Jangankan Termul, Jokowi-Gibran pun Mungkin Tak Ada, Kalau Tak Ada JK

✍🏻Erizal

Maksud Jusuf Kalla (JK) mengatakan bahwa Jokowi jadi Presiden karena dirinya, bukan berarti JK-lah penentu nasib Jokowi. Maksudnya adalah agar termul-termul itu—istilah JK sendiri—jangan semena-mena terhadap dirinya. Melaporkan dirinya seenaknya saja dalam dugaan penistaan agama, setelah video ceramahnya dilakukan pemotongan.

JK itu bermaksud baik melaporkan Rismon dan 4 akun lainnya, agar tuduhan kepada dirinya sebagai penyandang dana kasus ijazah Jokowi tak melebar ke mana-mana. Termasuk, permintaan JK agar Jokowi membuka saja ijazahnya agar sesegera mungkin mengakhiri kasus yang sudah sangat melelahkan ini. Kira-kira begitulah maksud baik JK.

Tapi, sayangnya, maksud baik JK itu tak ditangkap dengan baik pula. Baik oleh Jokowi sendiri maupun para pendukungnya. Baik terkait pelaporan dan permintaan agar Jokowi membuka ijazahnya maupun pernyataannya bahwa Jokowi jadi Presiden karena dirinya. Kalau maksud baik saja sudah disalahartikan, bagaimana pula dengan maksud jahat?

Petinggi Projo dan PSI hampir senada mengatakan bahwa yang menjadikan Jokowi Presiden, bukan JK, tapi rakyat! Pernyataan ini tidak salah, tapi maksudnya bukan begitu. Jangan diadu-adu antara Jokowi dan JK, keduanya pernah saling membantu, untuk tujuan yang baik. Benar Jokowi dipilih rakyat, tapi kontribusi JK juga besar atas keterpilihan itu.

Termul-termul itu—meminjam istilah yang dipakai JK—harus sadar dan mengakui bahwa kontribusi JK terhadap Jokowi dan terhadap posisi mereka saat ini, tidak bisa dihilangkan begitu saja. Mana bisa Jokowi dulu menang melawan Prabowo-Hatta, kalau bukan JK pasangannya. Bahkan, seharusnya posisi Gibran saat ini masih ada jasa JK juga di situ.

Jadi, tak bisa juga semena-mena. JK melaporkan pihak yang memfitnahnya, justru JK pula yang diserang. Dianggap terbuktilah; dianggap cemenlah; padahal Jokowi juga melaporkan orang dengan dasar yang tidak jelas. Merasa direndahkan dan dihina, toh dimaafkan juga. Diminta baik-baik untuk menunjukkan ijazah, banyak betul asalannya.

Kasus ijazah Jokowi ini sudah terlalu banyak melukai orang. Bahkan, mungkin semua orang, kecuali pendukung fanatik Jokowi sendiri. Jokowi yang seharusnya merasa terluka, sudah terbukti tidak, sebab Rismon pun yang mulutnya jauh lebih kasar daripada Roy Suryo, yang katanya tak termaafkan, justru enteng saja dimaafkan Jokowi.

Kasus ijazah Jokowi ini sudah lari ke mana-mana, sementara ijazahnya itu sendiri; atau kesalahan dari Roy Suryo Cs itu sendiri, tidak kunjung jelas. JK melaporkan demi membela diri, disalahkan juga; mengaku berjasa terhadap Jokowi, disalahkan juga. Pokoknya, apa pun respon terhadap ijazah Jokowi ini, orang yang merespon yang disalahkan; tapi kasus ijazah itu sendiri entah kapan akan berakhir.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *