Istilah “Blok Politik” seperti yang dipakai Ketua DPP NasDem, Willy Aditya, terkait pertemuan empat mata antara Surya Paloh dan Prabowo, ternyata jauh lebih ngeri (dalam) daripada istilah “Merger” yang dipakai Majalah Tempo.

“Blok Politik” yang dipakai Willy Aditya merujuk kepada Sekber Golkar atau UMNO di Malaysia. Kekuatan riil dalam suatu negara bergabung dalam satu wadah organisasi.
Jadi tidak ada urusan dengan masalah bisnis Surya Paloh, masalah pindahnya beberapa elite NasDem ke PSI, termasuk “Merger” atau “Fusi” antara NasDem dan Gerindra itu sendiri. Istilah Willy Aditya masalah internal partai adalah masalah semua partai, tidak hanya masalah NasDem saja. Bahkan, PSI tempat elite NasDem itu pindah dianggap sebetulnya juga bermasalah.
Willy Aditya merasa tak perlu membela diri. Publik sebetulnya bisa melihat sendiri apa yang dilakukan NasDem dan Surya Paloh. Partai pertama yang mengucapkan selamat kepada Prabowo, dan tak ada meminta imbalan kursi di kabinet. Bahkan, soal politik dinasti, anak Surya Paloh, jangankan menjadi menteri, Ketua Komisi di DPR saja, tidak diberikan.
Bahkan, Willy Aditya sendiri, saat tahu akan kalah pada Pilpres lalu, dia meminta Anies Baswedan segera menyiapkan pidato kekalahan. Willy mengklaim bahwa NasDem adalah partai yang paling nyaman bagi politisi. “Silakan dicek,” kata Willy, kepada host Gaspol Politik Kompas.com, yang tayang kemarin (20/4/20260.
Jadi, pertemuan empat mata antara Surya Paloh dan Prabowo itu pertemuan dua orang sahabat, yang membicarakan gagasan, bukan politik dagang sapi, apalagi hendak menggabungkan diri (fusi) antara NasDem-Gerindra. Majalah Tempo jelas sangat keliru. Bahkan, Willy Aditya, tak menerima kekeliruan itu sebagai bentuk kontrol sosial dari pers (media).
“Blok Politik” tidak hanya parpol yang bergabung dalam satu wadah, tapi juga Ormas, LSM, Serikat Pekerja, dan lain-lain. Persis seperti Sekber Golkar dulu atau UMNO di Malaysia. Bung Karno dulu juga pernah membuat Front Nasional, kata Willy Aditya.
Berarti, memang serius apa yang dibicarakan Surya Paloh dan Prabowo, empat mata di Hambalang itu.
Kalau “Merger” atau “Fusi” seperti yang dibahas oleh Majalah Tempo itu, kesannya posisi Surya Paloh atau NasDem berada di bawah. Kayak orang yang merengek-rengek atau mengemis minta dibantu, karena dalam kesulitan yang besar. Tapi kalau “Blok Politik” yang dibahas, maka posisi Surya Paloh dan Prabowo, relatif setara. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.
Apalagi Surya Paloh dan Prabowo sama-sama pernah di Golkar. Artinya, Sekber Golkar, UMNO, atau Front Nasional ala Bung Karno, pastilah keduanya paham sekali. Bahkan, langkah-lanhkah ke arah pembentukan itu keduanya mungkin sangat berpengalaman. Berarti, ini tidak saja sedang menyiapkan terbentuknya kekuatan besar, tapi juga hendak melawan kekuatan besar dan jahat yang selama ini menggerogoti Indonesia.
Pertanyaannya, partai mana lagi yang akan diajak bergabung dalam rencana membuat “Blok Politik”, selain NasDem dan Gerindra? Ormas, LSM, Serikat Pekerja, dan lain-lain, mana pula yang akan diajak bergabung dalam “Blok Politik” itu? Dan terakhir, kekuatan besar dan jahat mana pula yang sebetulnya akan ditumbangkan oleh “Blok Politik” seperti yang didiskusikan Surya Paloh dan Prabowo itu? Silakan dijawab sendiri. 🙏✌ (ERIZAL)
SIMAK SELENGKAPNYA VIDEO:







bang Paloh ngingetin si Wowo kali kok memerintah ga sesuai janji kampanyenya .baru 2 thn berjalan sdh byk yg kita dia turun
bossnya si wan imigran gelap 🤣🤣🤣
bapaknya pahlawan nasional tong…
lha orang tua lu apa jasanya????
mungkin nyesel ngelahirin elu tong..