Dokter Tifa: Saya menolak tunduk

Hari ini, 21 April 2026. Hari Kartini.

Banyak orang bicara emansipasi.
Banyak yang unggah foto berkebaya.
Banyak yang kutip nama Raden Ajeng Kartini.

Tapi izinkan saya bertanya satu hal:

Kalau Kartini hidup hari ini, dia akan diam atau melawan terhadap kepalsuan ijazah?

Kursi di ruang pemeriksaan Direskrimum Polda Metro Jaya itu,
adalah batu uji sebuah keteguhan.

Di situlah dua orang termul, berinisial AA dan FA mendatangi saya di hari Kamis, 29 Januari 2026, tiga bulan lalu.

Merela datang bukan membawa kebenaran. Tapi membawa opsi untuk menghentikan kebenaran.
Satu kata mereka dorong kepada saya:

RJ. Restorative Justice.

RJ menjadi Bahasa halus dari satu kalimat:

“Sudahi saja. Jangan lanjut.”

Lalu mereka tambahkan tekanan:

“Salah satu dari RRT sudah tanda tangan, Dok. Inisial RHS. Masa Dokter tidak mau?”

Artinya?
Semua sudah diarahkan. Tinggal kamu ikut.

Di titik itu, di depan mereka, saya tidak sedang memilih sebagai individu.
Saya sedang memilih,
apakah saya layak menyebut nama Kartini hari ini atau tidak.

Karena Kartini tidak lahir untuk kompromi. Kartini tidak menulis untuk tunduk. Kartini tidak berdiri untuk ikut arus.
Kartini melawan ketika sistem menekan.

Dan hari itu, di kursi itu,
saya tahu satu hal:

Kalau saya tanda tangan RJ,
maka saya bukan Kartini.
Saya hanya bagian dari rantai yang menghentikan kebenaran.

Jadi hari ini, 21 April,
saya tidak memakai kebaya untuk menghormati Kartini. Celana cargo dan sepatu boots kesukaan karena saya orang lapangan. Lari sana sini dengan cepat dari satu tempat ke tempat.

Saya cukup melakukan satu hal yang mudah-mudahan lebih bernilai:
Saya menolak tunduk.

Dan hari ini saya memilih:
Tetap berdiri.
Tetap melawan.
Tanpa kompromi.

Dokter Tifa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar