Fahri Hamzah bela Seskab Teddy, tapi isinya dangkal

Tanggapan akun @BosPurwa:

Tulisan @Fahrihamzah itu hanyalah brosur pembenaran.

Secara isi, tulisannya tentang Seskab terliat rapi dan filosofis, tapi logikanya timpang dan berfungsi lebih sebagai pembenaran politis atas figur Teddy ketimbang analisis jernih tentang kelembagaan.

FH berkali-kali menulis “ini bukan soal individu, ini soal bagaimana sebuah pemerintahan bekerja”, tapi hampir seluruh narasi dipakai untuk menghaluskan dan melindungi satu individu: Teddy Indra Wijaya. Secara logika, itu kontradiktif: kalo benar bukan soal orang, mengapa seluruh argumen disusun sebagai pembelaan personal atas satu nama, bukan penjelasan kelembagaan yang konkret (aturan main, mekanisme kontrol, potensi abuse of power dll)?

FH menyebut Seskab sebagai “posisi yang bekerja dalam senyap namun menentukan arah” seolah-olah aktor tunggal yang menghubungkan “kehendak Presiden dengan mesin negara”. Padahal, dalam desain nyata pemerintahan, pengelolaan manajemen kabinet, koordinasi antar kementerian, dan penyusunan kebijakan adalah kerja kolektif Kemenko, Setneg, Setkab (yang sekarang dilebur), dan jajaran birokrasi, bukan panggung satu orang ajudan yang ‘naik kelas’.

Tulisan FH ini bukan sedang mendidik publik soal tata kelola negara, tapi membangun mitos seolah ada satu “tangan tak terlihat” bernama Teddy yang menjadi penerjemah tunggal visi Presiden. Itu bukan pendidikan politik, melainkan glorifikasi jabatan yang secara hukum justru sudah diturunkan levelnya (setara Eselon II) pasca pembubaran Setkab sebagai lembaga tersendiri.

Menyulap “kedekatan personal” jadi “kebutuhan institusional”

FH mencoba mengubah isu yang dipersoalkan publik, kedekatan personal Teddy yang ‘overacting’ dan selalu menempel presiden @prabowo, menjadi seolah problem salah paham publik tentang mekanisme institusional.

Ini pengalihan isu, yang dikritik publik adalah gaya tampil dan peran Teddy yang kelewat dominan di ruang publik, bukan fakta bahwa Seskab butuh akses ke Presiden.

“Kedekatan dengan Presiden bukan pilihan, melainkan kebutuhan” benar pada level fungsi, tapi FH sengaja menghapus satu variabel penting yaitu mekanisme kontrol dan batas wajar.

Pertanyaannya bukan perlu dekat atau tidak, tapi apakah yang dekat ini tunduk pada rambu tata kelola, atau justru jadi saluran informal yang tidak diawasi? Apakah kedekatan ini digunakan untuk memperlancar kerja kabinet, ato untuk ikut mengarahkan narasi publik dan menyerang pengkritik?

Saat Teddy muncul berulang kali di media membela Presiden, mengomentari pengamat, dan mengintervensi narasi politik, publik tidak sedang bingung soal konsep Seskab, publik sedang melihat ‘over exposure’ dan perilaku ‘overacting’ yang melampaui fungsi teknis manajemen kabinet. Tulisan FH menutup mata dari fakta ini dan malah menyalahkan persepsi publik.

Memutihkan masalah dengan kata-kata indah. Narasi “bekerja dalam senyap, tak terlihat saat koordinasi berjalan baik, baru disorot ktk ada salah paham” adalah romantisasi klasik birokrat kuat, kalo ada pujian itu jasa sistem, kalo ada kritik itu salah persepsi rakyat. Secara logika, ini model argumen yang kebal koreksi, apa pun yang terjadi, pejabatnya tetap selalu benar, publik yang selalu kurang paham.

FH mengulang kalimat “ini bukan semata soal individu” sambil menghindari satu hal yang mestinya paling penting yaitu transparansi dan akuntabilitas posisi. Kalo memang mau bicara lembaga, di mana pembahasan tentang; batas kewenangan Seskab setelah Setkab dibubarkan dan dilebur ke Kemensetneg,
siapa mengawasi Teddy, bagaimana mekanisme audit kebijakan, bagaimana mencegah kedekatan berubah jadi foul play kebijakan.

Tanpa itu, tulisan FH sekadar susunan kalimat bagus yang melapisi pertanyaan publik dengan permen, manisnya retorika. Ini tidak memecahkan masalah, ini hanya memoles wajah kekuasaan.

Mengabaikan fakta perubahan struktur dan derajat kekuasaan

Fakta hukumnya, Presiden Prabowo membubarkan Sekretariat Kabinet sebagai lembaga setingkat kementerian, dan tugas serta fungsinya dilebur ke Kementerian Sekretariat Negara. Artinya, secara struktur, Seskab bukan lagi pemain tunggal dengan rumah sendiri, tapi pejabat di dalam arsitektur Kemensetneg dengan hierarki dan batasan yang lebih ketat.

FH berbicara seolah kita masih hidup di era lama, di mana Setkab berdiri sebagai lembaga tersendiri yang menjadi think tank utama Presiden. Padahal konteks sekarang berbeda, ada menteri, ada biro, ada deputi yang memegang fungsi analisis dan koordinasi, dan Seskab yang dijabat Teddy hanyalah satu simpul di dalam jaringan, bukan ketua kelas di manajemen kabinet.

Dengan mengabaikan realitas itu, tulisan FH ini memperbesar bayangan Teddy melampaui porsi hukum dan organisasinya. Ini berbahaya, karena dari sisi persepsi publik, yang dibangun adalah figur yang setengah menteri, setengah king maker, padahal secara formal jabatan itu tidak seperti yg dilukiskan.

Rekam jejak publik Teddy bukan sekadar bekerja dalam senyap seperti narasi FH, justru sering tampil vokal menanggapi isu politik, ekonomi (inflasi, kritik kebijakan), dan menyerang pengkritik sampai memicu perang opini dan polarisasi. Ini bukan salah paham publik, ini konsekuensi logis dari gaya komunikasi yang agresif dan narsistik.

Seskab idealnya arsitek senyap kebijakan, kuat di memo, rapat, koordinasi, lemah eksposur ego pribadi. Yang diperlihatkan Teddy justru sebaliknya sangat kelihatan di panggung, sangat dominan di narasi, sampai menutupi garis tanggung jawab formal antara Presiden, Menko, dan menteri teknis.

Di titik ini, argumen FH bahwa “semakin dekat, semakin berat beban” terdengar sinis. Beban apa yang dimaksud? Beban memikul kebijakan, ato beban menjaga citra dan menyerang kritik? Kalo yang kedua, itu bukan beban kenegaraan, itu pilihan pribadi yang rela menjadi tameng politik.

FH seperti ingin meyakinkan publik bahwa yang kita lihat pada Teddy hanyalah konsekuensi dari posisi strategis Sekretaris Kabinet, padahal yang terlihat jelas justru sebaliknya, posisi strategis negara sedang dipakai untuk membesarkan satu figur.

👇👇

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. kalo kata fufufafa, prestasi si gendut kasus benih urang 🦐 lobster ini apa sih kok dulu hina bapak aku plonga plongo sekarang malah menjilat pantatnya?🤣