Anggota DPR semprot Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya secara langsung di depan muka saat rapar kerja di DPR, Senin (20/4/2026).
Pertanyaan yang paling mendasar yang dia lempar:
Kalau kita sudah punya big data, punya e-KTP
masa dimintain fotokopi KTP lagi?
Gua punya KTP untuk apa?
Masih dimintai fotokopi KTP.
Kan aneh.
Surat lahir,
Surat baptis masih diminta.
Wah, pusing. Negara kita kayak begini.
Ini bukan pertanyaan teknis yang butuh jawaban panjang.
Ini pertanyaan yang semua orang Indonesia pernah tanyakan dalam hati setiap kali berurusan dengan birokrasi.
Dan jawabannya tidak pernah memuaskan selama puluhan tahun.
Faktanya yang bikin makin miris perbandingan dengan Malaysia:
Indonesia punya e-KTP sejak 2011.
Ada chip NFC.
Ada data biometrik.
Teknologinya canggih.
Anggarannya triliunan rupiah.
Malaysia punya kartu yang secara teknologi identik namanya MyCAD.
Bedanya satu hal:
Malaysia benar-benar memakainya.
Di Malaysia mau isi BBM subsidi tinggal tap MyCAD di pompa bensin.
Sistem langsung cek identitas, cek kuota, kasih harga subsidi otomatis.
Tidak perlu antri.
Tidak perlu surat keterangan.
Tidak perlu aplikasi.
Tidak perlu barcode.
Setiap warga dapat kuota 200 liter per bulan.
Kalau kuota habis bayar harga normal.
Tidak bisa diakali.
Kalau ketahuan curang kuota diblokir permanen.
Hasilnya:
pemerintah Malaysia hemat RM600 juta per bulan.
Penjualan diesel bersubsidi turun 30%. Penyelundupan langsung terdeteksi.
Indonesia?
e-KTP yang sama teknologinya selama 15 tahun masih dipakai untuk difotokopi.
Dan ini yang paling menohok dari pernyatannya:
Kita harus bilang kita lebih bodoh dari orang Malaysia kalau urusan ini.
Karena enggak pernah kelar.
Kalimat itu keras.
Tapi tidak salah.
BNI punya data nasabah sendiri.
Pertamina buat sistem data sendiri untuk subsidi.
KPU setiap pemilu buat pendataan pemilih sendiri yang nilainya triliunan setiap siklus.
BPJS punya database sendiri.
Kemendikbud punya data sendiri.
Kemensos punya data sendiri.
Semua lembaga membangun silo data masing-masing.
Semua dengan anggaran masing-masing. Semua dengan vendor masing-masing.
Semua dengan tender masing-masing.
Dan di ujung semuanya data tetap tidak terintegrasi. Rakyat tetap diminta fotokopi KTP setiap kali berurusan.
Sudah 80 tahun merdeka. Sudah 15 tahun punya e-KTP. Dan kita masih dimintai fotokopi KTP untuk mengurus KTP.
Kalau itu bukan kegagalan sistemik yang harus dipertanggungjawabkan gue tidak tahu apa lagi namanya.
[VIDEO]







beu…lupa si moncong putih kemaren 10 thn berkuasa
ga ngapa- ngapain selain merusak dibawah pimpinan petugas partainya yg bernama si Jack.
asem lu….
beda orang bos, yang pdip namanya arya Bima. Kalau ini Bima arya mantan walikota Bogor dari pan. Benci partainya sih boleh aja tapi didasarkan fakta dong masa kayak si ahmad Luthfi dibilang oleh pendukungnya kdm dari pdip padahal kan satu partai di gerindra 🤣 kirain ente orang Jakarta apa Bogor masa gak tau sih Bang Lades? gue aja yang orang daerah pelosok aja tau. Atau jangan jangan ente juga dari daerah terpencil melebihi ane?
….pindah alamat hrs cabut nama, pdhl di jepun pemkot tinggal klik data dukcapil ketahuan semuanya. Alamat baru ditulis pakai tangan, distempel hanko ditutup pake selotip….selesai ktp dgn alamat baru. Proses gk sampe 10 menit….
Ganti Rejim semua berlomba2 bikin program & project untuk mengembalikan Dana sponsor & membayar para buzzer, Visi Misi hanya kebutuhan kampanye