✍🏻Ismail Amin
Tanggapan saya atas pembelaan Ust. Zaitun Rasmin, pimpinan Wahdah Islamiyah atas keputusan Presiden Prabowo membawa Indonesia bergabung ke BoP (videonya bisa di lihat di postingan saya sebelumnya, saya share langsung dari akun resmi WI):
Pertama. Beliau menganalogikan bergabungnya Indonesia ke BoP seperti masuknya Nabi Musa as ke dalam istana Fir’aun yang justru menjadi blunder bagi Fir’aun kelak. Ini analogi yang dipaksakan. Nabi Musa as masuk istana Fir’aun adalah intervensi Allah SWT yang menjadikan cara itu sebagai jalan keselamatan bagi Nabi Musa as yang terancam nyawanya. Itu skenario Ilahi. Bukan strategi politik, bukan hasil perhitungan diplomatik, bukan manuver geopolitik. Semua diintervensi Allah mulai dari membisikkan iham ke Ibunya Nabi Musa, menggerakkan peti menuju ke dalam istana, membuat istri Fir’aun melihat dan mengambil peti yang berisi bayi, melunakkan hati Fir’aun. Itu semua kerja-kerja ‘langit’ yang berada di luar perencanaan logika manusia.
Menyamakan peristiwa itu dengan keputusan politik modern berarti mencampuradukkan dua ranah yang sangat berbeda: wilayah takdir ilahi dan wilayah kalkulasi kekuasaan.
Kedua. Ust. Zaitun mengakui PBB sudah dikuasai penjahat-penjahat sehingga dengan itu tidak lagi bisa diharap membantu Palestina dan bergabung dengan BoP membuat harapan itu kembali ada. Padahal kenyataannya, penjahat-penjahat di PBB yang kerap menghalangi agenda penghentian genosida di Gaza justru AS dan Israel sendiri. Dua entitas inilah yang justru menjadi arsitek utama dibuatnya BoP. Apa logis penjahat yang ada di PBB yang menolak mengakui Palestina, yang memveto resolusi PBB soal gencatan senjata, memveto resolusi PBB yang meminta Israel menghentikan genosida diharap memberi perdamaian di Palestina? Justru BoP dibentuk oleh Trump karena merasa tidak lagi sejalan dengan agenda-agenda PBB bahkan Trump telah mengeluarkan AS dari banyak lembaga internasional PBB termasuk WHO. Jadi logika apa yang bisa membenarkan BoP malah diharap bisa menyelesaikan konflik di Gaza, kecuali itu nyata hanya untuk kepentingan geopolitik AS sendiri bukan untuk kepentingan nasional rakyat Palestina. Apa itu logika agama yang dipahami Wahdah Islamiyah?.
Ketiga. Ustad Zaitun meminta kita untuk membuka pikiran dan wawasan untuk memahami bergabungnya Indonesia ke dalam BoP. Padahal memberi analogi yang tidak tepat justru membuat umat makin tidak paham. Kok bisa kita diminta percaya pada kepemimpinan orang Kafir (harbi lagi) untuk bisa menyelesaikan masalah Palestina? Kok bisa ulama bisa sepakat dan mendukung kebijakan yang seterang ini dapat menjerumuskan Palestina pada penjajahan baru? Apa bukan namanya penjajahan jika Palestina direkontruksi, dibangun kembali, diatur semua kepentingan nasionalnya tanpa sama sekali melibatkan Palestina di dalamnya? Penjajahan yang dibungkus atas nama kemanusiaan dan didukung oleh dalil-dalil agama.
(*)







Komentar