NEGARA TANPA HARAPAN: Tragedi akhir hidup anak SD di NTT
✍🏻Meilanie Buitenzorgy
“Surat buat Mama
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama”.
Subuh ini di atas sajadah, saya menangisi kepergian Yohanes, bocah SD di NTT yang berpulang ke pangkuan Illahi karena gantung d!r!
Saya kembali ke laptop untuk berkali-kali membaca pesan terakhir Yohanes di atas secarik kertas lusuh.
Dan saya semakin terguncang.
Ketika seorang bocah miskin ekstrem mengakhiri hidupnya, satu pesan pahit yang ia tinggalkan kepada kita yang masih hidup:
bahwasanya (Pemerintah) Negara ini tak becus memberi HARAPAN apalagi SOLUSI kepada anak-anak.
Yang lebih menyakitkan, polisi malah seenak jidat menyimpulkan sang bocah bund!r bukan karena kemiskinan, tapi karena dimarahi ibunya.
Kita tak mungkin bisa lagi bertanya kepada almarhum Yohanes mengapa ia nekad mengakhiri hidupnya. Namun, kita dianugerahi otak, kewarasan dan hati nurani untuk menganalisa dari rangkaian fakta.
FAKTA LATAR BELAKANG:
1) Yohanes lima bersaudara, anak dari seorang ibu miskin ekstrim single parent yang bekerja sebagai petani serabutan.
2) Yohanes bersekolah di SD Negeri di Kecamatan Jerubuu.
3) Tidak ada bank di kecamatan Jerubuu. Bank terdekat baru ada di kota kabupaten Ngada yang berjarak 18 km dari kecamatan Jerubuu.
4) Keluarga Yohanes baru pindah dari kabupaten Nagekeo ke kabupaten Ngada. Akibat kepindahan ini, mereka tidak terdaftar sebagai penerima Bansos pemerintah.
FAKTA KEJADIAN SEBELUM TRAGEDI:
1) Yohanes minta dibelikan buku dan pulpen pada Mamanya, tapi Mama tak punya uang untuk membelinya. Untuk sekolah, Yohanes berbekal buku tulis bekas yang sebagian halamannya sudah terpakai.
2) Yohanes ditagih tunggakan cicilan uang sekolah SETIAP HARI oleh pihak sekolah. Anak-anak yang masih menunggak dikumpulkan setelah selesai jam sekolah SETIAP HARI oleh pihak sekolah. Mereka dikumpulkan untuk menyampaikan TAGIHAN ke orang tua masing-masing SETIAP HARI.
3) Yohanes tidak mau masuk sekolah beberapa hari karena sakit.
4) Mama menegur Yohanes yang tidak mau berangkat sekolah berhari-hari akibat sakit main hujan-hujanan.
5) Pihak sekolah minta Yohanes menyampaikan pada Mama untuk mencairkan beasiswa PIP.
6) Beasiswa PIP hanya bisa dicairkan di bank, sementara di kecamatan Jerubuu tidak ada bank.
7) Mama Yohanes yang begitu miskin, entah bagaimana caranya, akhirnya bisa mencapai bank di kota kabupaten terdekat yang berjarak 18 km dari Jerubuu. Namun pengajuan pencairan beasiswa DITOLAK pihak Bank BUMN karena data kependudukan Mama tercatat di kabupaten lain (Nagakeo). Mama diminta mengurus surat keterangan domisili terlebih dahulu.
8 ) Mama kembali ke Yohanes dengan tangan hampa, beasiswa belum bisa dicairkan. Nanti Mama urus lagi.
9) Yohanes meninggalkan pesan dalam bahasa lokal untuk Mama yang ditulis dengan PULPEN tinta hitam di secarik kertas. Surat yang menyebut Mama 6x dan berisi PENGHIBURAN untuk sang Mama. Surat yang mengekspresikan betapa sayangnya Yohanes pada Sang Mama.
ANALISA PENYEBAB YOHANES MENGAKHIRI HIDUP:
- Yohanes menulis pesan terakhir dengan PULPEN, maka MUSTAHIL ia mengakhiri hidup karena tak punya pulpen.
- Pesan terakhir Yohanes berisi penghiburan dan ekspresi cinta mendalam pada sang Mama, maka MUSTAHIL ia mengakhiri hidup karena dimarahi Mama.
