Lugas dan tajam.
Gw suka banget sama argumen yang berbasis data seperti ini.
Media Wahyudi Askar (dari MBG Watch) di acara diskusi SATU MEJA THE FORUM KOMPAS TV (18/6/2026):
Kalau kita lihat data, stunting paling besar itu Papua Pegunungan, 40%. Berapa jumlah SPPG di sana? 13.
Sulawesi Barat, stunting itu 35%. Jumlah SPPG di sana 177.
Jawa Barat, stunting hanya 15%. Jumlah SPPG di sana 6.357.
Jadi anggapan bahwa ini adalah program penanganan stunting nggak masuk akal dengan data hari ini.
Saya mau respon juga, soal anggapan bahwa masyarakat mendukung MBG. Saya mungkin kalau boleh undang mungkin Mas Edy dan udah Andre (Andre Rosiade, politikus Gerindra yang juga narsum di acara ini) untuk datang ke kampus-kampus.
Cara melakukan riset preferensi publik. Nggak bisa kita hanya tanyakan, kamu suka nggak dengan MBG? Nggak bisa. Ada metodologinya.
Karena kalau seandainya masyarakat ditanya, dapat makanan tentu lebih baik daripada tidak dapat makanan sama sekali. Pasti itu. Itu kenapa yang harus dilakukan adalah discrete choice method. Tawarkan pada mereka apa yang bisa dilakukan dan biarkan mereka memilih. Jadi saya hanya ingin bilang, kalau bicara soal keinginan masyarakat harus berbasis dengan bukti yang empiris juga.
Saya berharap Pak Presiden menghentikan program ini. Karena kalau seandainya tidak dihentikan dan pelaksananya masih punya konflik kepentingan, ini tidak akan selesai. Tahun 2027, 2028, 2029 kita akan berbicara masalah yang sama.
Dan satu lagi mas, saya meneliti tentang bantuan sosial di hampir seratusan negara seluruh dunia.
Dan hanya di Indonesia yang setengah jumlah bantuan sosialnya itu dinikmati oleh penyelenggaranya.
Kalau bicara soal hak anak-anak itu bukan 8 ribu sebetulnya, 15 ribu anggarannya. Dan 7 ribunya habis untuk penyelenggaraan.”
[VIDEO]
VIDEO FULL KOMPAS TV: https://www.youtube.com/watch?v=PwPM3-CDZPI







terwo ngumpet
HANYA DI INDONESIA BANTUAN SOSIAL JUSTRU BANYAK DINIKMATI OLEH PENYELENGGARA NYA. TAJAM & CERDAS. ITU REALITA BANGET