28 Oktober 1928 hari yang sangat bersejarah, saat itu sekumpulan pemuda lulusan pendidikan Belanda bersumpah untuk bersatu menjadi bangsa Indonesia.
Pertemuan itu dipelopori Mohammad Yamin (24 Agustus 1903 – 17 Oktober 1962), tokoh pemuda dari Sumatra lulusan pendidikan hukum Belanda, gelarnya Mister kalau sekarang ya sarjana hukum
Mr Mohammad Yamin ini terinspirasi ilmu sejarah dari Eropa terutama Prancis, bahwa Prancis itu bisa menjadi maju karena Revolusi Prancis yang berhasil menghapus Sistem Kerajaan dan mengubahnya menjadi National State Republik Prancis… Mohammad Yamin dan teman temannya termasuk Ir Sukarno sangat ingin Nusantara menjelma menjadi National State Republik Indonesia.
Faham nasionalisme ini disebarkan lewat kongres-kongres pemuda dan berhasil diwujudkan saat proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.
Mr Mohammad Yamin juga sangat terinspirasi pelajaran sejarah Majapahit yang waktu itu mulai mengenal nama Gajah Mada, dan Mr Mohammad Yamin berimajinasi seolah olah wajah Gajah Mada itu mirip dengan wajah dirinya. Dan sejak itu mukanya jadi “versi resmi” muka Gadjah Mada.

Demikianlah sejarah tumbuhnya faham nasionalisme Indonesia.
Kita sebagai ummat Islam sudah maklum dan faham jika tugas utama kita hidup adalah ibadah istiqomah, urusan kebangsaan biar yang mengurus ahli kebangsaan seperti anggota Banser yang berteriak NKRI HARGA MATI.
Menurutku yang harga mati itu bukan NKRI, karena NKRI itu buatan manusia seperti Mohammad Yamin dan Sukarno, sedang kita fokusnya cukup ibadah istiqomah. Surat Al-Hijr ayat terakhir adalah:
“وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ”
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu ajal”.
Ayat ini menekankan pentingnya istiqamah dalam beribadah kepada Allah SWT sampai akhir hayat husnul khotimah.
*Ket. gambar atas: Foto Mohammad Yamin dan hasil imajinasi Mohammad Yamin ketika melukis Gajah Mada
(Muhtasib)






