegeri ini tapi nggak ngerti apa2
Mau dimakulmi karena faktor usia keterlaluan karena eksistensinya berdampak bikin rakyat sengsara.