Malaysia itu sebenarnya gak ada apa-apanya dibandingkan dengan Indonesia!

✍🏻AZWAR SIREGAR

Empat hari di Kuala Lumpur kemarin, kami banyak ketemu dengan sesama orang Indonesia yang mencari nafkah disana.

Pertama, dua kali saya sapa perempuan separuh baya dan gadis muda yang bekerja sebagai Cleaning Service di Mall Suria KLCC.

Dua kali saya ke Toilet, ketemu dengan Perempuan Cleaning Service, dengan pede saya ajak ngobrol bahasa Indonesia.

Benar saja, sekalipun logat mereka sudah mirip Upin-ipin, keduanya dari Jawa Timur.

Kedua, sewaktu berenang di Hotel. Petugas wanita yang menjaga Cafe Gazebo, juga ternyata dari Wonosobo. Sekali lagi, kemungkinan karena sudah belasan tahun di Malaysia, logatnya sudah mirip Ipin.

Yang membuat saya sedih, ketiganya memanggil saya dengan sapaan “Bos”. “Bos melancong pasti banyak wang”. “Selamat berlibur, bos”.

Mungkin tidak separah dulu. Tapi “kelas sosial” itu cukup nyata di sana.

Sikap pribumi (melayu) disana kepada anak bangsa kita yang mencari nafkah juga sepertinya memang sedikit merendahkan.

Ada belasan kali saya naik Grab. Sopirnya kalau ngga Melayu ya Tionghoa. Begitu tahu tamu yang mereka jemput orang Indonesia, ya sikapnya seperti kurang ikhlas mengantar ke tujuan.

Tapi giliran dikasih tips 5-10 ringgit aja, sikap mereka langsung berubah. Baru mau senyum dan berterima kasih. Hleh, itu cuma 20 sampai 40 ribu aja. Kita di Indonesia biasanya malah kasih tips pengemudi ngga pernah kurang dari 50 ribu!

Sekali waktu dari pinggiran Kuala Lumpur kami dapat sopir Melayu. Saya tanya-tanya harga Rumah dan Apartemen. Katanya mahal sangat. Ngga sanggup terbeli.

Lah, di Pusat Kota Kuala Lumpur harganya cuma 600 ribuan Ringgit. Lah, itu kan cuma 2 miliaran. Lah, di SCBD harga Apartemen mulai 5 miliaran kan?

Kalau cuma 2 miliaran, itu harga rumah di kelas menengah di Kota Samarinda, pin!

Ketika sampai antar kami ke Hotel, dia tanya berapa rate/tarif hotel. Saya jawab murah aja. Cuma lima ratusan ringgit permalam (sekitar Rp 2 juta/malam). Dia terkejut. Dia pikir cuma 100-200 ringgit aja.

“Lima ratus ringgit itu mahal”

Sialan, belum tahu ya kalian kalau Pejabat kami yang datang Liburan, eh kunjungan sambil liburan ke Luar Negeri. Harga kamar mereka puluhan sampai ratusan juta permalam!

Bilang sama Kak Ros mu itu, orang Indonesia itu kaya-kaya. Ratusan ribu TKI/TKW kami yang datang ke Negara kalian sebenarnya agen rahasia kami. Mereka pura-pura kerja jadi Cleaning Service atau Asisten Rumah Tangga. Sebenarnya mereka sedang bertugas untuk Negara.

Nah, perempuan terakhir yang kami ketemu adalah Boru Tanjung. Jualan Es Tebu dekat Masjid India. Saya tanya apa kedai punya dia, ternyata punya kakak iparnya. Menikah dengan orang Malaysia.

Katanya orang Indonesia tidak boleh punya usaha sendiri di Malaysia. Mosok iya? Ngga mungkin dong Riza Chalid jadi Petugas SPBU disana kan? Paling ngga dia punya puluhan SPBU atau malah punya Kilang Minyak juga di Malaysia dalam pelariannya.

Nah, si Boru Tanjung langsung saya tahu karena logatnya. Sebagai sesama orang Batak, saya paham. Sekaya apapun orang Batak, lidahnya akan tetap kaku. Lihat saja Bang Hotman!

Atau selama apapun orang Batak diluar negeri, lidah kami tidak akan bisa menyesuaikan diri. Tetap saja susah membelokkan lidah.

Kalau ingat Nadya Hutagalung, banyak iklannya kan. Tapi jarang ngomong. Sekali ngomong “bah boru batak rupanya. Kok bisa cantek kali ya…”

Kemakmuran Malaysia

Nah sekarang kita cerita kemakmuran Malaysia. Pendapatan perkapita mereka tiga sampai empat kali lipat dari rakyat kita.