Penjelasan yang paling masuk akal:
Yohanes mengakhiri hidup karena TAK KUAT menghadapi tekanan tagihan uang sekolah SETIAP HARI. Itu juga penyebab kenapa ia tak mau masuk sekolah berhari-hari. Ia sungguh tak kuat menghadapi masalah uang sekolah yang TIAP HARI dijejalkan padanya.
Satu-satunya harapan solusi dari beasiswa PIP gagal didapatkan Mama karena persoalan administratif yang pastinya tak dipahami bocah umur 10 tahun. Ia tak melihat ada harapan sang Mama yang begitu miskin mampu pergi ke kota lagi esok-esok hari untuk melanjutkan pengurusan beasiswa. Ongkos pergi ke kota bagi Mama adalah opportunity cost yang bisa jadi lebih mahal dari pembeli makan sehar-hari.
Sementara, kalau pergi ke sekolah esok hari ia harus menghadapi lagi masalah TAGIHAN uang sekolah.
Masalah ini terlalu pelik untuk seorang bocah 10 tahun. Negara tak memberinya harapan apalagi solusi untuk melanjutkan hidup tanpa tekanan esok hari.
Dan ia pun mencabut nyawanya sendiri dengan seutas tali .
Saya sungguh-sunguh terguncang.
Sedih dan marah bercampur jadi satu.
Anak-anak tak mampu membeli peralatan sekolah, orang tua tak mampu membayar biaya sekolah, infrastruktur sekolah yang tak layak atau rusak, sekolah tak cukup dana untuk membayar gaji guru, guru honorer rela jalan kaki belasan km dengan gaji ratusan ribu per bulan. Itu semua persoalan klasik yang tak pernah mampu dibereskan oleh Negara ini.
Kita pernah ber-husnuzhan mungkin Negara tak punya cukup uang untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia sejumlah 10x lipat populasi Australia. Tapi, setelah Negara ini memutuskan hal-hal berikut TANPA diskusi publik alias public hearing sebagaimana pemerintahan Negara demokratis dan beradab seharusnya dijalankan:
- Alokasi proyek MBG 335 Trilyun per tahun
- Alokasi proyek gentengisasi 1 Trilyun
- Alokasi 17 Trilyun untuk iuran Board of Peace
- Alokasi 7,9 Trilyun untuk program bagi-bagi TV untuk sekolah-sekolah
- Alokasi 251 Trilyun untuk Kopdes Merah Putih
- dan rupa-rupa pemborosan anggaran lainnya
maka kita disuguhi fakta keras bahwa UANGNYA SEBENARNYA ADA, bukannya tidak ada.
Kita punya cukup uang untuk memberi solusi untuk Yohanes.
Ingat, 80% anggaran Negara, berasal dari PAJAK KITA bukan dari batu bara, nikel, sawit dll yang entah uangnya mengalir kemana.
Kita mengamanatkan uang kita pada pengelola Negara agar uang kita itu sampai ke Yohanes sebelum ia depresi lalu gantung d!r!.
Kita ingin uang kita digunakan untuk menjadi SOLUSI bagi permasalahan-permasalahan klasik di atas.
Tapi pengelola Negara tidak menyampaikan uang kita pada Yohanes. Uang kita malah dialokasikan untuk proyek-proyek bancakan yang tak menjawab persoalan klasik rakyat jelata.
Seandainya MBG benar-benar diniatkan untuk mengatasi persoalan kemiskinan, harusnya Yohanes yang paling dulu diberi makan. Bukan anak teman saya yang bersekolah di salah satu sekolah swasta termahal di Bogor.
Dan iya, anak teman saya itu sempat opname di RS karena keracunan MBG.**
Akar permasalahan tragedi Yohanes adalah ketidakbecusan pengelola Negara.
Polisi, entah karena tolol natural atau orderan pihak tertentu, mereduksi persoalan tersebut menjadi sekedar masalah keluarga, bahkan secara SADIS meng-kambinghitam-kan Mama Yohanes.
Maafkan kami, Nak.
Maafkan kami…
Maafkan kami….
Ampuni kami…
Rest in Peace beautiful soul…
😭😭😭😭







Komentar