Dari fb Ahmad Tsauri:
“Pada Januari-Februari, 2025, saya beberapa kali bertemu dengan makelar Yayasan Purnawirawan, SPPI utusan BGN dan bertemu owner-owner SPPG yang sudah berjalan. Waktu itu 1500 ompreng sudah mendarat di kantor saya.
Kesimpulannya, MBG ini sudah “korup sejak dalam ide dan gagasan”. Mayoritas skemanya dapur-dapur itu, via Yayasan Purnawirawan atau selevel misalnya Jalur partai, kemudian Yayasan makelar, lalu mitra pelaksana.
Ada juga mitra langsung BGN tapi biasanya ada orang dalam. Jalur paling atas minta 2000 per ompreng, tiap hari, selama dapur MBG berjalan, level dua minta 1500-2000. Belum pungutan lainnya.
Dapur saja dari aspek penganggaran dan pengadaan barang sarat korupsi, apalagi BGN. Jadi kalau Dadan dituduh korupsi 1 miliar perhari terlalu kecil, atau Zulkifli Hasan ngomong MBG dikorupsi 1 triliun perbulan hanya untuk mengecilkan masalah.
Faktanya dari 335 Triliun, 88 Triliun terbuang jadi sampah karena tidak dimakan. Selebihnya dikorupsi secara sistemik dari BGN sampai dapur.
Jadi kalau demo minta Prabowo turun itu disebut makar, bagaimana kalau kita demo rame-rame MBG, Kopdes dan proyek 750 Batalion anu dihentikan? Kita selamatkan anggaran MBG 2027 270 Triliun, Kopdes 200 Triliun dan anggaran Batalion 200 trilunan.
Jangan sampai APBN 2025-2029, sebesar 22.000 triliun hanya dibuat mainan Prabowo dan para penjilatnya?”
(sumber: fb)







ya nggak jadi sampah, anak saya 4, semua merasakan manfaat MBG. yang biasanya bawa bekal dari rumah sekarang sudah nggak bawa bekal. Banyak manfaat bagi anak-anak dan orang tua.
kasian makan aja bangga disuapin negara, saking hematnya biar dananya bisa untuk biaya sekolah kuliah anaknya & setelah lulus kerja di dapur MBG & bayar pajak buat MBG
komen pegawai SPPG….wkwkwk
alhamdulillah…. pak Umar sudah banyak tabungan nya, mudah²an bisa cepat naik haji
Kenapa gak sekalian saja suruh anaknya bawa bekal sisa² bekas anak lain yang gak mau makan MBG jadi ga mubazir bisa dimakan sekeluarga bisa lebih hemat lagi anggaran dapur Pa Umar.
Dijelaskan sejelas jelasnya, dibuktikan selengkap lengkapnya pun yang namanya gerombolan TerMul dan TerWo BabRun Jaringan ANak CUcu Keturunan (JANCUK) PKI itu mana mau tahu dan tak mau paham. Lihat aja komennya makhluk yang pakai nama ANONim (Akal Nol, Otak miNim) yang biasa komen disini. Terbukti kan kalau mereka semua GUOBLOKKKK dan PECINTA KEZALIMAN⁉️🤣
mohon maaf kalau bicara politik kita lelah, tapi yg punya anak dan hidup pas2an pasti bersyukur dg mbg ini, tentu gaada yg sempurna tp jangan serta merta program bagus dihujat hanya karena politik, yg ga sempurna disempurnakan
lha makanya itu, sejak awal sudah banyak usulan MBG hanya utk daerah 3T serta siswa sekolah dari keluarga prasejahtera, menengah ke bawah, atau pas-pasan supaya tepat sasaran & efisien biaya. tapi maunya pak ndas emua golongan dapat, walhasil korupsi gila-gilaan lah jadinya
anak si Dadan nih ☝️🤣🤣🤣
A:pilih makan saat sekolah, bayar sekolah kuliah jadinya mahal, lulus nganggur gak ada lapangan kerja
B:pilih kuliah gratis & lapangan kerja/pabrik/manufaktur. Bisa mandiri, sejahtera, bisa bagi makanan gratis dari dompetnya bukan dari pajak
setuju…. mbg program yg bagus, yg ga sempurna (keracunan hanya 1%). yg korupsi hanya 4 orang, sedangkan karyawan bgn bisa ratusan atau ribuan. artinya yg ga sempurna hanya sedikit. ini bukan bicara politik tapi bicara tentang rampok uang rakyat
Yang enak emang cuma mikirin perutnya sendiri. Berapa banyak perut pemilik kantin sekolah yang terdampak, berapa banyak perut pedagang di sekitar sekolah beserta keluarganya yang menangis karena omzet menurun, berapa banyak emak² dan keluarga yang menjerit karena banyak barang dagangan yang naik, dst….
EGP…. yang penting perut anak gua kenyang 🤣
Bagi penerima manfaat MBG dan anak nya tidak keracunan wajib bersyukur, apalagi sebelum ada program MBG anak nya tidak dikasih makan siang, syukur nya tentu lebih tebal lagi.
Saya hanya mendoakan bagi penerima manfaat MBG, semoga Putra putri nya menjadi anak yang cerdas, tidak stunting dan bisa menjadi pejabat seperti Prabowo Subianto atau Gibran Rakabuming Raka