Ada yang berpendapat karena luas wilayah mereka lebih kecil. Khusus Malaysia Semenanjung, luasnya memang cuma Provinsi Sumatera Utara dengan Riau. Jadi mungkin lebih mudah diatur.

Kalau itu poinnya, berarti sudah waktunya kita membuka ruang diskusi memperluas konsep otonomi. Jangan-jangan konsep Negara Federal (seperti yang pernah diusulkan Prof. Amien Rais -red) lebih cocok untuk bangsa kita.

Secara SDM apalagi SDA, bangsa kita ngga kalah kok dari Malaysia. Bahkan bisa dikatakan kita jauh lebih kaya dan jauh lebih hebat.

Malaysia punya sawit dan minyak. Kita juga punya dan melimpah. Bukan cuma Aceh, Sumut, Riau dan Palembang. Tapi juga Jawa dan Kalimantan.

Kalau digabung, bisa 10 kali lipat dari milik Malaysia tuh….

Apa yang ada di Malaysia, kita juga punya dan jauh lebih melimpah. Tapi sebaliknya yang kita punya punya belum tentu ada dimiliki Malaysia.

Misalnya Tambang Emas sebesar Freeport. Malaysia ngga ada tuh. Atau Tambang Nikel sebesar yang di Sulawesi. Atau Tambang Batubara sebesar di Kalimantan.

Mereka punya orang seperti Pak Bahlil? Ngga ada kan…

Jadi maaf, Malaysia itu sebenarnya ngga ada apa-apanya dibandingkan dengan Indonesia!

Tapi sistem Pemerintahan mereka benar. Perdana Menteri yang menjalankan Pemerintahan tetap tunduk kepada Raja Malaysia yang bukan dipilih rakyat.

Lah kita, Presiden Kepala Pemerintahan. Juga Kepala Negara. Yang mengawasi siapa? Anggota DPR? Lah, pimpinan DPR tunduk kepada Ketua Partai. Ketua Partainya jadi Menteri. Pembantu Presiden juga. Ini cuma banyolan!

Jadilah Presiden Indonesia lebih berkuasa ketimbang Raja. Hanya konstitusi yang membatasi Presiden Indonesia tidak berkuasa seumur hidup layaknya Raja.

Lihat bagaimana dulu Bung Karno hampir saja jadi Presiden seumur hidup. Atau Pak Harto berkuasa puluhan tahun. Atau Pak Jokowi hampir tiga periode.

Ayolah. Sampai kapan kita terus berada dibawah bayang-bayang Malaysia. Sampai kapan kita jadi Raksasa Asia Tenggara tapi secara ekonomi dan kesejahteraan jauh dibawah Singapura.

(fb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

    1. af alias aNTEK fUFUFAFA alias aNAK fUCK dan si Anonim BabRun🐷 yang jadi pendukung garis kerasnya Mbah Wowo omon omon memang begitu otaknya. Junjungannya disenggol dikit mereka langsung tantrum gak karuan‼️🤣

  1. bayangkan negara sebesar Indonesia masa kalah sama negara sistem kerajaan 👑 yang mana mengkritik negara dan keluarga 👪 raja bisa dipenjara bahkan ke pm padahal sistem pemerintahan mereka gak bersih amat. Polis diraja dan imigresen juga suka terima uang 💵 suap sama seperti di Indonesia. Mungkin secara indeks negara korup dan penerapan sistem good goverment mereka kalah dari Brunei,Singapura dan Australia. Tapi kalo sama Indonesia ya lebih unggul mereka karena yang dilawan negara Republik kkn korupsi bancakan konspirasi yang hanya menguntungkan segelintir pihak elit saja. Termasuk timnas Indonesia u17 kemarin kalah sama malaydesh 1-0 padahal sesama main jelek 👎 ternyata Indonesia lebih jelek lagi karena pakai pemain titipan bayaran. Sudah gitu gak lolos dari penyisihan aff-u17, pelatih kurniawan dwi yulianto (timnas suap judi genting highlands era kegelapan,alphard, rumah ,di como fc cuma tukang pungut bola ⚽ sebagai mantan primavera, di sabah fc dan psps Pekanbaru dipecat malah dipungut dipertahankan oleh kirick thohir ketum pssi suap judi selera towel tarkam tolol sampah yang kasih arab Saudi ke piala dunia 2026 round 4 🚯 gak pernah juara dengan inter) istrinya orang malaysia bernama qana mungkin juga memengaruhi seperti saat Indonesia kalah 0-1 lawan bulgaria wasit malaysia yang mana membatalkan tekel kevin diks awalnya dianggap bersih lalu diganti pelanggaran keras penalti oleh var.