MENYELAMI KEGUNDAHAN GENERASI MUDA
Oleh: Beni Sulastiyo
Dalam berbagai aksi yang digelar mahasiswa dan anak-anak muda, terdengar teriakan revolusi di mana-mana. Namun, tak semua. Sebagian menawarkan gagasan Reformasi Jilid II.
Saya tak menyoal istilah yang digunakan oleh para demonstran. Saya hanya meyakini, bahwa saat ini perasaan mereka sedang dilanda gundah gulana. Gundah gulana dengan masa depan diri mereka yang tinggal di Republik ini.
Lewat tulisan ini, saya igin mengajukan hipotesis bahwa penyebab utama kegundahan potensial generasi muda adalah tentang “keadilan sosial” yang makin jauh panggang dari api. Keadilan sosial yang dimaksud adalah keadlian sosial sesuai dengan tafsir para founding fathers. Yang berkaitan erat dengan persoalan ekonomi.
Paska tumbangnya Orde Baru, persoalan ekonomi kita memang tak kunjung membaik. Ketimpangan ekonomi justru semakin parah. Kondisi ini semakin mencolok pada era presiden Jokowi yang secara blak-blakan menunjukan keberpihakannya kepada segelintir orang.
Data paling mutakhir tentang ketimpangan ekonomi yang sangat mencolok dikeluarkan CELIOS beberapa waktu yang lalu. Mereka mengatakan bahwa pada tahun 2026, sekitar 50 orang WNI yang memiliki kekayaan senilai Rp 4.600 trilyun. Kekayaan itu setara dengan kekayaan 55 juta rakyat Indonesia. Pada tahun 2050, Celios memperkirakan kekayaan 50 orang Indonesia itu akan setara dengan 111 juta penduduk Indonesia. Celios juga menyatakan bahwa sumber kekayaan ke 50 orang tersebut berasal dari sumber daya alam, misal dari pemberian konsesi hutan, tambang nikel, atau tambang batu bara.
Sementara, dalam keberlimpahan segelintir orang tersebut, kita melihat beberapa fakta sebagai berikut:
- Ada 194,72 juta orang (68,3% populasi) yang berpendapatan di bawah Rp 150.000 sehari.
- Ada 29 juta rakyat Indonesia yang tidak memiliki rumah
- Ada 7,24 juta orang dari 154 juta tenaga produktif yang tak punya pekerjaan.
- Ada 12,3 juta orang terjerat judol. 19,5 juta orang menjadi konsumen Pinjol.
- Ada 4 juta orang yang tak lulus SD
- Ada 4,5 juta anak kita yang masih mengalami kekurangan gizi (stunting).
Namun, aparatur negara dan aparatur pemerintah yang diharapkan dapat memperbaiki ketimpangan, malah berlomba-lomba memperkaya dirinya dengan merampok uang yang dikumpulkan dari pajak rakyat. Dan perilaku aparatur negara dan aparatur pemerintah ini tak membaik sejak awal reformasi hingga detik ini.
Jadi wajar jika generasi muda gundah gulana. Mereka pasti berpikir, tanpa perbaikan yang menyeluruh, hidup di negara ini tak ada yang bisa diharapkan. Sebab selama puluhan tahun pemerintah dan penguasa akan selalu berpihak pada segelintir orang kaya. Sebab selama puluhan tahun aparatur negara tak pernah serius memikirkan perbaikan ekonomi. Sebab berpuluh tahun para pejabat negara kecanduan merampok uang rakyat.
Gimana nasib kami nanti? Gimana nasib anak-cucu kami kemudian? Gundah gulana!
Begitulah mungkin perasaan mereka saat ini. Jangankan generasi muda, saya yang sudah tua aja masih gundah gulana.
Maka, saya tak heran jika mahasiswa marah, menggelar aksi protes dimana-mana, lalu meneriakan revolusi atau reformasi.
Saya pribadi, terserah aja apa namanya, MAU REFORMASI, MAU REVOLUSI, terserah. Dan terserah juga gimana caranya. Yang jelas saya sepakat negeri ini harus memperbaiki diri dengan teramat serius. Secepat-cepatnya, setepat-tepatnya.
Berkahselaloe,
Bungben, 18.6.26







si GUOBLOKKKK ANONim (Akal Nol, Otak miNim) gerombolan TerMul dan TerWo BabRun Jaringan ANak CUcu Keturunan (JANCUK) PKI sangat senang dengan kondisi negeri seperti saat ini. Biarpun pengangguran tapi masih bisa dapat BLT, subsidi dan sejenisnya dari penguasa andalannya mbah Wowo aNTEK asing Gemoy omon omon itu😜😂😝🤣
nah…. yang 4 juta orang yang tak lulus SD dikasih MBG nanti dia akan cerdas sendiri secerdas Prabowo Subianto dan atau Gibran Rakabuming Raka 👍
10+6 = 17 ?
🤣🤣🤣
asam folat = asam sulfat ?
🤣🤣🤣