Trump Kembali Ancam Lenyapkan Iran, Menlu Iran Tanggapai Santai

🇮🇷Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Iran tidak akan bernegosiasi di bawah “bayang-bayang ancaman”. Ia menegaskan bahwa diplomasi hanya dapat membuahkan hasil jika didasarkan pada rasa hormat dan kepentingan bersama, bukan melalui “pendiktean” dari Washington.

Bersamaan dengan itu, Ketua Parlemen Iran dan negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa Teheran telah menyiapkan “kartu baru di medan perang” jika negosiasi dengan Amerika Serikat gagal. Peringatan ini muncul di tengah ketegangan yang memuncak menjelang berakhirnya gencatan senjata dua minggu pada hari Rabu besok.

Ancaman baru Trump

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memanaskan tensi geopolitik global. Menjelang berakhirnya gencatan senjata rapuh dengan Teheran, Trump malah melontarkan ancaman keras yang memicu kekhawatiran pecahnya kembali perang terbuka antara AS dan Iran.

Dalam percakapan dengan wartawan PBS News, Trump memperingatkan bahwa “banyak bom akan mulai meledak” jika tidak ada kesepakatan yang tercapai sebelum tenggat Selasa malam. Pernyataan ini mempertegas sikap agresif Washington di tengah negosiasi damai yang masih abu-abu.

Ancaman tersebut bukan yang pertama. Sehari sebelumnya, kepada Fox News, Trump bahkan menyebut “seluruh negara akan diledakkan” jika Teheran menolak menandatangani kesepakatan. Ia juga mengincar infrastruktur vital Iran seperti jembatan dan pembangkit listrik sebagai target serangan.

Di sisi lain, Trump tetap membuka pintu negosiasi, meski dengan nada keras. “Saya tidak akan membiarkan mereka memaksa Amerika Serikat untuk membuat kesepakatan yang tidak sebaik yang seharusnya,” tulisnya di Truth Social.

Namun hingga kini, detail kesepakatan masih belum jelas. Pemerintah AS bersikukuh Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, sekaligus menuntut pembukaan penuh Selat Hormuz, yakni jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Penutupan de facto selat tersebut sejak perang pecah pada 28 Februari telah mengguncang pasar energi global. Harga minyak melonjak tajam, memberi Iran daya tawar strategis sekaligus memicu respons keras dari AS berupa blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Trump bahkan mengklaim blokade laut yang dilakukan militer AS itu “benar-benar menghancurkan Iran” dan menegaskan tidak akan mencabutnya sebelum kesepakatan tercapai.

Sementara itu, upaya diplomasi masih berjalan di tengah ketidakpastian. Delegasi AS dikabarkan bersiap menuju Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan putaran kedua perundingan damai setelah pertemuan pertama selama 21 jam berakhir tanpa hasil.

Delegasi tersebut akan kembali dipimpin Wakil Presiden JD Vance bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Meski demikian, partisipasi Iran masih menjadi tanda tanya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan belum ada rencana menghadiri negosiasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar