MUMET

🇮🇷 🇺🇸Trump mendesak Iran agar kembali ke meja runding ke Pakistan kamis besok. Tapi belum ada respon dari Iran.

Iran tidak percaya AS sama sekali, bahkan jika Delegasi AS pergi ke Pakistan, Iran belum tentu akan hadir. Kecuali AS merubah posisinya.

Iran menuntut blokade Selat Hormuz diakhiri, dan AS perlu menghormati hak hak Iran. Hal ini disampaikan langsung oleh ketua parlemen Iran Muhammad Baqer Qalibaf kepada Pakistan. Iran tidak akan melakukan negosiasi dibawah tekanan.

Trump lebih membutuhkan pergi ke Pakistan, Trump memberikan tekanan ini karena situasi sebenarnya adalah kondisi AS yang lemah, Trump butuh keluar dari perang tapi perlu dicitrakan menang di media.

Karena sebenarnya yang terjadi bukanlah soal militer atau kelanjutan perang, tapi persoalannya adalah kondisi ekonomi. AS inflasi, harga naik, perang tidak populer, dukungan untuk Trump menurun drastis, tekanan sekutu yang semakin kuat karena ekonomi.

Bahkan jika Selat Hormuz masih tertutup satu dua pekan lagi, dunia akan mulai teriak, ekonomi akan guncang total jika perang ini dilanjutkan. Dan semua ini akan menjadi tekanan ke Trump secara langsung.

Trump butuh segera keluar dari perang ini, tapi bagaimana agar tetap terlihat menang. Sedangkan Iran tidak dalam posisi lemah, Iran siap perang, siap damai, tapi poin penting Iran adalah, hak hak Iran harus dihormati, dan Iran menolak tunduk.

Iran mengatakan tidak peduli ancaman, tidak peduli tenggat waktu, dan tidak peduli retorika Trump, Iran tidak akan tunduk kepada tuntutan yang irasional. Iran baru mau diskusi jika kondisi di lapangan memungkinkan dan AS memperlihatkan niat baik dan rasa hormat terhadap bangsa Iran.

Ini terlihat di lapangan, Iran saat ini lebih banyak menyibukkan diri dengan memperbaiki kemampuan tempur, restok balistik, produksi drone, kordinasi dengan proxi dan aliansi, ketimbang membicarakan dialog. Trump lah yang butuh negosiasi.

Jika AS masih ngotot soal pelucutan nuklir Iran, ngotot soal Uranium, ngotot masih blokade Selat Hormuz, dan tetap ngotot meminta Uranium Iran harus disita, ini akan jadi mimpi AS selamanya, Iran tidak akan menyerah.

IRGC sama sekali tidak memberikan sinyal negosiasi, jikapun negosiasi mau dilanjutkan, IRGC menetapkan syarat kepentingan Iran diatas segalanya. Tidak ada kompromi.

Saat ini AS masih bersikap seperti pemenang, menekan, mengancam, dan terus menerus bersikap arogan. Walaupun kondisi di lapangan sebaliknya. Semakin Trump berkoar koar, semakin terlihat posisinya lemah, dan Iran memahami realitas ini.

Ketua Komisi pertahanan di parlemen Iran misalnya menyebut, semakin Trump banyak bicara semakin Iran tidak peduli, semakin banyak Trump update status media sosial, semakin Iran yakin sebenarnya AS sudah tidak punya peluru.

Baru kali ini AS tidak dihargai oleh lawan, baru kali ini ancaman presiden AS dianggap angin lalu, dan baru kali ini AS dapat lawan yang sama sekali tidak menganggap AS sebagai super power.

Kalau AS mencoba melakukan serangan dan pengeboman lagi ke Iran setelah masa gencatan senjata selesai, maka Iran akan melakukan pengeboman kembali ke Israel, AS, dam semua sekutunya. Plus bab Al Mandeb akan ditutup menyusul Hormuz.

Hotel hotel di Pakistan memang telah disiapkan, pengamanan sudah siap, tapi panitia nya adalah AS, AS yang sangat ingin negosiasi karena mereka yang butuh de eskalasi. Tapi AS terus bersikap tidak tau diri, dia yang butuh tapi dia yang mengancam.

Setelah masa gencatan senjata selesai, tidak ada pilihan bagi Iran, AS menerima syarat Iran dan menghormati hak hak bangsa Iran, atau dunia akan masuk fase baru dengan pertempuran yang lebih brutal dan kondisi global ditepi jurang. AS harus mengubur mimpinya selamanya jika ingin Iran menyerah.

(Tengku Zulkifli Usman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar